Kamis, Agustus 21, 2008

Many Expression of Qaisha

Jangan cemberut dong, neng..


Uuu...love u tooo...uuu...









Aihh...lagi merayu nieh yee...











Kok bengong? Lagi merhatiin apa, neng?












Duh, cantiknya pake bandana...




Aaaaa....!!!!!









Ciluuukk...baa..!






Huhuhu...sebel deh klo neng udah begini.







Uhmm... serius amat.



Nah begini lebih cantik!






























Mimpi yang indah, cantik...

Aku hanya ingin...

Mengetik judul di atas jadi ingat puisinya Sapardi Djoko Damono yang luar biasa romantisnya itu:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat:
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat:
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.


Ah indahnya...

Hmm...(lagi menghayati ceritanya...hehehe..)

Tapi tulisan ini sama sekali ga ada hubungannya dengan puisi di atas maupun bernuansa romatis sedikit pun (hiks...). Tulisan ini adalah tentang keinginan terdalam devi saat ini. Dan yang jadi keinginan devi saat ini adalah INGIN BERSIH-BERSIH KAMAR. Duh rasanya pingiiinnn banget dapet libur panjang and stay di rumah buat ngebersihin kamar yang sudah lebih dari 2 minggu ga di pel-pel, pingiiiinnnn banget nyelesein setrikaan yang sudah sebulan menumpuk dan tak kunjung bisa devi selesaikan tuntas, pingiiiiinnnn banget ngembaliin fungsi meja kerja sebagai meja kerja dan bukan tempat menumpuk barang-barang "ajaib" supaya ayah bisa punya meja kerja. Hhh....(hela napas mode on).

Badan rasanya udah gatal-gatal klo masuk kamar. Masuk ke dalam kamar kaki rasanya berdebu seperti abis main bola di lapangan. Gregetan sebenernya pingin segera ngebersihin kamar. Pinginnya sih bisa punya waktu khusus buat beresin kamar and bukan sebentar-sebentar mencuri kesempatan klo Qaisha tidur atau lagi dibawa ayah keluar rumah, karena hasilnya pasti ga memuaskan (dalam artian tidak sebersih yang devi inginkan).

Simple banget sih sebenernya...

Well, mudah-mudahan bisa ketemu waktu khusus itu dalam waktu dekat ini dan biarlah waktu "mencuri-curi kesempatan" itu bisa devi manfaatkan maksimal. Meanwhile biarlah devi menikmati romantisnya puisi Pak Sapardi di atas dulu.

Hmmm...

Ah, memang puisi yang indah...

Kamis, Agustus 07, 2008

ASEAN Storytelling Festival....Sebuah Rindu

Yes, I miss storytelling a lot. Peran tambahan menjadi seorang ibu banyak mengurangi kesempatan untuk mendongeng dan bisa aktif di KPBA seperti dulu. Agak sedih sebenarnya. But this world is moving on, seperti halnya juga hidup devi. Maka ketika KPBA akhirnya memutuskan mengadakan festival mendongeng lagi setelah jeda 3 tahun -dari yang biasanya bianually- tak terkira senangnya devi. Datang juga kesempatan bisa bertemu dengan storyteller dari berbagai penjuru dunia dengan gaya khas dongengnya masing-masing. Pun juga kesempatan bisa tandem dengan mereka.

Berbeda dengan tema sebelumnya, kali ini fokus KPBA jatuh pada negara-negara ASEAN. Tamu-tamu yang diundang mengisi acara berasal dari negara-negara ASEAN, plus Jepang dan minus Vietnam. Cerita-cerita yang digulirkan juga terasa lebih familiar di telinga terutama dari negara yang masih dalam satu rumpun seperti Malaysia dan Brunei Darusalam. Lebih familiar juga karena nuansa dan secara geologis tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Susunan acaranya juga berbeda dengan festival dongeng sebelumnya. Kali ini ada juga workshop yang diadakan 2 kali setelah pementasan pagi dan siang. Jadi kali ini ada lebih banyak ilmu yang bisa devi dapat. Acara ini diadakan sejak tanggal 31 Juli - 4 Agustus 2008 di Bentara Budaya Jakarta.


Para pengisi acara

Kali ini devi berkesempatan mendampingi pendongeng dari Filipina bernama Carla Pacis. Seorang penulis buku anak dan berdasarkan CV termasuk orang yang mendirikan perkumpulan penulis buku anak di negaranya. Beliau juga seorang dosen. Orangnya sangat ramah dengan bahasa Inggris yang enak didengar dan mudah dimengerti (maksudnya ga ada aksen-aksen tagalognya).

Ketika pembukaan jujur devi tidak begitu bagus menerjemakannya di atas panggung. Entah kenapa. Ada beberapa saat yang devi harus terdiam untuk berpikir untuk menemukan kalimat yang cocok sebelum berbicara. Padahal cerita yang akan dibawaka Carla sudah devi terima jauh-jauh hari dan sudah devi baca berulang kali. Namun begitu di atas panggung tiba-tiba devi blank. Gaya bercerita Carla yang hanya membacakan teks dan kurang berekspresi terus terang sempat membuat devi tidak nyaman. Apalagi secara mendadak Carla menambahkan prolog tepat sesaat sebelum kami naik ke panggung. Walhasil terjemahan devi buruk sekali. Tapi Alhamdulillah semuanya terbalas pada hari kedua. Carla yang masih tetap membacakan teks ketika bercerita tidak membuat devi mengikuti gayanya yang menurut devi agak monoton seperti ketika di pembukaan. Devi bisa menterjemahkan cerita The Tricster Child dengan lebih bebas, santai dan nyaman. Ditambah lagi di awal cerita Carla mengajak anak-anak turut menari mengikuti irama seperti dalam perayaan di Filipina (Philippinos loves fiesta, ujar Carla suatu kali). Suasananya lebih cair dan devi lebih merasa percaya diri walaupun ketika itu peserta yang datang terdiri dari anak-akan TK yang ributnya luar biasa.

Pementasan selanjutnya dengan Carla jatuh pada hari Minggu (3/8). Kali ini Carla membawakan cerita yang berbeda. Menimbang anak-anak yang datang ternyata lebih kecil dari perkiraannya, akhirnya Carla memberi cerita yang baru. Cerita yang berjudul Mapun ini hanya sempat devi baca 2 kali, tapi ternyata justru pada cerita ini suasananya jauh lebih meriah. Carla yang tidak lagi membawaka teks tapi bercerita lepas malah membuat devi merasa lebih nyaman. Devi malah lebih bisa mengeksplorasi intonasi kalimat dan memilih kata yang lebih enak didengar. Cerita ini kemudian ditutup dengan sebuah lagu dari bahasa tagalog. Judulnya Crab Song. Dan kami pun ikut bernyanyi gembira sebelum menutup cerita.

Pengalaman mendampingi workshop jauh lebih seru lagi. Hari pertama devi tetap mendampingi Carla yang memberi materi Creative Writing. Waduh di sini pelajaran bahasa devi benar-benar diuji. Beberapa kata devi tidak tahu padanannya dalam bahasa Indonesia. Seperti contohnya kata alliteration. Dua peserta berasal dari sekolah internasional tidak memiliki hambatan memahami materi yang dibawakan dalam bahasa Inggris. Tapi selebihnya, sekitar 15 anak, harus devi terangkan kembali ke masing-masing anak. Dan ternyata materi Carla termasuk cukup mudah dicerna karena kemudian mereka berhasil membuat puisi pendek dan berani membacakan puisinya di depan peserta lainnya (atau penerjemahnya yang bagus ya....hehehe...boleh dong bangga:))

Tugas mendampingi yang devi pikir paling sulit adalah ketika mendampingi Chin Yahan, pendongeng dari Kamboja. Bebeda dengan Carla, Chin Yahan orangnya sangat pendiam dan tenang sekali, bahkan terlalu tenang. Ketika di panggung pun dia sama sekali tidak berekspresi. Mba Rika yang bertugas menerjemahkannya yang harus berusaha keras membuat ceritanya menarik untuk anak-anak. Dengan kondisi seperti itu, pada workshop Chin Yahan malah harus membawakan materi belajar mendongeng. Jujur awalnya devi ga kebayang akan seperti apa jadinya. Tapi ternyata justru di kelas inilah devi banyak mendapat materi mendongeng. Pertama-tama Chin Yahan bertanya ke peserta apa yang ingin mereka ketahui dari kelas ini. Para peserta ingin tahu cara metodologi mendongeng yang menarik. Lalu kemudian bergulir tanya jawab antara Chin Yahan dan peserta, dan dari pertanyaan dan jawaban itu Chin Yahan mengambil kesimpulannya. Setelah itu dilanjutkan dengan praktek mendongeng. Setelah salah satu peserta mendongeng maka peserta yang lainnya diminta menilai dan alasannya. Alasannya tentu saja diambil dari kesimpulan yang tadi diutarakan Chin Yahan. Dengan melakukan cara ini berkali-kali peserta pun jadi lebih faham dan ingat. Ternyata benar, don't judge the book by its cover. Di balik "kekaleman" Chin Yahan terdapat samudra yang sangatttt luaasss.

Mendampingi pendongeng dari Brunei malah menambah pengetahuan tentang negara kecil tersebut. Setelah Pak Cik Pawi dan Pak CiK Kifli mendongeng Si-Amas dengan menggunakan power point kami malah ngobrol tentang negara Brunei. Mereka berdua bercerita tentang Kampung Air juga tentang Sultan Brunei yang baru melangsungkan perayaan ulang tahunnya ke 62 yang berlangsung selama 2 pekan. Berhubung peserta sore itu berasal dari komunitas anak jalanan, harapannya dari obrolan yang cuma sejenak itu bisa memberikan inspirasi buat mereka bahwa dunia diluar sana luas dan siapa tahu salah satu dari mereka jadi punya cita-cita pergi ke sana (hopefully sih ga jadi TKI).

H. Pawi Tajudin dan H. Kifli

Mendampingi 2 ibu dari Malaysia devi malah mendapat tawaran sekaligus tantangan. Kelasnya waktu itu cuma diikuti oleh 3 peserta. Materi yang dibawakan adalah menulis cerita dan editing. Karena waktunya tidak mencukupi Ibu Izzah meminta kita mengirimkan cerita yang kerangkanya sudah dibuat di workshop itu ke dirinya setelah usai acara. Dan kalau bagus ia bersedia memasukan cerita tersebut ke salah satu majalah anak di malaysia dan mendapat bayaran. Tujuan bu Izzah supaya peserta bisa merasakan gimana jadi penulis yang sesungguhnya. mudah-mudahan saja ini ada follow up berikutnya. Dari kelas ini devi mendapat solusi dari kesulitan devi klo ingin menulis cerita, yaitu kerangka cerita. Devi sering bingung dengan akhir cerita yang sedang devi tulis. Dannnn jawabannya ada di proses membuat kerangka cerita. Yup, masukan yang berguna sekali!

Izzah Abdul Aziz dan Hasniah Hussain

Hari terakhir devi berkesempatan mengikuti kelasanya Wajuppa Tosa dari Thailand. Devi senang sekali bisa ikut kelasnya. Devi kebetulan tidak dijadwalkan mendampingi Wajuppa sejak semula, tapi berhubung pendongeng yang harus devi dampingi tiba-tiba tidak bisa mengadakan workshop karena terlalu lelah, langsung saja devi cabut ke kelasnya Wajuppa. Dan benar saja, kelasnya sangat menyenangkan. Wajuppa sangat mirip dengan Margaret MacDonald dalam mendongeng. Cerita-ceritanya simpel tapi menyenangkan. Selalu saja kami bisa dibawanya hanyut dan ikut berpartisipasi dalam cerita. Dan yang paling menyenangkan buat Devi, Wajuppa sempat membawakan cerita tentang menggosok gigi. Wah pas banget buat devi yang lagi ngajarain Qaisha menggosok gigi. Adanya lagunya lagi. Mudah-mudahan saja devi ga lupa nadanya...hehehe...

Hari terakhir festival ini ditutup dengan seminar (Senin 4/8) dengan pembicara semua pendongeng yang diundang. Devi ga banyak ikut serta hari itu karena bertugas menjaga buku yang sedang dipamerkan. Senang juga jagain buku yang dibawa para pendongeng itu karena devi jadi berkesempatan membaca buku itu satu persatu. Jadi bisa membandingkan perkembangan buku anak di negara-negara ASEAN. Menurut devi buku-buku anak dari Kamboja dan dan Laos kondisinya seperti perbukuan anak di Indonesia tahun 70-80-an. Di Thailand tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Filipina devi pikir sedikit lebih baik. Buku-buku non fiksinya bisa diolah dan ditampilkan dengan sangat menarik. Sedangkan Malaysia, devi pikir, sedikit di bawah Indonesia. Mungkin karena yang dibawa buku-buku terbitan lama. Buku-buku Jepang lebih meriah dan ilustrasinya sedikit lebih jenaka.

Salah satu buku yang dibawa Wajuppa adalah bukunya Margaret MacDonald yang berisi tentang pengalamannya mendongeng di berbagai negara dan menggunakan penerjemah dan/atau tandem dengan orang lokal. Isi buku tersebut lebih untuk menunjukkan bahwa jika suatu saat kita berkesempatan mendongeng di suatu tempat yang memiliki bahasa yang sangat berbeda maka itu bukanlah masalah. Penerjemah yang akan menjembatani perbedaan bahasa itu. Tapi menterjemahkan di sini berbeda dengan menterjemahkan biasa, karena yang dibawa adalah cerita untuk anak-anak. Di buku tersebut bu Murti menyumbang sebuah tulisan tentang tips dan trik mengelola penerjemah tersebut. Menurut bu Murti menterjemahkan di sini tidak bisa dianggap "sekedar" menterjemahkan tapi bisa disebut dongeng berduet atau tandem.

Dan yang lebih menyenangkan dari membaca bukunya Margaret, selain apa yang ditulis di sana amat sangat devi kenal, adalah devi menemukan nama devi tercantum di buku tersebut sebagai salah satu pendongeng yang suka dipasangakan dengan Margaret. Dengan amat sangat lengkap Margaret menulis nama Devi dan dianggap memiliki kemampuan komunikasi ke audiens dengan sangat baik... (suit...suit..) Bangganya! Padahal itu cuma satu kalimat dan orang ga akan kenal siapa itu Devina Erlita Farahsari, tapi tetap rasanya senangnya bukan main. Devi merasa sangat dihargai oleh pendongeng pujaan devi; Margaret Read MacDonald. (Harus punya bukunya nieh!)

Begitulah selintas cerita tentang ASEAN Storytelling Festival kemarin. Rindu devi pun terbayar lunas. Entah apa masih bisa dapat kesempatan seperti ini lagi besok-besok. Tapi yang jelas, meski lelah sesudahnya, devi sangat bahagia. Storytelling always makes me happy.

Senin, Juli 21, 2008

Akhir Pekan Istimewa

Wah wiken (19-20/7) kemarin menyenangkan sekali buat devi. Enggak kok kita ga jalan kemana-mana, atau makan di resto yang mahal. Pengumuman buat semua, devi akhirnya MASAK. Yup! Amazing bukan? Dan sukses. Maksudnya masakannya jadi berwujud..hehehe... Dan rasanya oke lhoo...

Persiapannya butuh waktu satu minggu, mulai dari googling cari resep sampai akhirnya bisa dilaksanakan. Kenapa butuh waktu selama itu? Karena harus membandingkan resep yang satu dengan resep yang lain. Yang mana yang paling mudah...hahahaha...

Dan akhirnya pilihannya jatuh pada PUDING BUSA BUAH...hehehe... segala kebanggaan di atas tadi cuma untuk sebuah puding...hehehe... Iyalah bangga, soalnya devi jadi harus pegang panci dan mixer dalam satu kesempatan yang mana amat sangat jarang terjadi dalam hidup devi (haduh bahasanya berat sekalee yaa). Tapi bener lho untuk sebuah puding itu butuh niat yang benar-benar bulat. Klo enggak bakal seperti yang lain-lain, jadi wacana doang.

Dan inilah resep luar biasa itu yang bikin devi senang luar biasa :

BAHAN:
400 ml susu cair
1 bks agar2 warna putih (7 gram)
2 putih telur ayam
200 gr fruit cocktail kalengan, tiriskan

CARA MEMBUAT:
1. Masak susu, gula dan agar2 sampai mendidih, lalu angkat dan sisihkan
2. Kocok putih telur sampai kaku
3. Masukan susu + gula + agar-agar ke dalam putih telur, sedikit demi sedikit sambil diaduk2 hingga rata (ngga usah pake mixer, pakai sendok/spatula aja ngga apa2, yg penting rata).
4. Masukan fruit cocktail yg sudah ditiriskan
5. Tuang ke dalam cetakan.
6. Tunggu sampai dingin suhu ruangan, masukan ke lemari es.

Jangan ditanya soal rasa. Uenakk! Karena emang pada dasarnya devi suka manis, jadi puding ini cucok banget. (Thanks banget buat yang udah posting resp ini, tapi punten lupa link-nya). Sayangnya ayah and Qaisha ga begitu suka. Ayah malah lebih suka gadoin buah kalengnya. Yo wis, ndak papa. Jadi puding ini belum masuk ke dalam resolusi di awal tahun devi. Pun begitu udah bikin devi semangat masak yang lain lagi.

Selain bikin puding devi juga bikin milkshake coklat. Yang ini lebih gampang lagi...hehehe... Semua bahan tinggal masukin blender and voila!... jadilah. Berikut ini resepnya :

Bahan :
500ml susu
50 gr gula pasir
5 buah biskuit cokelat
6 kotak es batu, hancurkan
¼ liter ice cream chocolate
¼ liter ice cream vanila, untuk toping
buah strawberry segar/ cherry untuk hiasan

Cara membuat :
1. Masak susu, gula, biskuit, es batu, dan ice cream coklat ke dalam blender
2. Blender semua bahan, tuang ke dalam gelas2 tinggi, beri tiap gelas 1 sendok ice creamvanila, hias atasnya dengan strawberry atau buah cherry

Tapi devi mengabaikan bagian hiasan soalnya bawaannya udah pingin langsung minum aja...hehehe... Sempet lupa masukin biskuitnya, tapi ternyata ayah lebih suka ga pake biskuit. Lebih enak katanya.

Selain soal masak-memasak ini, wiken kemaren juga istimewa karena devi sempat "ngobrol" banyak sama Qaisha. Ceritanya belakangan ini Qaisha susah banget makan, nah tiba-tiba hari minggu itu pas bangun dari tidur siang dia tiba-tiba mau roti coklat yang lagi devi makan. Ya udah kita sharing aja. Sambil makan itu tiba-tiba Qaisha mulai ngoceh. Berikut kutipan obrolan kita :
Qaisha (Q) : Chahha wabbatta nmaumma..
Devi (D) : Oh ya? Kapan?
Q : Nanana...chapa..laa..baba
D : Oh jadi ya?
Q : Bebebbaa..ka..nanana...(sambil nunjuk-nunjuk kiri kanan)
D : Yang di sana itu?
Q : Hathatcha babba nnyayyau taauttha auuuthatha
D : Enggak juga sih, kayaknya lebih bagus yang di sana deh
Q :haykakka lallyuual mammautha gagggu lakathuihtak. nyaebjiyhn nayfbjjsyl nsjfregkl llaaujjtakloso. ahyjjsjk mayyjka (dengan gaya nyureng-nyurengnya)
D : Iya sih. qaisha lebih suka yang itu ya?
Q : Dhakkuuma...jahklsoagkldj jtzkalp ejghidjasd kshgyzhs (Sambil ketawa khasnya yang bikin matanya ilang)

Begitulah sekilas obrolan kami sampai akhirnya masuk waktunya Qaisha mandi. (Ga ngerti kan apa yang kita obrolin?...hehehe...) Abis Qaisha mandi dan pake baju baru dari budenya yang di Sunter kita jalan-jalan deh bedua aja, karna ayah hari minggu itu ada meeting organisasi. Tadinya mau muterin empang aja. Tapi tiba-tiba devi dapet ide mau bawa Qaisha ke TK di lingkungan kompleks siapa tahu dibuka. Devi sama sekali ga inget klo TK tersebut deket kandang ayam yang bikin Qaisha trauma sama ayam. Pantesan aja, yang tadinya sepanjang jalan Qaishanya ceria tiba-tiba waktu menuju jalan ke TK dia jadi tegang. Digendongan devi Qaisha megang baju devi kenceng banget dan ga mau devi turunin. Untungnya TK itu lagi ditutup, jadi kita ga bisa lama-lama di sana. Tapi diperjalanan pulang Qaisha udah ceria lagi. Di depan mesjid dekat TK itu Qaisha malah udah mau devi turunin biar jalan sendiri. Tapi ya itu bolak-balik liat kebelakang, takut ada ayam mungkin pikirnya.

Di depan empang kita main lompat-lompatan. Ceritanya mau nangkap burung yang lagi terbang di atas awan. Qaisha seneng liat burung-burung itu dan mulai nunjuk-nunjuk. Ya udah kita main tangkap burung, diambil dari permainan tangkap cicak. Tambah bingung kan?..hehehe.. Itu cuma sebutan kita aja untuk ngasih nama gayanya Qaisha yang lagi mau lompat. Dengan mengambil posisi setengah jongkok, lalu hitung sampai tiga, maka Qaisha akan melompat seoalah-olah mau nangkap cicak (atau burung dalam kasus wiken kemarin). So sepanjang jalan menuju rumah, di depan empang itu kita main tangkap burung. Kalo Qaisha ga diajak jalan kita bisa berhenti lama di satu titik cuma buat main lompat-lompatan itu. Trus pas ada polisi tidur kita main Naik-Turun. Sekalian buat ngajarin Qaisha konsep naik turun devi bikin heboh-hebohan aja. Awas-awas naikkk!, begitu komentar devi klo lagi manaiki polisi tidur yang tingginya ga seberapa itu. And klo turun : Turun..turunn..turunnn. Pokoknya cerewet pisan lah!

Begitu sampai di rumah kita ga langsung masuk, tapi main-main dulu sama mas Rafli, tetangga sebelah rumah. Kita nyanyi-nyanyi Topi Saya Bundar plus peragaannya and joget-joget ning nang ning nung...(hehehe...bingung lagi kan).

Jalan-jalan sore ternyata bikin Qaisha cukup lelah. Malamnya Qaisha ga tidur terlalu malam. Sekitar jam delapan malam dia sudah nyenyak di pelukan devi. Dan devi pun juga jatuh tertidur ngelonin Qaisha. Ah ternyata yang lelah bukan Qaisha aja....zzz...

Selasa, Juli 15, 2008

From Birthday to Wedding

Hmm... berapa lama ya ga ngisi blog ini? Kira-kira hampir 3 bulan. Padahal banyak peristiwa penting yang terjadi. Gara-garanya ga berhasil-berhasil upload foto trus jadi mutung deh. "Ngambeg" ga ngisi-ngisi blog alias jadi males. Tapi thanks to mba Wiwit yang kemarin tiba-tiba nanya alamat blognya Qaisha and sempet edit beberapa kata yang devi salah ketik, devi jadi semangat lagi update blog ini.

Dannnn inilah kisah-kisah yang terjadi sekitar 2 bulan ini... here we go!

Bulan Mei adalah bulan istimewa buat devi. Selain universary, di bulan itu Qaisha lahir di dunia. Lebih awal 2 minggu dari perkiraan dokter. Cukup mengejutkan dan sempet bikin panik karena terasa mules-mulesnya jam 2 pagi. I wasn't sure what was going on at that time. Ga yakin apakah itu tanda-tanda mau melahirkan atau hanya imajinasi saja karna sakiitnya yang timbul tenggelam. Tapi ternyata sakit perutnya semakin menjadi dan semakin sering. Langsung telpon dokter. Devi pun ga bilang mules, bilangnya sakit perut bagian bawah. Dokter Yahya yang selama ini menangani devi akhirnya menyarankan klo sakitnya udah 10 menit sekali langsung aja ke rumah sakit. Ya udah, akhirnya pagi-pagi buta jam 3 kita berangkat ke rumah sakit. Sampai di sana jam 03.30 dan langsung dibawa ke ruang bersalin.

Alhamdulillah persalinannya berjalan lancar. Ayah sempat menemani devi melalui masa-masa mulas yang luar biasa itu meskipun tak sampai akhir. Tak apa, setidaknya ayah melihat dengan kepala sendiri bagaimana seorang wanita harus melalui tahapan-tahapn luar biasa untuk menghantarkan mahluk indah ke dunia ini. Maka tak lama setelah adzan subuh berkumandang, bayi merah mungil itu lahir ke dunia. Penuh haru dan suka cita. Tak bisa dilukiskan bagaimana perasaan devi ketika itu.

Sayang devi belum mengenal IMD (Inisiasi Menyusui Dini) ketika itu, jadi Qaisha hanya sebentar diletakkan di perut devi untuk segera dibawa dan dibersihkan. Tak lama setelah itu devi mendengar ayah mengazankan Qaisha.

Hari itu menjadi hari yang luar biasa. Qaisha Fitria Sabilla menjadi kado pernikahan yang istimewa bagi devi dan ayah. Dan ketika untuk pertama kalinya Qaishan berada didalam pelukan devi dengan balutan selimut rumah sakit, ketika itulah devi merasa jadi wanita seutuhnya. Tak lagi menjadi seorang Devina sendiri, namun juga anak, adik, istri dan ibu dalam waktu yang bersamaan. Keempat peran ini sejak itu harus devi jalani dengan segala kelebihan dan kekurangan devi layaknya hamba Allah.

Devi ga bisa lupa bagaimana rasanya ketika Qaisha pertama kali menyusu pada payudara devi. Sakit, geli campur baur... hehehe.. Ga pernah kebayang deh sebelumnya. Tapi seiring berjalannya waktu devi sangat menikmatinya aktivitas luar biasa itu. Maka sejak itu, seorang malaikat kecil hadir di tengah-tengah kami, membawa kebahagiaan tersendiri. Membuat rumah menjadi lebih berwarna, menghadirkan tawa dan tangis baru serta senyum yang lebih sering terulas di wajah eyang dan pak de.

Tanggal 31 Mei 2008 kemarin ulang tahun pertama Qaisha dan tidak kami rayakan. Hanya mengirimkan sekotak nasi lemak untuk tetangga kiri kanan dan teman-teman Qaisha yang biasanya main di saung. Sebuah buku kecil terbitan KPBA menghantarkan nasi kotak tersebut sebagai tanda maksud dari kiriman tersebut.



Devi juga memesan kue dari Ira, teman kuliah yang tiba-tiba menjadi pebisnis kue yang handal. Pada hari itu Blackforest dengan wajah imut Qaisha dan tokoh Winnie the Pooh sebagai hiasannya datang ke rumah kami bersamaan dengan hadirnya saudara-saudara dan sang embah dari Sunter.


Tak banyak yang kami lakukan di hari itu, selain karena devi sibuk membantu eyang menyiapkan hantaran nasi kotak kami memang tidak menyiapkan sesuatu yang wah. Meskipun begitu, ucapan selamat yang tulus serta kado istimewa dari mbah, pak de, bu de dan sepupu-sepupu Qaisha adalah lebih dari cukup. Sayang mereka dan perhatian mereka merupakan anugrah yang tak mungkin dapat kami meminta lebih.


Menanjak ke bulan berikutnya yaitu bulan Juni. Hari istimewa di bulan Juni adalah ulang tahun eyang. Tak banyak yang bisa devi kasih ke eyang selain ucapan ulang tahun dan sebuah kado dari ayah, devi dan Qaisha. Tak lupa tentunya doa-doa devi untuk eyang setiap hari. Bertahun-tahun devi selalu merepotkan eyang, dan kini pun setelah hadir Qaisha devi masih tetap merepotkan eyang dengan meminta beliau menjaga Qaisha selama devi bekerja. Ah.. resiko devi tetap bekerja setelah memiliki anak, tetap eyang ketiban capeknya.

Di bulan itu juga ada peristiwa penting bagi devi, yaitu menikahnya teman dekat, sahabat kecil, dan tetangga tersayang; Santi. Pernikahannya sederhana dan dilangsungkan di mesjid kompleks rumah. Acara ini sangat istimewa selain karena yang menikah sahabat sendiri tapi juga karena devi banyak dilibatkan di sana. Senangnya bisa turut andil dalam peristiwa penting sahabat kita. Acara pernikahan devi juga banyak dibantu Santi yang waktu itu devi mintai tolong dengan mendadak. Pas hari H-nya devi tetap menggendong Qaisha ke mana-mana. Padahal waktu itu devi harus bergerak ke sana-kemari. Qaisha keliatan fun-fun aja. Karena acaranya di mesjid kami pun jadi banyak bermain-main di sana. Qaisha bahkan sempat tertidur pulas di mesjid dan baru terbangun ketika adzan Dzuhur dikumandangkan.


Santi is one of my dearest friend. Kami tumbuh bersama-sama. Dengannya devi berbagi cerita dan masa kanak-kanak. Santi adalah pendengar setia cerita-cerita devi dulu ketika ia belum bisa membaca. Teman bermain dan memanjat di atas pohon jambu manis dan buah seri. Usia kami terpaut tiga tahun, namun jarak yang tak jauh itu memungkin devi melihatnya tumbuh dan berkembang dari seorang anak kecil menjadi remaja lalu dewasa. Banyak hal yang telah kami bagi. Devi pernah melihatnya tertawa senang, menangis sedih, bahkan letih dalam studi dan kerjanya. Namun satu hal yang selalu devi dapat darinya adalah keceriaan dan optimisme yang tak pernah padam dari sosoknya yang sederhana.

Dan kini ia telah menemukan pendamping hidupnya dan sedang memulai kehidupan barunya. Doa devi semoga rahmat Allah selalu menyertai hari-harinya. Sebenernya agak sedih juga karena setelah menikah ia pindah ke rumahnya sendiri. Sedih juga karena ga bisa denger ketawanya yang kencang yang sampai terdengar ke rumah tetangga, atau senandung-senandung jenakanya ketika ia sedang mencuci di belakang rumahnya. Tapi kalau ingat ia sudah ada yang menjaga, menyayanginya dan membahagiakannya, rasanya devi tidak terlalu sedih lagi.

Hmm...ternyata banyak juga ya peristiwa penting yang terjadi dalam 2 bulan ini. Namun yang lebih penting lagi, dalam kesempatan menulis ini memberikan devi kesempatan untuk merenung dan melihat kembali serta lebih menghargai apa yang sudah devi miliki saat ini. Devi bersyukur sekali bahwa saat ini devi masih dikelilingi oleh orang-orang yang devi sayangi dan menyayangi devi.

Jumat, Mei 09, 2008

Happy Anniversary

Hari Rabu (7/5) kemarin adalah anniversary devi dan ayah yang ke dua. Baru dua tahun biduk perkawinan kami berjalan. Pasang surut emosi pasti ada, namun lebih banyak yang masih terpendam. Kami masih harus banyak belajar. Belajar tentang hidup berumah tangga, belajar tentang diri sendiri dan pasangan, juga tentang hidup itu sendiri.

Seorang buah hati telah hadir di antara kami. Bayi mungil cantik yang mengisi hari-hari kami dengan tawanya, senyumnya, tangisnya, dan ulahnya yang membawa kehangatan kedalam relung hati kami. Hanya dengan ijin Allah-lah malaikat kecil kami itu akan menjadi perekat ikatan kami berdua dalam mengarungi ibadah rumah tangga ini.

Jalan kami ke depan masih panjang, insya Allah. Harapan kami petunjuk dan rahmat Allah akan selalu menyertai di setiap langkah kecil perjalanan ini. Amin.

Senin, April 14, 2008

To the Zoo...

Akhirnya Qaisha pergi kebun binatang juga. Udah lama pingin ngajak Qaisha ke sana melihat dia suka begitu antusiasnya klo ketemu kucing dan klo liat program binatang di televisi. So berangkat lah kami ke bonbin Ragunan Sabtu (12/4) kemarin dengan rencana yang amat sangat mendadak. Ga ada rencana awalnya. Ayah tiba-tiba pingin jalan-jalan. Tadinya pingin liat-liat mainan di Cipinang yang terkenal dengan pusat mainannya yang murah meriah. Tapi akhirnya diputuskan untuk pergi ke Ragunan aja. Jam 14.00 wib kita berangkat. Udah siang banget, sampe di Ragunan sekitar jam setengah 3 lewat. Udaranya hari itu mendung. Begitu masuk ke arenanya pun tiba-tiba gerimis. Tapi syukurnya ga terlalu lebat, so kita masih bisa menikmati jalan-jalan di sana.

Ragunan sudah banyak berubah dari terakhir kali devi ke sana. Devi ingat terakhir kali devi ke sana bareng Yanti Sudianti. Duh udah lama banget, jamannya kuliah. Dulu ingat waktu pertama kali masuk kandang yang pertama kali kita liat adalah kandang gajah. Dan kemarin kandang itu terlihat lebih lengang dari terakhir devi lihat. Ternyata ada pelebaran kandang gajah yang mendapat bantuan dana dari nyonya Schmutzer (punten klo salah nulisnya). Jadi inget kandang gorila yang baru juga dapet bantuan yang sama. Mungkin selain bangun kandang gorila, ragunan juga makin mempercantik dirinya. Karena sekarang juga ada arena bermain untuk anak-anak. Dan devi ngerasa banget klo ragunan semakin luas.

Sayangnya kita ga bisa menjelajahi semua wilayah berhubung hari udah mulai sore. Pertama kali masuk kita dipertemukan dengan rusa, sayang Qaisha masih tidur waktu pertama kali melangkahkan kaki ke dalam. Setelah beranjak sebentar dari kandang rusa baru Qaisha terbangun dan nampak bingung. "Lagi ada dimana aku sekarang?" mungkin begitu pikirnya, karena dihadapannya ada burung unta yang sedang mematuk-matuki pagar. Dari kandang burung unta kita berhenti sebentar karena gerimis yang turun mulai sedikit lebat. Sambil minum sebentar kita juga berusaha "menyadarkan" Qaisha yang nyawanya masih belum ngumpul...hehehe... Lucu liat wajah bangun tidurnya.


Setelah agak reda kita pun mulai melanjutkan perjalanan. Kandang berikutnya adalah kandang gajah hasil perluasan seperti yang devi sebut di atas. Di depan kandang gajah terdapat kandang kijang (atau rusa juga?) Aduh devi masih belum bisa membedakan binatang-binatang jenis tersebut. (atau malah kancil ya???).

Hari itu Ragunan tidak terlalu ramai meskipun jatuhnya weekend. So kita pun menikmati jalan-jalan sekeliling ragunan yang bisa dibilang sepi. Tak jauh dari kandang kijang (atau rusa? atau kancil? Lain kali dicatat deh) tadi kita bertemu dengan kandang gajah lagi, tapi ini yang lama. Hanya ada 2 gajah yang ada. Itu pun mereka berdua dipisahkan dengan sekat (entah kenapa). Beranjak dari kandang gajah yang terbuka tadi terdapat kandang komodo. Tapi untuk melihat komodo mata kita harus awas, karena sering binatang satu ini saru dengan batu yang warnanya juga kecoklatan. Di depan kandang komodo terdapat kandang kangguru. Pinginnya sih ngeliat binatang itu loncat-loncat seperti di film-film dokumenter di TV, tapi apa daya akang yang satu ini hanya duduk dengan malas di tengah-tengah kandang sambil sibuk mengunyah-ngunyah rumput dengan santai.

Dari sana kita berhenti lagi untuk menikmati kerak telor yang banyak dijual di sana, juga sekalian nyuapin Qaisha. Di sini pun kita ga lama karena Qaisha juga ga betah berdiam diri lama-lama. Tujuan kita selanjutnya adalah kandang harimau. Tapi sayang hari keburu sore akhirnya kita malah menemukan kandang beraneka ragam burung dan kalelawar. Tak jauh dari situ ada juga kandang ular. Untungnya ular berbisa ini tak satupun yang kelihatan, duh klao ada langsung kabur deh. I hate snake!

Sebelum pulang kita sempat melihat orang yang sedang syuting film, tapi ga tahu untuk film apa. And you know what? Mereka lagi mengambil gambar HARIMAU!! Ga ketemu kandangnya tetapi toh kita tetap bisa melihat harimaunya...hehehe... Qaisha sih keliatan bingung liat banyak orangnya dibanding liat harimaunya.

Dari sana akhirnya kita memutuskan untuk pulang, karena hari udah cukup sore. Awan mendung juga semakin tebal. Jalan-jalannya Qaisha ke kebun binatang memang cuma sebentar, tapi Insya Allah kita bisa balik lagi ya neng...