Selasa, September 23, 2008

A Little Girl Needs Daddy

By Nicholas Gordon

A little girl needs Daddy

For many, many things:
Like holding her high off the ground
Where the sunlight sings!

Like being the deep music
That tells her all is right
When she awakens frantic with
The terrors of the night.

Like being the great mountain
That rises in her heart
And shows her how she might get home
When all else falls apart.

Like giving her the love
That is her sea and air,
So diving deep or soaring high
She'll always find him there.

Rabu, September 10, 2008

1000 Kucing untuk Kakek

Bukan 10, bukan 100, tapi 1000. Jumlah yang tepat menggambarkan begitu banyaknya jumlah kucing yang ada di rumah kakek.

Kakek dan nenek merasa kesepian. Tak ada anak yang menemani dan menghibur. Lalu tiba-tiba kakek dapat ide memelihara kucing sebagai pengusir kesepian mereka. Nenek pun setuju. Keesokan paginya ketika ke pasar nenek bertanya kepada setiap penjual yang ada di pasar apakah ada yang punya seekor kucing kecil untuk diberikan kepada kakek. Namun hasilnya nihil. Kakek di rumah juga bertanya pada setiap orang yang lewat di depan rumahnya, mulai dari penjual mainan sampai Pak Haji, apakah ada yang memiliki seekor anak kucing untuknya. Tapi sama seperti nenek, hasilnya juga nihil. Malam itu keduanya tidur dengan hati yang sedih.

Namun apa yang terjadi selanjutnya?

Pagi itu kakek dan nenek terbangun ketika mendengar suara kucing yang mengeong. Kakek melihat ada seekor kucing di kamarnya, dan ternyata dibagian rumah lain nenek juga melihat ada lagi kucing kecil, dan ada lagi, dan ada lagi, ada lagi terussss sampai ke halaman. Kakek mulai kewalahan. Mungkin ada jumlahnya 1000, karena kakek tak berhasil menghitung kucing-kucing itu satu persatu.

Tapi dari mana kucing-kucing itu datang?

Ooo...rupanya orang-orang yang kemarin ditanya kakek dan nenek merasa kasihan lalu mencarikan kucing untuk kakek dan menaruhnya di rumah kakek dan nenek diam-diam. Walhasil begitu banyak kucing berkumpul di rumah kakek dan nenek. Kakek senang sekali, tapi kalau begitu banyak bisa repot juga. Kakek hanya perlu satu kucing. Lalu bagaimana akal kakek?

Wah banyak sekali surprise-surpise dari nukilan cerita di atas. Ini diambil dari buku anak favorit devi. Bukan hanya ceritanya yang sederhana namun menyentuh, tapi juga karena ada kehangatan yang hadir ketika buku itu ditutup. Banyak nilai yang bisa diambil dari buku ini, banyak rasa yang bisa dipetik dari membacanya.

Berbagai konflik yang ada kemudian terselesaikan dengan indah. Klimaksnya justru terjadi ketika kakek harus mencari akal bagaimana "menyingkirkan" kucing sebanyak itu. Dan jalan yang diambil kakek sungguh luar biasa. Kakek mengadakan lomba makan kue!. Siapa yang tidak mau makan kue enak gratis? Dengan bantuan tetangga dan meski harus merelakan tabungan mereka, lomba makan kue serabi itu berlangsung seru. Pesertanya adalah anak-anak sekolah di dekat rumah kakek dan nenek. Dan tebak apa yang jadi hadiah untuk pemenangnya? Yup, benar, ANAK KUCING. Dari juara 1 sampai 10 hadiahnya anak kucing. Bahkan yang tidak menang pun mendapat hadiah hiburan, yaitu ANAK KUCING.

Kisah ini ditutup dengan akhir yang luar biasa. Kakek dan nenek tidak lagi kesepian, bukan karena kakek akhirnya mendapatkan kucing yang diinginkannya, tapi karena ternyata anak-anak yang ikut lomba makan kue sekarang jadi senang main ke rumah kakek dan nenek untuk mendengarkan cerita dari kakek. Lihat saja ilustrasinya yang menggambarkan kakek sedang asyik mendongeng untuk anak-anak yang duduk disekelilingnya dan terlihat seekor kucing kecil sedang asyik duduk di pangkuan kakek. Ah indahnyaaa....

Buku yang pertama kali terbit di tahun 70-an lalu kemudian diterbitkan ulang di tahun 2007 (klo ga salah ingat) ini, pertama kali devi tahu dari sebuah kliping koran yang terbit tahun 80-an yang dikumpulkan dan di filing dengan sangat rapi sekali di rumah ibu Murti di tahun 2002. Ketika membaca kliping tersebut devi langsung tersentuh dan penasaran dengan ceritanya walaupun di kliping itu hanya ditulis ringkasa ceritanya yang tak lengkap. Tapi karena devi suka banget sama kucing dan cerita tentang sepasang kakek-nenek yang kesepian lalu memutuskan untuk mencari kucing sebagai penghibur mereka sangat-sangat menarik perhatian devi. Langsung saja devi hunting buku tersebut. Tanya ke sana ke sini yang devi tahu punya koleksi buku anak yg banyak, sempat juga nyoba nyari ke Perpusnas, dan usaha terakhir adalah pergi ke penerbitnya langsung, Djambatan. Tapi buku itu sudah habis terjual dan Djambatan tidak menerbitkan ulang. Sempat putus asa ketika itu. Tapi meskipun kunjungan ke Djambatan tidak berhasil mendapatkan buku yang devi cari, devi menemukan buku-buku anak terbitan Djambatan lain yang tak kalah bagus, dan dengan harga yang tidak masuk akal; mulai dari Rp1000 dan yang paling mahal Rp2500. Luar biasa! Padahal buku-buku itu adalah harta karun bacaan anak Indonesia. Bila dibandingkan dengan buku bacaan anak sekarang buku-buku tersebut secara fisik memang sangat jauh tertinggal, namun dari segi cerita -devi pikir- buku anak sekarang belum belum bisa mengalahi "rasa Indonesia" yang dihadirkan buku-buku tersebut. (Judul-judul bukunya menyusul ya)

Dan kemudian, di sebuah pesta buku di tahun 2007, devi menemukan buku itu di stand penerbit Djambatan. Luar biasa devi senangnnya devi. Seperti menemukan harta karun jutaan tahun. Djambatan ternyata memutuskan menerbitkan kembali buku-buku anaknya. Dari segi fisik tak banyak perubahan dari cetakan pertamanya. Awalnya devi berharap cetak ulang ini ilustrasinya akan berwarna dengan hard cover dan kertas mengkilap. Tapi setelah dipikir-pikir justru ilustrasi yang hitam putih itu membawa ceritanya terasa lebih dalam dan mengena. Ilustrasi yang terlalu rame mungkin malah akan terasa lebih heboh dan jauuh dari rasa yang dibawa cerita tersebut. (Hehehe...serasa jadi pakar bacaan anak nieh...). Maka dengan merogoh kocek yang tidak dalam devi pun membawa pulang buku itu dengan rasa senang bukan main. I've found my treasure...

Sang Penulis

Penasaran dengan penulisnya?

Ia tak lain dan tak bukan adalah tokoh legendaris berkumis tebal yang suka sakit encok, Pak Raden. Nama aslinya adalah Suyadi. Seorang penulis buku anak, ilustrator, puppeters dan pendongeng yang melegenda. Sosoknya yang sederhana jika tak mengenakan kumis tebalnya dan jubah kebesarannya akan sulit dikenali jika berpapasan di tengah jalan. Orangnya sunguh-sungguh humble. Tak pernah devi bertemu dengan orang seperti beliau. Benar pepatah yang menyatakan padi semakin berisi semakin merunduk, dan seperti itulah pak Suyadi.

Pernah suatu kali devi mengikuti tur mendongeng KPBA ke Yogyakarta dan Semarang bersama pak Suyadi. Di tengah jalan kami sempat berhenti sebentar untuk menikmati kue apem paling enak yang pernah devi makan. Tiba-tiba sang penjual apem bisa mengenali sosok pak Raden meskipun ia sedang tidak mengenakan kostumnya. Kami tersadar bahwa dipelosok manapun tokoh ini pasti dikenal orang. Dan dari situlah bibit pertama muncul untuk memberinya suatu acara khusus tentang beliau.


Karakternya begitu kuat tertancap di benak orang-orang, terutama para eyang dan orang tua seangkatan devi. Dan tokoh pak Raden ini sangat memorable sekali dengan kumisnya, sakit encoknya, sifat pelitnya, pohon jambunya dan suara menggelegarnya yang membuat ia tampak galak di benak anak-anak ketika itu.



-bersambung-

Senin, September 01, 2008

Ramadhan Datang...

Setiap ramadhan datang ada nuansa dan rasa yang hadir tersendiri. Ada asa, ada rindu, ada romantisme yang menyelesup pelannnnn sekali ke hati ini. Dan tahun ini pun begitu juga.

Pernah pada satu titik ramadhan terasa begitu membosankan buat devi. Terutama ketika tahun-tahun awal sepeninggal papa devi. Kenangan bagaimana kami dulu menyambut ramadhan, menjalaninya sampai merayakan Idul Fitri ketika papa masih ada terus terbayang selama bertahun-tahun setelah kematiannya yang semakin membuat hati devi jadi kelu. Alih-alih jadi bulan tarbiyah, devi malah diselimuti oleh kebosanan dan sempat mati rasa. Sepi. Itulah yang terasa.

Namun seiring berjalannya waktu sepi itu sedikit demi sedikit mulai memudar. Lalu devi bertemu dengan ayah. Ramadhan pertama kami, kami mendapat kado luar biasa. 10 hari terakhir ramadhan 1427H devi dinyatakan positif hamil. 1428H sudah ada si malaikat mungil bermata sipit di tengah-tengah kami. Dan di ramadhan tahun ini Qaisha mungil sudah bisa menemani kami menyantap sahur dan berbuka.

Alhamdulilllah devi masih bisa bertemu dengan ramadhan tahun ini. Allah masih beri devi kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri di bulan penuh rahmat ini, tak sendiri, tak lagi sepi.

Kamis, Agustus 21, 2008

Many Expression of Qaisha

Jangan cemberut dong, neng..


Uuu...love u tooo...uuu...









Aihh...lagi merayu nieh yee...











Kok bengong? Lagi merhatiin apa, neng?












Duh, cantiknya pake bandana...




Aaaaa....!!!!!









Ciluuukk...baa..!






Huhuhu...sebel deh klo neng udah begini.







Uhmm... serius amat.



Nah begini lebih cantik!






























Mimpi yang indah, cantik...

Aku hanya ingin...

Mengetik judul di atas jadi ingat puisinya Sapardi Djoko Damono yang luar biasa romantisnya itu:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat:
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat:
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.


Ah indahnya...

Hmm...(lagi menghayati ceritanya...hehehe..)

Tapi tulisan ini sama sekali ga ada hubungannya dengan puisi di atas maupun bernuansa romatis sedikit pun (hiks...). Tulisan ini adalah tentang keinginan terdalam devi saat ini. Dan yang jadi keinginan devi saat ini adalah INGIN BERSIH-BERSIH KAMAR. Duh rasanya pingiiinnn banget dapet libur panjang and stay di rumah buat ngebersihin kamar yang sudah lebih dari 2 minggu ga di pel-pel, pingiiiinnnn banget nyelesein setrikaan yang sudah sebulan menumpuk dan tak kunjung bisa devi selesaikan tuntas, pingiiiiinnnn banget ngembaliin fungsi meja kerja sebagai meja kerja dan bukan tempat menumpuk barang-barang "ajaib" supaya ayah bisa punya meja kerja. Hhh....(hela napas mode on).

Badan rasanya udah gatal-gatal klo masuk kamar. Masuk ke dalam kamar kaki rasanya berdebu seperti abis main bola di lapangan. Gregetan sebenernya pingin segera ngebersihin kamar. Pinginnya sih bisa punya waktu khusus buat beresin kamar and bukan sebentar-sebentar mencuri kesempatan klo Qaisha tidur atau lagi dibawa ayah keluar rumah, karena hasilnya pasti ga memuaskan (dalam artian tidak sebersih yang devi inginkan).

Simple banget sih sebenernya...

Well, mudah-mudahan bisa ketemu waktu khusus itu dalam waktu dekat ini dan biarlah waktu "mencuri-curi kesempatan" itu bisa devi manfaatkan maksimal. Meanwhile biarlah devi menikmati romantisnya puisi Pak Sapardi di atas dulu.

Hmmm...

Ah, memang puisi yang indah...

Kamis, Agustus 07, 2008

ASEAN Storytelling Festival....Sebuah Rindu

Yes, I miss storytelling a lot. Peran tambahan menjadi seorang ibu banyak mengurangi kesempatan untuk mendongeng dan bisa aktif di KPBA seperti dulu. Agak sedih sebenarnya. But this world is moving on, seperti halnya juga hidup devi. Maka ketika KPBA akhirnya memutuskan mengadakan festival mendongeng lagi setelah jeda 3 tahun -dari yang biasanya bianually- tak terkira senangnya devi. Datang juga kesempatan bisa bertemu dengan storyteller dari berbagai penjuru dunia dengan gaya khas dongengnya masing-masing. Pun juga kesempatan bisa tandem dengan mereka.

Berbeda dengan tema sebelumnya, kali ini fokus KPBA jatuh pada negara-negara ASEAN. Tamu-tamu yang diundang mengisi acara berasal dari negara-negara ASEAN, plus Jepang dan minus Vietnam. Cerita-cerita yang digulirkan juga terasa lebih familiar di telinga terutama dari negara yang masih dalam satu rumpun seperti Malaysia dan Brunei Darusalam. Lebih familiar juga karena nuansa dan secara geologis tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Susunan acaranya juga berbeda dengan festival dongeng sebelumnya. Kali ini ada juga workshop yang diadakan 2 kali setelah pementasan pagi dan siang. Jadi kali ini ada lebih banyak ilmu yang bisa devi dapat. Acara ini diadakan sejak tanggal 31 Juli - 4 Agustus 2008 di Bentara Budaya Jakarta.


Para pengisi acara

Kali ini devi berkesempatan mendampingi pendongeng dari Filipina bernama Carla Pacis. Seorang penulis buku anak dan berdasarkan CV termasuk orang yang mendirikan perkumpulan penulis buku anak di negaranya. Beliau juga seorang dosen. Orangnya sangat ramah dengan bahasa Inggris yang enak didengar dan mudah dimengerti (maksudnya ga ada aksen-aksen tagalognya).

Ketika pembukaan jujur devi tidak begitu bagus menerjemakannya di atas panggung. Entah kenapa. Ada beberapa saat yang devi harus terdiam untuk berpikir untuk menemukan kalimat yang cocok sebelum berbicara. Padahal cerita yang akan dibawaka Carla sudah devi terima jauh-jauh hari dan sudah devi baca berulang kali. Namun begitu di atas panggung tiba-tiba devi blank. Gaya bercerita Carla yang hanya membacakan teks dan kurang berekspresi terus terang sempat membuat devi tidak nyaman. Apalagi secara mendadak Carla menambahkan prolog tepat sesaat sebelum kami naik ke panggung. Walhasil terjemahan devi buruk sekali. Tapi Alhamdulillah semuanya terbalas pada hari kedua. Carla yang masih tetap membacakan teks ketika bercerita tidak membuat devi mengikuti gayanya yang menurut devi agak monoton seperti ketika di pembukaan. Devi bisa menterjemahkan cerita The Tricster Child dengan lebih bebas, santai dan nyaman. Ditambah lagi di awal cerita Carla mengajak anak-anak turut menari mengikuti irama seperti dalam perayaan di Filipina (Philippinos loves fiesta, ujar Carla suatu kali). Suasananya lebih cair dan devi lebih merasa percaya diri walaupun ketika itu peserta yang datang terdiri dari anak-akan TK yang ributnya luar biasa.

Pementasan selanjutnya dengan Carla jatuh pada hari Minggu (3/8). Kali ini Carla membawakan cerita yang berbeda. Menimbang anak-anak yang datang ternyata lebih kecil dari perkiraannya, akhirnya Carla memberi cerita yang baru. Cerita yang berjudul Mapun ini hanya sempat devi baca 2 kali, tapi ternyata justru pada cerita ini suasananya jauh lebih meriah. Carla yang tidak lagi membawaka teks tapi bercerita lepas malah membuat devi merasa lebih nyaman. Devi malah lebih bisa mengeksplorasi intonasi kalimat dan memilih kata yang lebih enak didengar. Cerita ini kemudian ditutup dengan sebuah lagu dari bahasa tagalog. Judulnya Crab Song. Dan kami pun ikut bernyanyi gembira sebelum menutup cerita.

Pengalaman mendampingi workshop jauh lebih seru lagi. Hari pertama devi tetap mendampingi Carla yang memberi materi Creative Writing. Waduh di sini pelajaran bahasa devi benar-benar diuji. Beberapa kata devi tidak tahu padanannya dalam bahasa Indonesia. Seperti contohnya kata alliteration. Dua peserta berasal dari sekolah internasional tidak memiliki hambatan memahami materi yang dibawakan dalam bahasa Inggris. Tapi selebihnya, sekitar 15 anak, harus devi terangkan kembali ke masing-masing anak. Dan ternyata materi Carla termasuk cukup mudah dicerna karena kemudian mereka berhasil membuat puisi pendek dan berani membacakan puisinya di depan peserta lainnya (atau penerjemahnya yang bagus ya....hehehe...boleh dong bangga:))

Tugas mendampingi yang devi pikir paling sulit adalah ketika mendampingi Chin Yahan, pendongeng dari Kamboja. Bebeda dengan Carla, Chin Yahan orangnya sangat pendiam dan tenang sekali, bahkan terlalu tenang. Ketika di panggung pun dia sama sekali tidak berekspresi. Mba Rika yang bertugas menerjemahkannya yang harus berusaha keras membuat ceritanya menarik untuk anak-anak. Dengan kondisi seperti itu, pada workshop Chin Yahan malah harus membawakan materi belajar mendongeng. Jujur awalnya devi ga kebayang akan seperti apa jadinya. Tapi ternyata justru di kelas inilah devi banyak mendapat materi mendongeng. Pertama-tama Chin Yahan bertanya ke peserta apa yang ingin mereka ketahui dari kelas ini. Para peserta ingin tahu cara metodologi mendongeng yang menarik. Lalu kemudian bergulir tanya jawab antara Chin Yahan dan peserta, dan dari pertanyaan dan jawaban itu Chin Yahan mengambil kesimpulannya. Setelah itu dilanjutkan dengan praktek mendongeng. Setelah salah satu peserta mendongeng maka peserta yang lainnya diminta menilai dan alasannya. Alasannya tentu saja diambil dari kesimpulan yang tadi diutarakan Chin Yahan. Dengan melakukan cara ini berkali-kali peserta pun jadi lebih faham dan ingat. Ternyata benar, don't judge the book by its cover. Di balik "kekaleman" Chin Yahan terdapat samudra yang sangatttt luaasss.

Mendampingi pendongeng dari Brunei malah menambah pengetahuan tentang negara kecil tersebut. Setelah Pak Cik Pawi dan Pak CiK Kifli mendongeng Si-Amas dengan menggunakan power point kami malah ngobrol tentang negara Brunei. Mereka berdua bercerita tentang Kampung Air juga tentang Sultan Brunei yang baru melangsungkan perayaan ulang tahunnya ke 62 yang berlangsung selama 2 pekan. Berhubung peserta sore itu berasal dari komunitas anak jalanan, harapannya dari obrolan yang cuma sejenak itu bisa memberikan inspirasi buat mereka bahwa dunia diluar sana luas dan siapa tahu salah satu dari mereka jadi punya cita-cita pergi ke sana (hopefully sih ga jadi TKI).

H. Pawi Tajudin dan H. Kifli

Mendampingi 2 ibu dari Malaysia devi malah mendapat tawaran sekaligus tantangan. Kelasnya waktu itu cuma diikuti oleh 3 peserta. Materi yang dibawakan adalah menulis cerita dan editing. Karena waktunya tidak mencukupi Ibu Izzah meminta kita mengirimkan cerita yang kerangkanya sudah dibuat di workshop itu ke dirinya setelah usai acara. Dan kalau bagus ia bersedia memasukan cerita tersebut ke salah satu majalah anak di malaysia dan mendapat bayaran. Tujuan bu Izzah supaya peserta bisa merasakan gimana jadi penulis yang sesungguhnya. mudah-mudahan saja ini ada follow up berikutnya. Dari kelas ini devi mendapat solusi dari kesulitan devi klo ingin menulis cerita, yaitu kerangka cerita. Devi sering bingung dengan akhir cerita yang sedang devi tulis. Dannnn jawabannya ada di proses membuat kerangka cerita. Yup, masukan yang berguna sekali!

Izzah Abdul Aziz dan Hasniah Hussain

Hari terakhir devi berkesempatan mengikuti kelasanya Wajuppa Tosa dari Thailand. Devi senang sekali bisa ikut kelasnya. Devi kebetulan tidak dijadwalkan mendampingi Wajuppa sejak semula, tapi berhubung pendongeng yang harus devi dampingi tiba-tiba tidak bisa mengadakan workshop karena terlalu lelah, langsung saja devi cabut ke kelasnya Wajuppa. Dan benar saja, kelasnya sangat menyenangkan. Wajuppa sangat mirip dengan Margaret MacDonald dalam mendongeng. Cerita-ceritanya simpel tapi menyenangkan. Selalu saja kami bisa dibawanya hanyut dan ikut berpartisipasi dalam cerita. Dan yang paling menyenangkan buat Devi, Wajuppa sempat membawakan cerita tentang menggosok gigi. Wah pas banget buat devi yang lagi ngajarain Qaisha menggosok gigi. Adanya lagunya lagi. Mudah-mudahan saja devi ga lupa nadanya...hehehe...

Hari terakhir festival ini ditutup dengan seminar (Senin 4/8) dengan pembicara semua pendongeng yang diundang. Devi ga banyak ikut serta hari itu karena bertugas menjaga buku yang sedang dipamerkan. Senang juga jagain buku yang dibawa para pendongeng itu karena devi jadi berkesempatan membaca buku itu satu persatu. Jadi bisa membandingkan perkembangan buku anak di negara-negara ASEAN. Menurut devi buku-buku anak dari Kamboja dan dan Laos kondisinya seperti perbukuan anak di Indonesia tahun 70-80-an. Di Thailand tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Filipina devi pikir sedikit lebih baik. Buku-buku non fiksinya bisa diolah dan ditampilkan dengan sangat menarik. Sedangkan Malaysia, devi pikir, sedikit di bawah Indonesia. Mungkin karena yang dibawa buku-buku terbitan lama. Buku-buku Jepang lebih meriah dan ilustrasinya sedikit lebih jenaka.

Salah satu buku yang dibawa Wajuppa adalah bukunya Margaret MacDonald yang berisi tentang pengalamannya mendongeng di berbagai negara dan menggunakan penerjemah dan/atau tandem dengan orang lokal. Isi buku tersebut lebih untuk menunjukkan bahwa jika suatu saat kita berkesempatan mendongeng di suatu tempat yang memiliki bahasa yang sangat berbeda maka itu bukanlah masalah. Penerjemah yang akan menjembatani perbedaan bahasa itu. Tapi menterjemahkan di sini berbeda dengan menterjemahkan biasa, karena yang dibawa adalah cerita untuk anak-anak. Di buku tersebut bu Murti menyumbang sebuah tulisan tentang tips dan trik mengelola penerjemah tersebut. Menurut bu Murti menterjemahkan di sini tidak bisa dianggap "sekedar" menterjemahkan tapi bisa disebut dongeng berduet atau tandem.

Dan yang lebih menyenangkan dari membaca bukunya Margaret, selain apa yang ditulis di sana amat sangat devi kenal, adalah devi menemukan nama devi tercantum di buku tersebut sebagai salah satu pendongeng yang suka dipasangakan dengan Margaret. Dengan amat sangat lengkap Margaret menulis nama Devi dan dianggap memiliki kemampuan komunikasi ke audiens dengan sangat baik... (suit...suit..) Bangganya! Padahal itu cuma satu kalimat dan orang ga akan kenal siapa itu Devina Erlita Farahsari, tapi tetap rasanya senangnya bukan main. Devi merasa sangat dihargai oleh pendongeng pujaan devi; Margaret Read MacDonald. (Harus punya bukunya nieh!)

Begitulah selintas cerita tentang ASEAN Storytelling Festival kemarin. Rindu devi pun terbayar lunas. Entah apa masih bisa dapat kesempatan seperti ini lagi besok-besok. Tapi yang jelas, meski lelah sesudahnya, devi sangat bahagia. Storytelling always makes me happy.

Senin, Juli 21, 2008

Akhir Pekan Istimewa

Wah wiken (19-20/7) kemarin menyenangkan sekali buat devi. Enggak kok kita ga jalan kemana-mana, atau makan di resto yang mahal. Pengumuman buat semua, devi akhirnya MASAK. Yup! Amazing bukan? Dan sukses. Maksudnya masakannya jadi berwujud..hehehe... Dan rasanya oke lhoo...

Persiapannya butuh waktu satu minggu, mulai dari googling cari resep sampai akhirnya bisa dilaksanakan. Kenapa butuh waktu selama itu? Karena harus membandingkan resep yang satu dengan resep yang lain. Yang mana yang paling mudah...hahahaha...

Dan akhirnya pilihannya jatuh pada PUDING BUSA BUAH...hehehe... segala kebanggaan di atas tadi cuma untuk sebuah puding...hehehe... Iyalah bangga, soalnya devi jadi harus pegang panci dan mixer dalam satu kesempatan yang mana amat sangat jarang terjadi dalam hidup devi (haduh bahasanya berat sekalee yaa). Tapi bener lho untuk sebuah puding itu butuh niat yang benar-benar bulat. Klo enggak bakal seperti yang lain-lain, jadi wacana doang.

Dan inilah resep luar biasa itu yang bikin devi senang luar biasa :

BAHAN:
400 ml susu cair
1 bks agar2 warna putih (7 gram)
2 putih telur ayam
200 gr fruit cocktail kalengan, tiriskan

CARA MEMBUAT:
1. Masak susu, gula dan agar2 sampai mendidih, lalu angkat dan sisihkan
2. Kocok putih telur sampai kaku
3. Masukan susu + gula + agar-agar ke dalam putih telur, sedikit demi sedikit sambil diaduk2 hingga rata (ngga usah pake mixer, pakai sendok/spatula aja ngga apa2, yg penting rata).
4. Masukan fruit cocktail yg sudah ditiriskan
5. Tuang ke dalam cetakan.
6. Tunggu sampai dingin suhu ruangan, masukan ke lemari es.

Jangan ditanya soal rasa. Uenakk! Karena emang pada dasarnya devi suka manis, jadi puding ini cucok banget. (Thanks banget buat yang udah posting resp ini, tapi punten lupa link-nya). Sayangnya ayah and Qaisha ga begitu suka. Ayah malah lebih suka gadoin buah kalengnya. Yo wis, ndak papa. Jadi puding ini belum masuk ke dalam resolusi di awal tahun devi. Pun begitu udah bikin devi semangat masak yang lain lagi.

Selain bikin puding devi juga bikin milkshake coklat. Yang ini lebih gampang lagi...hehehe... Semua bahan tinggal masukin blender and voila!... jadilah. Berikut ini resepnya :

Bahan :
500ml susu
50 gr gula pasir
5 buah biskuit cokelat
6 kotak es batu, hancurkan
¼ liter ice cream chocolate
¼ liter ice cream vanila, untuk toping
buah strawberry segar/ cherry untuk hiasan

Cara membuat :
1. Masak susu, gula, biskuit, es batu, dan ice cream coklat ke dalam blender
2. Blender semua bahan, tuang ke dalam gelas2 tinggi, beri tiap gelas 1 sendok ice creamvanila, hias atasnya dengan strawberry atau buah cherry

Tapi devi mengabaikan bagian hiasan soalnya bawaannya udah pingin langsung minum aja...hehehe... Sempet lupa masukin biskuitnya, tapi ternyata ayah lebih suka ga pake biskuit. Lebih enak katanya.

Selain soal masak-memasak ini, wiken kemaren juga istimewa karena devi sempat "ngobrol" banyak sama Qaisha. Ceritanya belakangan ini Qaisha susah banget makan, nah tiba-tiba hari minggu itu pas bangun dari tidur siang dia tiba-tiba mau roti coklat yang lagi devi makan. Ya udah kita sharing aja. Sambil makan itu tiba-tiba Qaisha mulai ngoceh. Berikut kutipan obrolan kita :
Qaisha (Q) : Chahha wabbatta nmaumma..
Devi (D) : Oh ya? Kapan?
Q : Nanana...chapa..laa..baba
D : Oh jadi ya?
Q : Bebebbaa..ka..nanana...(sambil nunjuk-nunjuk kiri kanan)
D : Yang di sana itu?
Q : Hathatcha babba nnyayyau taauttha auuuthatha
D : Enggak juga sih, kayaknya lebih bagus yang di sana deh
Q :haykakka lallyuual mammautha gagggu lakathuihtak. nyaebjiyhn nayfbjjsyl nsjfregkl llaaujjtakloso. ahyjjsjk mayyjka (dengan gaya nyureng-nyurengnya)
D : Iya sih. qaisha lebih suka yang itu ya?
Q : Dhakkuuma...jahklsoagkldj jtzkalp ejghidjasd kshgyzhs (Sambil ketawa khasnya yang bikin matanya ilang)

Begitulah sekilas obrolan kami sampai akhirnya masuk waktunya Qaisha mandi. (Ga ngerti kan apa yang kita obrolin?...hehehe...) Abis Qaisha mandi dan pake baju baru dari budenya yang di Sunter kita jalan-jalan deh bedua aja, karna ayah hari minggu itu ada meeting organisasi. Tadinya mau muterin empang aja. Tapi tiba-tiba devi dapet ide mau bawa Qaisha ke TK di lingkungan kompleks siapa tahu dibuka. Devi sama sekali ga inget klo TK tersebut deket kandang ayam yang bikin Qaisha trauma sama ayam. Pantesan aja, yang tadinya sepanjang jalan Qaishanya ceria tiba-tiba waktu menuju jalan ke TK dia jadi tegang. Digendongan devi Qaisha megang baju devi kenceng banget dan ga mau devi turunin. Untungnya TK itu lagi ditutup, jadi kita ga bisa lama-lama di sana. Tapi diperjalanan pulang Qaisha udah ceria lagi. Di depan mesjid dekat TK itu Qaisha malah udah mau devi turunin biar jalan sendiri. Tapi ya itu bolak-balik liat kebelakang, takut ada ayam mungkin pikirnya.

Di depan empang kita main lompat-lompatan. Ceritanya mau nangkap burung yang lagi terbang di atas awan. Qaisha seneng liat burung-burung itu dan mulai nunjuk-nunjuk. Ya udah kita main tangkap burung, diambil dari permainan tangkap cicak. Tambah bingung kan?..hehehe.. Itu cuma sebutan kita aja untuk ngasih nama gayanya Qaisha yang lagi mau lompat. Dengan mengambil posisi setengah jongkok, lalu hitung sampai tiga, maka Qaisha akan melompat seoalah-olah mau nangkap cicak (atau burung dalam kasus wiken kemarin). So sepanjang jalan menuju rumah, di depan empang itu kita main tangkap burung. Kalo Qaisha ga diajak jalan kita bisa berhenti lama di satu titik cuma buat main lompat-lompatan itu. Trus pas ada polisi tidur kita main Naik-Turun. Sekalian buat ngajarin Qaisha konsep naik turun devi bikin heboh-hebohan aja. Awas-awas naikkk!, begitu komentar devi klo lagi manaiki polisi tidur yang tingginya ga seberapa itu. And klo turun : Turun..turunn..turunnn. Pokoknya cerewet pisan lah!

Begitu sampai di rumah kita ga langsung masuk, tapi main-main dulu sama mas Rafli, tetangga sebelah rumah. Kita nyanyi-nyanyi Topi Saya Bundar plus peragaannya and joget-joget ning nang ning nung...(hehehe...bingung lagi kan).

Jalan-jalan sore ternyata bikin Qaisha cukup lelah. Malamnya Qaisha ga tidur terlalu malam. Sekitar jam delapan malam dia sudah nyenyak di pelukan devi. Dan devi pun juga jatuh tertidur ngelonin Qaisha. Ah ternyata yang lelah bukan Qaisha aja....zzz...