Coba utak-atik foto di Flickr. Dan inilah hasilnya. Just a few, cuma sekedar mau tau aja gima cara edit foto. Wuih ternyata perlu imajinasi dan kudu kreatip. Dan inilah hasil editan amatiran...hahaha... Ga kreatip and ga imajinatip...heehehe..
Selasa, Oktober 28, 2008
Kamis, Oktober 23, 2008
Dan Devi pun Mengambil Kursus itu...
Ya, akhirnya devi pun ikut kursus bikin kue. Sesuai dengan kemampuan, kursus yang diambil pun judulnya mengenal Cake Dasar. Materi yang diajarkan adalah cake-cake dasar yang nantinya bisa dimodifikasi menjadi berbagai macam kue. Kursus ini devi ambil di Natural Cooking Club (NCC). Lokasinya di Matraman di rumah sang pengajar, suhunya cooking dan baking, Fatma Bahalwan. Sebenarnya NCC juga mengadakan kursus di dua tempat lainnya, yaitu di Toko Bahan Kue (TBA) Titan di Fatmawati dan TBA Jojo di Bintaro. Padahal devi lebih deket yang ke Fatmawati, tapi karena dari segi waktu dan materinya paling cocok yang Matraman maka devi ngambil yang di sana. Kalo mau tahu tentang kursus-kursus NCC dan jadwalnya bisa dilihat di sini.
Ini adalah kursus memasak pertama yang devi ikuti, dan agak sedikit terkejut karena ternyata tempatnya adalah di sebuah rumah. Devi kira tempatanya itu toko-toko atau ruko. Sebelum pergi ke sana devi tanya dulu ke Ira, yang sudah lebih lama berguru di sana, arah serta patokan menuju ke sana. Ternyata ga sulit-sulit amat. Sempet bingung sih rumahnya yang mana tapi kalau nanya orang sana pasti tau dimana rumah yang suka jadi tempat belajar masak. Begitu juga devi yang baru mau bilang numpang nanya tau-tau orang yang ditanya udah nebak duluan mau nyari tempat yang buat belajar masak ya?...hehehe... Mungkin udah belasan orang nanya pertanyaan yang sama ke dia hari itu.
Karena tempat kursusnya di rumah itu jadi suasannya lebih enak dan santai. Yang ngajar pun ngajarnya enak dan jelas. Dan yang lebih penting dia suka ngasih tips-tips yang gampang untuk diikuti. Ketahuan sekali kalau bu Fatma itu orang sudah malang melintang di dunia masak memasak ini. Berbagai pertanyaan bisa dijawabnya dengan mudah, dan ya itu selalu disertai dengan tips-tips. Melihatnya menguleni adonan, caranya memecahkan telur, gerakannya meraih berbagai peralatan dan apa yang harus dilakukan selanjutnya kentara sekali kalau sudah ratusan kue dihasilkan dari tangannya yang terampil. Duh klo liat bu Fatma beraksi bikin kue kayaknya gampang aja dan pasti jadi dengan sempurna. Padahal yang dipraktekin tuh cake-cakenya aja belum apke hiasan, tapi udah keliatan cantik aja. Dan yang pastinya hasilnya rapi.
Pulang dari sana bawaannya pingin langsung praktek, tapi apa daya dua minggu ke depan setelah kursus itu devi lagi ngungsi di Pulo Gebang. Eyang sejak tanggal 24 Oktober pergi ke Palembang dan baru balik tanggal 22 Oktober. Karena kita baru bisa pindah-pindahannya di weekend aja maka jadilah kita ngungsi selama dua minggu. Waktu itu rasanya gemesss banget ga bisa langsung praktek karena di Pulo Gebang ga ada "peralatan perang" buat baking2-an". Yo wis, sabar aja. Di Lebak Bulus pasti jadi ajang pelampiasan bikin kue....hehehe...
Lebih lengkap tentang kursus yang devi ikuti waktu itu bisa dilihat di sini.
Ini adalah kursus memasak pertama yang devi ikuti, dan agak sedikit terkejut karena ternyata tempatnya adalah di sebuah rumah. Devi kira tempatanya itu toko-toko atau ruko. Sebelum pergi ke sana devi tanya dulu ke Ira, yang sudah lebih lama berguru di sana, arah serta patokan menuju ke sana. Ternyata ga sulit-sulit amat. Sempet bingung sih rumahnya yang mana tapi kalau nanya orang sana pasti tau dimana rumah yang suka jadi tempat belajar masak. Begitu juga devi yang baru mau bilang numpang nanya tau-tau orang yang ditanya udah nebak duluan mau nyari tempat yang buat belajar masak ya?...hehehe... Mungkin udah belasan orang nanya pertanyaan yang sama ke dia hari itu.
Karena tempat kursusnya di rumah itu jadi suasannya lebih enak dan santai. Yang ngajar pun ngajarnya enak dan jelas. Dan yang lebih penting dia suka ngasih tips-tips yang gampang untuk diikuti. Ketahuan sekali kalau bu Fatma itu orang sudah malang melintang di dunia masak memasak ini. Berbagai pertanyaan bisa dijawabnya dengan mudah, dan ya itu selalu disertai dengan tips-tips. Melihatnya menguleni adonan, caranya memecahkan telur, gerakannya meraih berbagai peralatan dan apa yang harus dilakukan selanjutnya kentara sekali kalau sudah ratusan kue dihasilkan dari tangannya yang terampil. Duh klo liat bu Fatma beraksi bikin kue kayaknya gampang aja dan pasti jadi dengan sempurna. Padahal yang dipraktekin tuh cake-cakenya aja belum apke hiasan, tapi udah keliatan cantik aja. Dan yang pastinya hasilnya rapi.
Pulang dari sana bawaannya pingin langsung praktek, tapi apa daya dua minggu ke depan setelah kursus itu devi lagi ngungsi di Pulo Gebang. Eyang sejak tanggal 24 Oktober pergi ke Palembang dan baru balik tanggal 22 Oktober. Karena kita baru bisa pindah-pindahannya di weekend aja maka jadilah kita ngungsi selama dua minggu. Waktu itu rasanya gemesss banget ga bisa langsung praktek karena di Pulo Gebang ga ada "peralatan perang" buat baking2-an". Yo wis, sabar aja. Di Lebak Bulus pasti jadi ajang pelampiasan bikin kue....hehehe...
Lebih lengkap tentang kursus yang devi ikuti waktu itu bisa dilihat di sini.
Rabu, Oktober 08, 2008
Qaisha, the Stuntbaby : Cerita Idul Fitri 1429H
Yup, itulah julukan Qaisha sekarang ini. Usianya belum lagi genap 17 bulan, tapi polahnya sudah bikin kami berpikir nanti besarnya Qaisha bakal jadi pemanjat tebing atau stuntman eh stuntwoman. Bagaimana tidak? Segala sesuatunya harus dibuat menantang bagi dia. Naik motor tidak lagi bisa duduk manis, sekarang harus ada aksi-aksi akrobat macam satu kaki di stang
motor, satunya di tempat duduk dan satu tangan melambai-lambai. Duduk di troley yang ada mobil-mobilannya jangan harap mau masuk dengan cara normal dari pintu yang terbuka, tapi memanjat dari pintu yang satunya (bukan untuk masuk) justru jadi pilihannya. Atau juga aksi-aksinya yang tiba-tiba meloncat keluar dari troley tadi tanpa ba bi bu.
Devi dan ayah baru menyadari bahwa ternyata Qaisha termasuk anak yang tidak bisa diam. Setelah diobservasi mendalam (ehem...ehem..) ternyata ia hanya bertahan diam paling lama 15 detik itupun jika lagi nenen. Selebihnya jangan harap bisa melihat dia duduk manis. Waktu makan pun harus diiringi aksi naik turun kursi biar dia mau makan. Oma cantik yang dari Palembang juga sempat gemas melihatnya ketika berkunjung waktu lebaran kemarin. Masih mending jika Qaisha sudah bisa berjalan lurus dengan baik dan benar, tapi dia sudah terkenal dengan bayi yang tidak melihat jalan kalo lagi jalan dan lari (apa siiihhh??) alias nabrak sana sini, kesandung ini itu. Kami sepakat tiga jahitan (operasi) tampaknya hanya menunggu waktu saja...hehehe... (Amit-amit, mudah-mudahan enggak ya).
Dari umur 11 bulan Qaisha sebenernya paling takut sama ayam. Dia takut denger suara kokokan ayam yang tiba-tiba. Tapi sekarang, ga tau kenapa, dia malah paling sering ngomong ayam. Klo ayah pulang dan kita tanya itu siapa yang pulang, jawabnya ayam, klo lagi main-main sendiri tiba-tiba dia datang ke devi lalu bilang ayam, atau bahkan tidak ada apa-apa tiba-tiba satu kata itu meluncur begitu saja tanpa ada hujan atau angin.
Qaisha juga sudah pandai menggerak-gerakan tangannya untuk menunjukkan suatu binatang, seperti kelinci dengan menaruh kedua tangannya di atas kepala, meliuk-liukkan satu tangan sambil mendesis pelan untuk menunjukkan ular, berkata aum untuk harimau, puss untuk kucing, mbee untuk kambing dan mengangguk-anggukkan kepala untuk kuda (seperti orang yang lagi naik kuda maksudnya).
Keahlian mimiknya berlaku untuk ekspresi marah dengan mengeluarkan suara hmmm, mengedip-ngedipkan mata untuk mata genit, suara ehe..ehe.. untuk nangis, dan yang paling menggemaskan ekspresi gregetnya. Devi paling seneng liat dia begitu. Luchuu! Tapi paling seneng klo liat dia denger suara adzan. Dia langsung mengangkat tangan sebagai posisi berdoa lalu mengusapkan ke wajah yang berarti amin. Meskipun lagi tidur klo adzan terdengar dia langsung membuka mata dan mengangkat tangan. Kalau adzannya selesai dia balik tidur lagi deh.
Sekarang berlanjut ke cerita libur lebaran yang baru lewat ini. Idul Fitri tahun ini sebenernya biasa saja. Devi, ayah dan Qaisha hanya pergi mengunjungi embah di sunter pada hari pertama lebaran. Kami tak sempat berkunjung ke rumah oma yang di Bogor yang setiap tahun devi kunjungi waktu lebaran sebelum devi menikah. Tapi yang membuat istimewa adalah keputusan devi untuk cuti cukup lama dari seminggu sebelum lebaran dan tambahan satu hari lagi setelah cuti bersama. Total libur devi kurang lebih 2 minggu. Lumayan lama kan? Dan seluruh waktu itu devi puas-puasin main sama Qaisha. Tapi ya begitulah, kalo ada ibunya dia lebih banyak mentil (maap)...hehehe...
Maksud hati libur puasa mau masak berbagai kue, tapi cuma berjalan selama dua hari saja, selebihnya devi kurang sehat sehingga menguapkan semangat memasak devi. Tapi meski begitu,
satu puding yang devi bikin dan sempat dikasih tetangga sempet juga lho ditanyain resepnya..hehehe.. Awal Ramadhan sempet niat mo bikin kue istimewa untuk lebaran nanti, tapi setelah sempat cake-nya gagal dua kali, jadi urung deh. Akhirnya balik lagi mesen kue Ira yang dulu pernah devi pesen juga untuk ultahnya Qaisha. Kali ini requestnya rada-rada istimewa, karena devi pingin sesuatu yang beda. Devi akhirnya pesen cupcake bertema Idul Fitri, sekalian iseng mo bikin tantangan buat ira...hehehe... Walhasil oke juga lho. Cupcakenya ga mengecewakan meskipun sempet ada kendala pengiriman.




Malam takbiran Devi, ayah dan Qaisha menghabiskan waktu dengan bermain kembang api dan main lari-larian di mesjid. Malam takbiran di kompleks rumah devi memang sudah jauh berkurang kemeriahannya dari waktu dulu devi masih kecil. Tak ada lagi orang yang keliling menabuh beduk dan meneriakkan takbir seperti dulu. Karna tahu akan sepi makanya devi sudah rencana mau bakar kembang api pas malam takbiran biar sedikit rame. Tapi kayaknya bakal lebih rame klo pasang petasan juga...hehehe..
Seperti tahun lalu devi juga tidak bisa ikut sholat Ied karena harus menunggui Qaisha. Qaisha masih belum bangun waktu eyang dan ayah siap-siap berangkat sholat Ied. Udah ketebak Qaisha bakal bangun siang karena malamnya dia kelelahan lari-larian di masjid sehabis main kembang api. So, sambil menunggu ayah dan eyang balik dari sholat Ied devi coba bangunin Qaisha. Agak-agak susah awalnya dan qaisha sempet ngambek waktu tidurnya diganggu, tapi devi punya senjata ampuh buat nenangin dia, yaitu nenen...hehehe.. Sambil nenen devi ajak ngobrol dia tentang hari apa hari itu, mau ada acara apa aja hari itu dan kenapa Qaisha harus segera siap-siap. Setelah itu devi ajak main ciluk ba. Qaisha paling seneng main ciluk ba. Meskipun lagi nangis atau lagi apa, tapi klo diajak main ciluk ba moodnya dia langsung berubah, dia langsung ketawa-ketawa memperlihatkan gigi-ginya yang semakin lengkap.
Pas ayah dan eyang pulang Qaisha udah siap dengan baju barunya. Udah mandi, udah wangi, udah rapi dan siap buat halal bi halal di mesjid. Thanks untuk Mama Bintang & Luna, Qaisha punya baju lebaran yang indah tahun ini. Baju muslim Pink dengan jilbab senada yang lucu. Sejak mesjid di dekat rumah berdiri tradisi keliling ke rumah-rumah tetangga sudah tidak ada lagi, sebagai penggantinya kita semua kumpul di mesjid dan bersalam-salaman di sana. Kecuali klo ada yg telat atau ga bisa datang ke mesjid baru deh dia keliling mengunjungi rumah tetangga satu persatu. Kayak tahun lalu devi ga bisa ikut sholat ied dan halal bi halal ke mesjid karena Qaisha yang belum bangun juga akhirnya harus keliling sendirian. Untung Santi, tetangga devi, ketika itu juga ga sempat ikutan acara ke mesjid. Maka jadilah kita bertiga -Devi, Santi dan Qaisha- keliling ke dua RT.
Sowan ke rumah saudara hanya kami lakukan di hari lebaran pertama saja. Hari kedua dan seterusnya kami habiskan dengan bermain-main bertiga. Selama liburan itu Qaisha juga menikmati naik delman. Kalau denger suara kerincingan delman dia akan langsung menunjuk-nunjuk keluar. Sepertinya Qaisha memang suka dengan kuda. Kalau main di tempat permainan Carefour dia pasti naik permainan kuda atau naik komidi putar. Tapi untuk naik komidi putar kita nunggu dulu ada yang mau masukin koin, jadi numpang maksudnya...hehehe...(emang dasar devi orang tua ga modal...hehehe..).
Nah di hari keempat libur lebaran kita sempet main ke PI Mall dan main di Fun World-nya.
Dibandingkan dengan tempat permainan Carefour, di sini mainannya lebih banyak dengan sistem koin yang lebih canggih. Ga perlu masukin koin, tapi harus gosokin kartu. Jadi kita diharuskan beli kartu perdana dulu seharga minimal Rp10.000. Klo habis bisa diisi ulang lagi. Devi perhatikan permainan di sana minimal seharga Rp2.500 sampai yang paling mahal Rp25.000 untuk tempat permainan yang ada kolam bolanya. Di permainan yang ada kolam bolanya ini anak-anak bisa bermain selama setengah jam. Untuk kartu perdananya devi beli Rp20.000 tadinya maksudnya mau main di kolam bola itu, tapi waktu beli kartu perdananya devi masih belum tahu harganya, jadi masih kurang deh. Mau isi ulang lagi tapi kok males ya. Ya sudah akhirnya kita putusin naik komidi putar. Yang ini namanya lebih keren : Merry Go Around. And guess what? Untuk naik itu menghabiskan setengah dari kartu perdana yang devi
beli. Wah klo naik di carefour bisa naik tiga kali tuh. Tapi berhubung komidi putar ini pilihan kudanya lebih banyak dan ada juga yang berbentuk mangkok, tidak hanya kuda, serta dengan besar putaran yang juga tiga kali lebih besar dari di Carefour kita sih puas-puas aja. Hahaha...ternyata devi punya modal juga!

Abis naik komidi putar, kita naik kuda yang lain. Kali ini kuda yang dinaikin gerakannya maju mundur aja. Ada dua pilihan kuda yang kecil dan yang besar. Qaisha pilih yang lebih besar dong, kan lebih menantang; menantang untuk jatuh maksudnya...hehehe... Abis itu Qaisha naik mobil pemadam kebakaran. Kali ini maksudnya supaya dia ga bolak-balik manjat mobil kebakaran itu jadi mending kita naikin ke mobil biar dia berhenti bergerak sebentar. Lanjut ke permainan berikutnya kita kembali lagi ke kuda lagi tapi kali ini saudaranya kuda yang terkenal bodoh alias keledai. Untuk yang
satu ini harus sedikit berbeda dan dibikin lebih menarik buat Qaisha. Bukannya lihat kedepan dan berpegangan pada leher si keledai, Qaisha malah duduk menghadap belakang dan berpegangan pada beban yang dipikul keledai. Alasannya : biar dapet view yang berbeda...hahaha... Permainan yang terakhir yang dinaikin adalah motor. Kali ini sih buat ngabisin isinya kartu perdana aja..hehehe..
Mempertimbangkan tingkah Qaisha yang ga bisa diam akhirnya kita putuskan untuk melepas Qaisha di lapangan bola. Udah sejak Ramadhan kepikiran buat ngajak main Qaisha di lapangan bola dekat pasar. Kan pasti asik tuh, mau jatuh, mau guling-gulingan, mau lari-lari sok wae lah, lapangannya kan juga lumayan luas. Maka sore hari di hari kelima libur lebaran devi dan ayah akhirnya jadi juga main-main di lapangan bola itu. Syukurnya lapangan bolanya belum ada yang mainin jadi asyik lah kita bertiga main-main di lapangan berumput itu. Senang sih, tapi kita cuma sebentar karena hari sudah mulai sore dan Qaisha belum bobo siang jadi dia kelihatan ga terlalu bersemangat.
Di hari kelima libur lebaran itu paginya devi pergi menjenguk teman kuliah yang baru punya anak, Arief. Karena tak terlalu jauh devi pun membawa Qaisha. Kita berdua pergi dengan 3 orang teman kuliah devi lainnya; Tomo, Eine dan Hendriyan. Ayah tidak ikut karena mau ke dokter. Sepanjang perjalanan di angkot Qaisha hanya diam saja. Rupanya jalan-jalan dan pemandangan yang baru dilihatnya membuatnya diam dipangkuan devi. Di rumah Arief awalnya Qaisha masih malu-malu, ga mau lepas dari devi. Tapi ga berapa lama kemudian dia sudah sibuk bolak-balik lari ke ruang tamu dan kamar tempat si dedek yang baru lahir. Lalu sibuk naikin sepeda yang ada di situ. Hmm.. kayaknya untuk adabtasi tempat baru Qaisha ga butuh waktu lama. Syukurlah dia tidak termasuk anak yang terlalu pemalu.
Hari Minggu pertama setelah lebaran kita pergi ke pasar Mayestik. Karena eyang kangen sama bakso yang ada di sana, maka jadilah kami tiga genarasi -eyang, devi dan Qaisha- pergi jalan-jalan ke sana. Di bis Qaisha jatuh tertidur, bahkan ketika sampai di Mayestik pun dia masih juga tidur. Ada untungnya juga Qaisha tidur, jadi devi bisa makan. Kalo dia bangun, kita malah akan sibuk jagain dia ke sana kemari. Setelah selesai makan baru deh kita bangunin Qaisha. Awal-awalnya dia masih bingung, ga ngenalin tempat. Ga berapa lama kemudian mulai lagi deh pecicilan ke sana kemari.
Liburan yang menyenangkan! Menyenangkan karena devi bisa banyak bermain dengan Qaisha. Qaisha sudah semakin besar sekarang. Wataknya sudah mulai terlihat. Devi dan ayah mulai agak-agak kewalahan menghadapi Qaisha yang suka tiba-tiba ngambek kalau keinginannya ga diturutin. Entah sudah berapa kali dia melakukan aksi tidur di lantai Carefour atau di jalan kalau apa yang dia inginkan tidak dipenuhi. My Qaisha sudah punya keinginan sendiri. Tapi sekarang kalau diajak komunikasi dia sudah mulai mengerti. Kalau diminta melepas sepatu atau sandalnya dia sudah tahu atau minta tolong mengambilkan sesuatu dia juga sudah mengerti.
Cepat besar ya, neng. Semoga jadi anak sholeh. Doa ibu selalu buat Qaisha.
Devi dan ayah baru menyadari bahwa ternyata Qaisha termasuk anak yang tidak bisa diam. Setelah diobservasi mendalam (ehem...ehem..) ternyata ia hanya bertahan diam paling lama 15 detik itupun jika lagi nenen. Selebihnya jangan harap bisa melihat dia duduk manis. Waktu makan pun harus diiringi aksi naik turun kursi biar dia mau makan. Oma cantik yang dari Palembang juga sempat gemas melihatnya ketika berkunjung waktu lebaran kemarin. Masih mending jika Qaisha sudah bisa berjalan lurus dengan baik dan benar, tapi dia sudah terkenal dengan bayi yang tidak melihat jalan kalo lagi jalan dan lari (apa siiihhh??) alias nabrak sana sini, kesandung ini itu. Kami sepakat tiga jahitan (operasi) tampaknya hanya menunggu waktu saja...hehehe... (Amit-amit, mudah-mudahan enggak ya).
Dari umur 11 bulan Qaisha sebenernya paling takut sama ayam. Dia takut denger suara kokokan ayam yang tiba-tiba. Tapi sekarang, ga tau kenapa, dia malah paling sering ngomong ayam. Klo ayah pulang dan kita tanya itu siapa yang pulang, jawabnya ayam, klo lagi main-main sendiri tiba-tiba dia datang ke devi lalu bilang ayam, atau bahkan tidak ada apa-apa tiba-tiba satu kata itu meluncur begitu saja tanpa ada hujan atau angin.
Qaisha juga sudah pandai menggerak-gerakan tangannya untuk menunjukkan suatu binatang, seperti kelinci dengan menaruh kedua tangannya di atas kepala, meliuk-liukkan satu tangan sambil mendesis pelan untuk menunjukkan ular, berkata aum untuk harimau, puss untuk kucing, mbee untuk kambing dan mengangguk-anggukkan kepala untuk kuda (seperti orang yang lagi naik kuda maksudnya).
Keahlian mimiknya berlaku untuk ekspresi marah dengan mengeluarkan suara hmmm, mengedip-ngedipkan mata untuk mata genit, suara ehe..ehe.. untuk nangis, dan yang paling menggemaskan ekspresi gregetnya. Devi paling seneng liat dia begitu. Luchuu! Tapi paling seneng klo liat dia denger suara adzan. Dia langsung mengangkat tangan sebagai posisi berdoa lalu mengusapkan ke wajah yang berarti amin. Meskipun lagi tidur klo adzan terdengar dia langsung membuka mata dan mengangkat tangan. Kalau adzannya selesai dia balik tidur lagi deh.
Sekarang berlanjut ke cerita libur lebaran yang baru lewat ini. Idul Fitri tahun ini sebenernya biasa saja. Devi, ayah dan Qaisha hanya pergi mengunjungi embah di sunter pada hari pertama lebaran. Kami tak sempat berkunjung ke rumah oma yang di Bogor yang setiap tahun devi kunjungi waktu lebaran sebelum devi menikah. Tapi yang membuat istimewa adalah keputusan devi untuk cuti cukup lama dari seminggu sebelum lebaran dan tambahan satu hari lagi setelah cuti bersama. Total libur devi kurang lebih 2 minggu. Lumayan lama kan? Dan seluruh waktu itu devi puas-puasin main sama Qaisha. Tapi ya begitulah, kalo ada ibunya dia lebih banyak mentil (maap)...hehehe...
Maksud hati libur puasa mau masak berbagai kue, tapi cuma berjalan selama dua hari saja, selebihnya devi kurang sehat sehingga menguapkan semangat memasak devi. Tapi meski begitu,
Malam takbiran Devi, ayah dan Qaisha menghabiskan waktu dengan bermain kembang api dan main lari-larian di mesjid. Malam takbiran di kompleks rumah devi memang sudah jauh berkurang kemeriahannya dari waktu dulu devi masih kecil. Tak ada lagi orang yang keliling menabuh beduk dan meneriakkan takbir seperti dulu. Karna tahu akan sepi makanya devi sudah rencana mau bakar kembang api pas malam takbiran biar sedikit rame. Tapi kayaknya bakal lebih rame klo pasang petasan juga...hehehe..
Seperti tahun lalu devi juga tidak bisa ikut sholat Ied karena harus menunggui Qaisha. Qaisha masih belum bangun waktu eyang dan ayah siap-siap berangkat sholat Ied. Udah ketebak Qaisha bakal bangun siang karena malamnya dia kelelahan lari-larian di masjid sehabis main kembang api. So, sambil menunggu ayah dan eyang balik dari sholat Ied devi coba bangunin Qaisha. Agak-agak susah awalnya dan qaisha sempet ngambek waktu tidurnya diganggu, tapi devi punya senjata ampuh buat nenangin dia, yaitu nenen...hehehe.. Sambil nenen devi ajak ngobrol dia tentang hari apa hari itu, mau ada acara apa aja hari itu dan kenapa Qaisha harus segera siap-siap. Setelah itu devi ajak main ciluk ba. Qaisha paling seneng main ciluk ba. Meskipun lagi nangis atau lagi apa, tapi klo diajak main ciluk ba moodnya dia langsung berubah, dia langsung ketawa-ketawa memperlihatkan gigi-ginya yang semakin lengkap.
Sowan ke rumah saudara hanya kami lakukan di hari lebaran pertama saja. Hari kedua dan seterusnya kami habiskan dengan bermain-main bertiga. Selama liburan itu Qaisha juga menikmati naik delman. Kalau denger suara kerincingan delman dia akan langsung menunjuk-nunjuk keluar. Sepertinya Qaisha memang suka dengan kuda. Kalau main di tempat permainan Carefour dia pasti naik permainan kuda atau naik komidi putar. Tapi untuk naik komidi putar kita nunggu dulu ada yang mau masukin koin, jadi numpang maksudnya...hehehe...(emang dasar devi orang tua ga modal...hehehe..).
Nah di hari keempat libur lebaran kita sempet main ke PI Mall dan main di Fun World-nya.
Abis naik komidi putar, kita naik kuda yang lain. Kali ini kuda yang dinaikin gerakannya maju mundur aja. Ada dua pilihan kuda yang kecil dan yang besar. Qaisha pilih yang lebih besar dong, kan lebih menantang; menantang untuk jatuh maksudnya...hehehe... Abis itu Qaisha naik mobil pemadam kebakaran. Kali ini maksudnya supaya dia ga bolak-balik manjat mobil kebakaran itu jadi mending kita naikin ke mobil biar dia berhenti bergerak sebentar. Lanjut ke permainan berikutnya kita kembali lagi ke kuda lagi tapi kali ini saudaranya kuda yang terkenal bodoh alias keledai. Untuk yang
Mempertimbangkan tingkah Qaisha yang ga bisa diam akhirnya kita putuskan untuk melepas Qaisha di lapangan bola. Udah sejak Ramadhan kepikiran buat ngajak main Qaisha di lapangan bola dekat pasar. Kan pasti asik tuh, mau jatuh, mau guling-gulingan, mau lari-lari sok wae lah, lapangannya kan juga lumayan luas. Maka sore hari di hari kelima libur lebaran devi dan ayah akhirnya jadi juga main-main di lapangan bola itu. Syukurnya lapangan bolanya belum ada yang mainin jadi asyik lah kita bertiga main-main di lapangan berumput itu. Senang sih, tapi kita cuma sebentar karena hari sudah mulai sore dan Qaisha belum bobo siang jadi dia kelihatan ga terlalu bersemangat.
Di hari kelima libur lebaran itu paginya devi pergi menjenguk teman kuliah yang baru punya anak, Arief. Karena tak terlalu jauh devi pun membawa Qaisha. Kita berdua pergi dengan 3 orang teman kuliah devi lainnya; Tomo, Eine dan Hendriyan. Ayah tidak ikut karena mau ke dokter. Sepanjang perjalanan di angkot Qaisha hanya diam saja. Rupanya jalan-jalan dan pemandangan yang baru dilihatnya membuatnya diam dipangkuan devi. Di rumah Arief awalnya Qaisha masih malu-malu, ga mau lepas dari devi. Tapi ga berapa lama kemudian dia sudah sibuk bolak-balik lari ke ruang tamu dan kamar tempat si dedek yang baru lahir. Lalu sibuk naikin sepeda yang ada di situ. Hmm.. kayaknya untuk adabtasi tempat baru Qaisha ga butuh waktu lama. Syukurlah dia tidak termasuk anak yang terlalu pemalu.
Hari Minggu pertama setelah lebaran kita pergi ke pasar Mayestik. Karena eyang kangen sama bakso yang ada di sana, maka jadilah kami tiga genarasi -eyang, devi dan Qaisha- pergi jalan-jalan ke sana. Di bis Qaisha jatuh tertidur, bahkan ketika sampai di Mayestik pun dia masih juga tidur. Ada untungnya juga Qaisha tidur, jadi devi bisa makan. Kalo dia bangun, kita malah akan sibuk jagain dia ke sana kemari. Setelah selesai makan baru deh kita bangunin Qaisha. Awal-awalnya dia masih bingung, ga ngenalin tempat. Ga berapa lama kemudian mulai lagi deh pecicilan ke sana kemari.
Liburan yang menyenangkan! Menyenangkan karena devi bisa banyak bermain dengan Qaisha. Qaisha sudah semakin besar sekarang. Wataknya sudah mulai terlihat. Devi dan ayah mulai agak-agak kewalahan menghadapi Qaisha yang suka tiba-tiba ngambek kalau keinginannya ga diturutin. Entah sudah berapa kali dia melakukan aksi tidur di lantai Carefour atau di jalan kalau apa yang dia inginkan tidak dipenuhi. My Qaisha sudah punya keinginan sendiri. Tapi sekarang kalau diajak komunikasi dia sudah mulai mengerti. Kalau diminta melepas sepatu atau sandalnya dia sudah tahu atau minta tolong mengambilkan sesuatu dia juga sudah mengerti.
Cepat besar ya, neng. Semoga jadi anak sholeh. Doa ibu selalu buat Qaisha.
New Pic of Qaisha
Selasa, September 23, 2008
A Little Girl Needs Daddy
A little girl needs Daddy
For many, many things:
Like holding her high off the ground
Where the sunlight sings!
Like being the deep music
That tells her all is right
When she awakens frantic with
The terrors of the night.
Like being the great mountain
That rises in her heart
And shows her how she might get home
When all else falls apart.
Like giving her the love
That is her sea and air,
So diving deep or soaring high
She'll always find him there.
Rabu, September 10, 2008
1000 Kucing untuk Kakek
Bukan 10, bukan 100, tapi 1000. Jumlah yang tepat menggambarkan begitu banyaknya jumlah kucing yang ada di rumah kakek.
Kakek dan nenek merasa kesepian. Tak ada anak yang menemani dan menghibur. Lalu tiba-tiba kakek dapat ide memelihara kucing sebagai pengusir kesepian mereka. Nenek pun setuju. Keesokan paginya ketika ke pasar nenek bertanya kepada setiap penjual yang ada di pasar apakah ada yang punya seekor kucing kecil untuk diberikan kepada kakek. Namun hasilnya nihil. Kakek di rumah juga bertanya pada setiap orang yang lewat di depan rumahnya, mulai dari penjual mainan sampai Pak Haji, apakah ada yang memiliki seekor anak kucing untuknya. Tapi sama seperti nenek, hasilnya juga nihil. Malam itu keduanya tidur dengan hati yang sedih.
Namun apa yang terjadi selanjutnya?
Pagi itu kakek dan nenek terbangun ketika mendengar suara kucing yang mengeong. Kakek melihat ada seekor kucing di kamarnya, dan ternyata dibagian rumah lain nenek juga melihat ada lagi kucing kecil, dan ada lagi, dan ada lagi, ada lagi terussss sampai ke halaman. Kakek mulai kewalahan. Mungkin ada jumlahnya 1000, karena kakek tak berhasil menghitung kucing-kucing itu satu persatu.
Tapi dari mana kucing-kucing itu datang?
Ooo...rupanya orang-orang yang kemarin ditanya kakek dan nenek merasa kasihan lalu mencarikan kucing untuk kakek dan menaruhnya di rumah kakek dan nenek diam-diam. Walhasil begitu banyak kucing berkumpul di rumah kakek dan nenek. Kakek senang sekali, tapi kalau begitu banyak bisa repot juga. Kakek hanya perlu satu kucing. Lalu bagaimana akal kakek?
Wah banyak sekali surprise-surpise dari nukilan cerita di atas. Ini diambil dari buku anak favorit devi. Bukan hanya ceritanya yang sederhana namun menyentuh, tapi juga karena ada kehangatan yang hadir ketika buku itu ditutup. Banyak nilai yang bisa diambil dari buku ini, banyak rasa yang bisa dipetik dari membacanya.
Berbagai konflik yang ada kemudian terselesaikan dengan indah. Klimaksnya justru terjadi ketika kakek harus mencari akal bagaimana "menyingkirkan" kucing sebanyak itu. Dan jalan yang diambil kakek sungguh luar biasa. Kakek mengadakan lomba makan kue!. Siapa yang tidak mau makan kue enak gratis? Dengan bantuan tetangga dan meski harus merelakan tabungan mereka, lomba makan kue serabi itu berlangsung seru. Pesertanya adalah anak-anak sekolah di dekat rumah kakek dan nenek. Dan tebak apa yang jadi hadiah untuk pemenangnya? Yup, benar, ANAK KUCING. Dari juara 1 sampai 10 hadiahnya anak kucing. Bahkan yang tidak menang pun mendapat hadiah hiburan, yaitu ANAK KUCING.
Kisah ini ditutup dengan akhir yang luar biasa. Kakek dan nenek tidak lagi kesepian, bukan karena kakek akhirnya mendapatkan kucing yang diinginkannya, tapi karena ternyata anak-anak yang ikut lomba makan kue sekarang jadi senang main ke rumah kakek dan nenek untuk mendengarkan cerita dari kakek. Lihat saja ilustrasinya yang menggambarkan kakek sedang asyik mendongeng untuk anak-anak yang duduk disekelilingnya dan terlihat seekor kucing kecil sedang asyik duduk di pangkuan kakek. Ah indahnyaaa....
Buku yang pertama kali terbit di tahun 70-an lalu kemudian diterbitkan ulang di tahun 2007 (klo ga salah ingat) ini, pertama kali devi tahu dari sebuah kliping koran yang terbit tahun 80-an yang dikumpulkan dan di filing dengan sangat rapi sekali di rumah ibu Murti di tahun 2002. Ketika membaca kliping tersebut devi langsung tersentuh dan penasaran dengan ceritanya walaupun di kliping itu hanya ditulis ringkasa ceritanya yang tak lengkap. Tapi karena devi suka banget sama kucing dan cerita tentang sepasang kakek-nenek yang kesepian lalu memutuskan untuk mencari kucing sebagai penghibur mereka sangat-sangat menarik perhatian devi. Langsung saja devi hunting buku tersebut. Tanya ke sana ke sini yang devi tahu punya koleksi buku anak yg banyak, sempat juga nyoba nyari ke Perpusnas, dan usaha terakhir adalah pergi ke penerbitnya langsung, Djambatan. Tapi buku itu sudah habis terjual dan Djambatan tidak menerbitkan ulang. Sempat putus asa ketika itu. Tapi meskipun kunjungan ke Djambatan tidak berhasil mendapatkan buku yang devi cari, devi menemukan buku-buku anak terbitan Djambatan lain yang tak kalah bagus, dan dengan harga yang tidak masuk akal; mulai dari Rp1000 dan yang paling mahal Rp2500. Luar biasa! Padahal buku-buku itu adalah harta karun bacaan anak Indonesia. Bila dibandingkan dengan buku bacaan anak sekarang buku-buku tersebut secara fisik memang sangat jauh tertinggal, namun dari segi cerita -devi pikir- buku anak sekarang belum belum bisa mengalahi "rasa Indonesia" yang dihadirkan buku-buku tersebut. (Judul-judul bukunya menyusul ya)
Dan kemudian, di sebuah pesta buku di tahun 2007, devi menemukan buku itu di stand penerbit Djambatan. Luar biasa devi senangnnya devi. Seperti menemukan harta karun jutaan tahun. Djambatan ternyata memutuskan menerbitkan kembali buku-buku anaknya. Dari segi fisik tak banyak perubahan dari cetakan pertamanya. Awalnya devi berharap cetak ulang ini ilustrasinya akan berwarna dengan hard cover dan kertas mengkilap. Tapi setelah dipikir-pikir justru ilustrasi yang hitam putih itu membawa ceritanya terasa lebih dalam dan mengena. Ilustrasi yang terlalu rame mungkin malah akan terasa lebih heboh dan jauuh dari rasa yang dibawa cerita tersebut. (Hehehe...serasa jadi pakar bacaan anak nieh...). Maka dengan merogoh kocek yang tidak dalam devi pun membawa pulang buku itu dengan rasa senang bukan main. I've found my treasure...
Sang Penulis Ia tak lain dan tak bukan adalah tokoh legendaris berkumis tebal yang suka sakit encok, Pak Raden. Nama aslinya adalah Suyadi. Seorang penulis buku anak, ilustrator, puppeters dan pendongeng yang melegenda. Sosoknya yang sederhana jika tak mengenakan kumis tebalnya dan jubah kebesarannya akan sulit dikenali jika berpapasan di tengah jalan. Orangnya sunguh-sungguh humble. Tak pernah devi bertemu dengan orang seperti beliau. Benar pepatah yang menyatakan padi semakin berisi semakin merunduk, dan seperti itulah pak Suyadi.
Pernah suatu kali devi mengikuti tur mendongeng KPBA ke Yogyakarta dan Semarang bersama pak Suyadi. Di tengah jalan kami sempat berhenti sebentar untuk menikmati kue apem paling enak yang pernah devi makan. Tiba-tiba sang penjual apem bisa mengenali sosok pak Raden meskipun ia sedang tidak mengenakan kostumnya. Kami tersadar bahwa dipelosok manapun tokoh ini pasti dikenal orang. Dan dari situlah bibit pertama muncul untuk memberinya suatu acara khusus tentang beliau.
Kakek dan nenek merasa kesepian. Tak ada anak yang menemani dan menghibur. Lalu tiba-tiba kakek dapat ide memelihara kucing sebagai pengusir kesepian mereka. Nenek pun setuju. Keesokan paginya ketika ke pasar nenek bertanya kepada setiap penjual yang ada di pasar apakah ada yang punya seekor kucing kecil untuk diberikan kepada kakek. Namun hasilnya nihil. Kakek di rumah juga bertanya pada setiap orang yang lewat di depan rumahnya, mulai dari penjual mainan sampai Pak Haji, apakah ada yang memiliki seekor anak kucing untuknya. Tapi sama seperti nenek, hasilnya juga nihil. Malam itu keduanya tidur dengan hati yang sedih.
Namun apa yang terjadi selanjutnya?
Pagi itu kakek dan nenek terbangun ketika mendengar suara kucing yang mengeong. Kakek melihat ada seekor kucing di kamarnya, dan ternyata dibagian rumah lain nenek juga melihat ada lagi kucing kecil, dan ada lagi, dan ada lagi, ada lagi terussss sampai ke halaman. Kakek mulai kewalahan. Mungkin ada jumlahnya 1000, karena kakek tak berhasil menghitung kucing-kucing itu satu persatu.
Tapi dari mana kucing-kucing itu datang?
Ooo...rupanya orang-orang yang kemarin ditanya kakek dan nenek merasa kasihan lalu mencarikan kucing untuk kakek dan menaruhnya di rumah kakek dan nenek diam-diam. Walhasil begitu banyak kucing berkumpul di rumah kakek dan nenek. Kakek senang sekali, tapi kalau begitu banyak bisa repot juga. Kakek hanya perlu satu kucing. Lalu bagaimana akal kakek?
Wah banyak sekali surprise-surpise dari nukilan cerita di atas. Ini diambil dari buku anak favorit devi. Bukan hanya ceritanya yang sederhana namun menyentuh, tapi juga karena ada kehangatan yang hadir ketika buku itu ditutup. Banyak nilai yang bisa diambil dari buku ini, banyak rasa yang bisa dipetik dari membacanya.
Berbagai konflik yang ada kemudian terselesaikan dengan indah. Klimaksnya justru terjadi ketika kakek harus mencari akal bagaimana "menyingkirkan" kucing sebanyak itu. Dan jalan yang diambil kakek sungguh luar biasa. Kakek mengadakan lomba makan kue!. Siapa yang tidak mau makan kue enak gratis? Dengan bantuan tetangga dan meski harus merelakan tabungan mereka, lomba makan kue serabi itu berlangsung seru. Pesertanya adalah anak-anak sekolah di dekat rumah kakek dan nenek. Dan tebak apa yang jadi hadiah untuk pemenangnya? Yup, benar, ANAK KUCING. Dari juara 1 sampai 10 hadiahnya anak kucing. Bahkan yang tidak menang pun mendapat hadiah hiburan, yaitu ANAK KUCING.
Kisah ini ditutup dengan akhir yang luar biasa. Kakek dan nenek tidak lagi kesepian, bukan karena kakek akhirnya mendapatkan kucing yang diinginkannya, tapi karena ternyata anak-anak yang ikut lomba makan kue sekarang jadi senang main ke rumah kakek dan nenek untuk mendengarkan cerita dari kakek. Lihat saja ilustrasinya yang menggambarkan kakek sedang asyik mendongeng untuk anak-anak yang duduk disekelilingnya dan terlihat seekor kucing kecil sedang asyik duduk di pangkuan kakek. Ah indahnyaaa....
Buku yang pertama kali terbit di tahun 70-an lalu kemudian diterbitkan ulang di tahun 2007 (klo ga salah ingat) ini, pertama kali devi tahu dari sebuah kliping koran yang terbit tahun 80-an yang dikumpulkan dan di filing dengan sangat rapi sekali di rumah ibu Murti di tahun 2002. Ketika membaca kliping tersebut devi langsung tersentuh dan penasaran dengan ceritanya walaupun di kliping itu hanya ditulis ringkasa ceritanya yang tak lengkap. Tapi karena devi suka banget sama kucing dan cerita tentang sepasang kakek-nenek yang kesepian lalu memutuskan untuk mencari kucing sebagai penghibur mereka sangat-sangat menarik perhatian devi. Langsung saja devi hunting buku tersebut. Tanya ke sana ke sini yang devi tahu punya koleksi buku anak yg banyak, sempat juga nyoba nyari ke Perpusnas, dan usaha terakhir adalah pergi ke penerbitnya langsung, Djambatan. Tapi buku itu sudah habis terjual dan Djambatan tidak menerbitkan ulang. Sempat putus asa ketika itu. Tapi meskipun kunjungan ke Djambatan tidak berhasil mendapatkan buku yang devi cari, devi menemukan buku-buku anak terbitan Djambatan lain yang tak kalah bagus, dan dengan harga yang tidak masuk akal; mulai dari Rp1000 dan yang paling mahal Rp2500. Luar biasa! Padahal buku-buku itu adalah harta karun bacaan anak Indonesia. Bila dibandingkan dengan buku bacaan anak sekarang buku-buku tersebut secara fisik memang sangat jauh tertinggal, namun dari segi cerita -devi pikir- buku anak sekarang belum belum bisa mengalahi "rasa Indonesia" yang dihadirkan buku-buku tersebut. (Judul-judul bukunya menyusul ya)
Dan kemudian, di sebuah pesta buku di tahun 2007, devi menemukan buku itu di stand penerbit Djambatan. Luar biasa devi senangnnya devi. Seperti menemukan harta karun jutaan tahun. Djambatan ternyata memutuskan menerbitkan kembali buku-buku anaknya. Dari segi fisik tak banyak perubahan dari cetakan pertamanya. Awalnya devi berharap cetak ulang ini ilustrasinya akan berwarna dengan hard cover dan kertas mengkilap. Tapi setelah dipikir-pikir justru ilustrasi yang hitam putih itu membawa ceritanya terasa lebih dalam dan mengena. Ilustrasi yang terlalu rame mungkin malah akan terasa lebih heboh dan jauuh dari rasa yang dibawa cerita tersebut. (Hehehe...serasa jadi pakar bacaan anak nieh...). Maka dengan merogoh kocek yang tidak dalam devi pun membawa pulang buku itu dengan rasa senang bukan main. I've found my treasure...
Pernah suatu kali devi mengikuti tur mendongeng KPBA ke Yogyakarta dan Semarang bersama pak Suyadi. Di tengah jalan kami sempat berhenti sebentar untuk menikmati kue apem paling enak yang pernah devi makan. Tiba-tiba sang penjual apem bisa mengenali sosok pak Raden meskipun ia sedang tidak mengenakan kostumnya. Kami tersadar bahwa dipelosok manapun tokoh ini pasti dikenal orang. Dan dari situlah bibit pertama muncul untuk memberinya suatu acara khusus tentang beliau.
Karakternya begitu kuat tertancap di benak orang-orang, terutama para eyang dan orang tua seangkatan devi. Dan tokoh pak Raden ini sangat memorable sekali dengan kumisnya, sakit encoknya, sifat pelitnya, pohon jambunya dan suara menggelegarnya yang membuat ia tampak galak di benak anak-anak ketika itu.
-bersambung-
Senin, September 01, 2008
Ramadhan Datang...
Setiap ramadhan datang ada nuansa dan rasa yang hadir tersendiri. Ada asa, ada rindu, ada romantisme yang menyelesup pelannnnn sekali ke hati ini. Dan tahun ini pun begitu juga.
Pernah pada satu titik ramadhan terasa begitu membosankan buat devi. Terutama ketika tahun-tahun awal sepeninggal papa devi. Kenangan bagaimana kami dulu menyambut ramadhan, menjalaninya sampai merayakan Idul Fitri ketika papa masih ada terus terbayang selama bertahun-tahun setelah kematiannya yang semakin membuat hati devi jadi kelu. Alih-alih jadi bulan tarbiyah, devi malah diselimuti oleh kebosanan dan sempat mati rasa. Sepi. Itulah yang terasa.
Namun seiring berjalannya waktu sepi itu sedikit demi sedikit mulai memudar. Lalu devi bertemu dengan ayah. Ramadhan pertama kami, kami mendapat kado luar biasa. 10 hari terakhir ramadhan 1427H devi dinyatakan positif hamil. 1428H sudah ada si malaikat mungil bermata sipit di tengah-tengah kami. Dan di ramadhan tahun ini Qaisha mungil sudah bisa menemani kami menyantap sahur dan berbuka.
Alhamdulilllah devi masih bisa bertemu dengan ramadhan tahun ini. Allah masih beri devi kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri di bulan penuh rahmat ini, tak sendiri, tak lagi sepi.
Pernah pada satu titik ramadhan terasa begitu membosankan buat devi. Terutama ketika tahun-tahun awal sepeninggal papa devi. Kenangan bagaimana kami dulu menyambut ramadhan, menjalaninya sampai merayakan Idul Fitri ketika papa masih ada terus terbayang selama bertahun-tahun setelah kematiannya yang semakin membuat hati devi jadi kelu. Alih-alih jadi bulan tarbiyah, devi malah diselimuti oleh kebosanan dan sempat mati rasa. Sepi. Itulah yang terasa.
Namun seiring berjalannya waktu sepi itu sedikit demi sedikit mulai memudar. Lalu devi bertemu dengan ayah. Ramadhan pertama kami, kami mendapat kado luar biasa. 10 hari terakhir ramadhan 1427H devi dinyatakan positif hamil. 1428H sudah ada si malaikat mungil bermata sipit di tengah-tengah kami. Dan di ramadhan tahun ini Qaisha mungil sudah bisa menemani kami menyantap sahur dan berbuka.
Alhamdulilllah devi masih bisa bertemu dengan ramadhan tahun ini. Allah masih beri devi kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri di bulan penuh rahmat ini, tak sendiri, tak lagi sepi.
Langganan:
Postingan (Atom)




