Rabu, Juni 03, 2009

Hectic May 2009

Bulan Mei tahun ini menjadi bulan yang menyibukkan. Banyak hal yang menyita pikiran dan banyak pekerjaan fisik. Yang pertama adalah soal kepindahan devi dari tempat kerja yang lama. Segala urusan administrative dan pekerjaan yang tertunda selama ini devi selesaikan di hari-hari terakhir. Kebiasaan buruk devi yang selalu menunda-nunda pekerjaan…phew.. Meninggalkan sahabat, teman, rekan sekerja juga merupakan hal yang menyita perasaan tersendiri. Hari terakhir devi di sana si bos mengadakan acara perpisahaan di restoran mewah, memberi hadiah jam tangan mahal dan sebuah handphone untuk menggantikan handphone jadul devi. Ini handphone paling canggih yang pernah devi miliki…hehehe… Bisa untuk kamera, video, radio, GPRS (yang sampai sekarang masih belum diaktifkan), wah pokoknya lengkap deh. Thank you ya, bos.


Menjelang sore devi baru sempat berkeliling untuk pamit ke teman-teman di dua lantai lainnya. Senang akhirnya bisa berkeliling ke lantai-laintai itu karena selama ini devi lebih banyak berkutat di lantai 19 saja. Devi memang bukan orang yang sering bergaul, tegur sapa lebih sering untuk urusan pekerjaan dan itu pun lebih banyak di telpon. Jadi ada juga yang devi baru liat wajahnya pas hari terakhir itu setelah selama ini Cuma berhubungan di telpon….hehehe…kacau. Padahal masih dalam satu gedung. Tapi tetap yang paling berat adalah meninggalkan teman-teman di satu divisi. Setiap hari kami bertemu, setiap kali kami selalu becanda dan berbagi kesedihan. Meninggalkan mereka seperti meninggalkan keluarga sendiri. Ketika pulang seorang teman sempat mengirimkan pesan pendek yang bikin terharu. Tak menyangka pertemanan kami selama ini dapat menjadi penghibur buatnya di tengah perpolitikan kantor yang harus dia geluti.


Orang yang paling berat devi tinggalkn adalah mama bintang luna. Dia adalah orang yang pertam kali devi tuju. Mulai dari pinjam barang, nanya bikin surat, denger gossip baru sampe urusan curhat-curhat pribadi. Dia adalah sahabat, tempat devi berkeluh kesah, tempat devi bertanya, sharing dan diskusi tentang apa saja. Kalau mendengar sesuatu yang baru baik itu urusan kantor atau gossip-gosip ga jelas para artis rasanya ga sreg klo ga cerita dulu ke mama bintang luna. Karena kami berdua sama-sama ibu-ibu muda jadi pembicaraan apa pun rasanya nyambung aja. Permasalahan rumah tangga yang kami alami hampir-hampir sama jadi sering dev menemukan solusi dari mendengar ceritanya. Kami sebenernya dua karakter yang saling berbeda. Devi lebih cenderung pendiam dan mama bintang luna lebih terbuka orangnya. Tapi entah kenapa devi selalu bisa bercerita apa saja. Devi bukanlah orang yang mudah bergaul dengan orang. Jadi meninggalkan mama bintang luna adalah kehilangan tersendiri….


Hal kedua yang terjadi di bulan mei ini adalah tentu berhubungan dengan kepindahan kerja devi yaitu di tempat baru. Setelah empat hari libur dari rutinitas kerja, Senin 25 Mei 2009 devi mulai menjalani kerja di kantor baru. Namanya baru, segalanya serba baru buat devi. Banyak penyesuaian yang harus devi jalani. Mulai dari penyesuaian fasilitas kntor, sarana dan pasarana, juga ritme kerjanya. Tanggung jawab yang baru ini lebih besar. Urusan administrasi yang amat sangat menjengkelkan lebih banyak dan lebih detil. I hate them already, to be honest. Tapi kesempatan belajar yang diberikan jauuuuh lebih luas. Ada yang mudah, ada yang sulit cara penyampaiannya, juga ada yang menyenangkan. Bisa bertemu banyak orang menjadi kesenangan tersendiri. Pun begitu dia punya bentuk stress tersendiri.


Di bulan Mei ini juga devi mendapat pembeli pertama kue devi. Tidak menyangka sama sekali. Sebenernya dia sudah pesan beberapa bulan sebelumnya. Sejak ultah ayah malah, setelah melihat kue ultah ayah. Tapi realisasinya di bulan Mei ini. Bayangkan ditengah sibuknya pikiran devi pindah kantor dan menyesuaikan diri di tempat baru devi juga harus memikirkan bikin kue pesanan orang. Seperti yang sudah devi ceritakan, bikin kue macam ini butuh konsentrasi dan pemikiran penuh sehingga butuh waktu lama. Kue ayah dulu butuh waktu dua bulan, nah kalau yang ini ternyata cukup satu bulan saja…hehehe… Setidaknya udah tahu apa aja yang dibutuhin dari mengerjakan kue ultah ayah dulu. Tapi tetep pelaksanaannya rbt-ribet juga…hehehe… Tapi seneng banget ada orang yang percaya kuenya dibuatin devi. Kue ulang tahun buat anaknya pula. Wah harus kasih penghormatan nih karena udah berani pesen kue ke devi…hehehe…


Bicara soal kue, untuk perpisahan di kantor devi juga buat kue khusus. Di atasnya ada foto-foto temen-temen satu divisi. Sayangnya kuenya ga sempet di foto. Dannnnnn yang paling menyenangkan adalah si bos bilang enak kuenya. Setelah sekian lama menyangsikan kalo devi bisa bikin kue, akhirnya kata-kata enak itu pun bisa juga keluar dari mulutnya si bos…hehehe… Bos devi itu selera makannya tinggi. Makanya kalau kata-kata enak itu bisa keluar dari mulutnya wah itu pujian luarrrrr biasa. Tapi kenapa abis makan kue devi dia batuk-batuk ya????...hhehehe…..


Hari besar di bulan Mei untuk devi, ayah dan Qaisha adalah anniversary devi dan ayah, serta ulang tahunnya Qaisha. Tapi rupanya tahun ini devi dan ayah tiba-tiba terserang penyakit pikun. None of us remember our anniversary! Devi inget setelah seminggu lewat, itu pun karena mama bintang luna ngucapin happy belated anniversary…hehehe… Kami bener-bener pasangan yang payah. Baru tiga tahun menikah sudah melupakan hari ulang tahun pernikahan kami. Apa karena kami sudah menganggap tanggal itu tidak penting lagi jadi begitu mudahnya kami lupakan?...hehehe…


Tapi tenang, ulang tahun Qaisha devi dan ayah ga lupa kok. Awal bulan Mei eyang sudah kasih kado sepeda baru buat Qaisha. Meskipun kakinya belum nyampe di sadelnya waktu posisi berputar di bawah, tapi Qaisha senang sekali dengan sepeda pinknya itu. Meskipun devi konsen ke kue ulang tahun pesanan orang yang Cuma beda sehari dengan ultahnya Qaisha, Alhamdulillah devi masih bisa bikin kue buat hari ulang tahunnya Qaisha. Bikinnya kue yang gampang-gampang aja buat di kasih ke teman mainnya Qaisha. Ga ada acara tiup lilin atau potong kue. Devi Cuma ngasih bingkisan sederhana buat temen-temenya Qaisha. Dan seperti tahun lalu, embah dan saudara-saudara dari sunter datang ke rumah. I’m so happy seeing Qaisha could enjoy her time with her auntie, nephews and niece. She even wants to go to sunter with them when they say goodbye.


Hhhhh…it’s been very busy month and its also a big month. I have made big decision and I'm walking on it now.


Rabu, Mei 13, 2009

Amaze by Words

Percakapan ini terjadi setelah Qaisha nelpon eyangnya di Semarang. Devi hanya ingin tahu jawaban apa yang Qaisha kasih terhadap pertanyaan-pertanyaan yang belakangan ini kayaknya lumayan sering ditanyain orang.

Devi : Namanya siapaaa?
Qaisha : Kecha
Devi : Oo... Qaisha. Udah sekolah belum?
Qaisha : Udahhh
Devi : Udah kelas berapa sekarang?
Qaisha : Lima (Jawaban yang selalu dikasih untuk pertanyaan yang ada kata Berapa-nya)
Devi : Wah pinter yah. Emang sekolahnya dimana?
Qaisha : Disono (Sambil nunjuk-nunjuk keluar dengan bibir maju 2 senti)
Devi : Oo di sana. Kalo ke sekolah naik apa?
Qaisha : Odong-odong
Devi : ???? Hehehe... Odong-odongnya di sewa ya neng...hehehe...

Devi selalu terkejut dengan perkembangan bahasa Qaisha. Sekarang memang masih dalam tahap mengenali kata-kata benda dan bisa menyusun dua kata saja seperti "Ibu cholat", "Kecha mimi" dsb. Tapi sering kalau di pancing Qaisha akan berceloteh panjaaaang dan lebarrrr...tentunya dengan kalimat yang terbata-bata devi ikuti. Devinya lho yang terbata-bata. Qaishanya sih ngoceh aja terussss.

Satu kalimat panjang yang belakangan ini kerap diulang adalah : "Ayah udah mandi kannn?" sambil kepalanya dimiringin. Kalimat ini diucapkan ga cuma pas ngeliat ayah selesai mandi, devi selesai sholat juga dibilang "Udah mandi kan??", ga ada apa-apa pun tiba-tiba nyeletuk "Udah mandi kannn?" plus kepala miringnya. Hehehe...lucu ngeliatnya.

Paling seru kalo ngeliat ayah dan Qaisha lagi ngobrol berdua. Ayah tuh paling jago mancing Qaisha berceloteh. Bahan ceritanya sih ngaco abis, tapi kalo ngeliat Qaisha cerita plus mimiknya jadi seru banget. Seperti misalnya yang terjadi semalam :

Situasi : Di kamar tidur, di atas tempat tidur.
Ayah : Kemarin kan cicaknya di sana (Sambil nunjuk atap) Trus ada cacing.
Qaisha : Cacing, ibu cacing (Sambil cerita ke devi)
Ayah : Cacingnya digigit nyamuk. (????)
Qaisha : Digigit nyamuk. Cacingnya. Nyamuk (Masih cerita ke devi)
Ayah : Disini digigitnya (sambil nunjuk tangannya Qaisha)
Qaisha : Cacingnya. Cacingnya. Nyamuk. Digigit nyamuk (Cerita ke devi dengan antusias dan serius)
Devi : Oh iya, ya. Cacingnya digigit nyamuk ya (Sambil terkesima memperhatikan mimik serius Qaisha)
Ayah : Iya digit nyamuk, terus kena DB.
Qaisha : Digigit nyamuk. Cacingnya...cacingnya ibu... Cacingnya...nyamuk..
Terus begitu berulang-ulang cacing, nyamuk, digigit dengan latar ayah yang terus ngomporin cerita cacing digit nyamuk ini sampe akhirnya Qaisha minta turun.
Qaisha : Tuyun ibu, tuyun. Bawah.
Weleh-weleh ayah, kasiah atuh anaknya ngoceh ga jelas...hehehe...

Kadang devi ngerasa Qaisha tuh pingin banget cerita banyak, tapi karena keterbatasan kosa katanya banyak kata yang hanya diulang-ulang terus, tapi dilakukan dengan semangat empat lima. Apalagi kalo merhatiin bibirnya yang maju kalo lagi cerita seru, wahhhh...lucu banget!!

Yang lebih mengagetkan kalo tiba-tiba Qaisha mengucapka satu kata yang seinget devi ga pernah devi atau ayah pernah utarakan. Seperti kalimat "ayah udah mandi kan?" di atas tadi sepertinya devi ga pernah mengucapkan kalimat itu, tapi Qaisha tiba-tiba sudah bisa membentuk satu kalimat itu. It's so amazing! Tapi jadi perlu waspada juga nieh, jangan sampe devi, ayah atau orang-orang yang ada di rumah ngeluarin kata atau kalimat yang aneh-aneh atau bahkan kasar karena begitu mudahnya kata/kalimat itu menyerap pada ingatan Qaisha. Mudah-mudahan saja lisan kami dapat terjaga karena kami juga ingin Qaisha bisa menjaga tutur katanya.

Selasa, Mei 05, 2009

Antara Brownies Kukus dan Klapertaart

Judulnya sih ga nyambung...hehehe.. Karena ini adalah cerita kue yang tercecer di bulan April. Ada beberapa event yang devi dengan bersemangat menyambutnya dengan meniatkan bikin sesuatu yang istimewa, sesuatu yang tidak biasa karena ini buat orang-orang tersayangggg. Haduuhh prolognya ampyunn deh...hehehe... Soalnya hasilnya ga seistimewa itu...hahaha...

Tanggal 6 April Eyang mau ngadain acara arisan buat RT, secara sejak Qaisha lahir selalu berhasil menghindar ketempatan arisan. Pasti mintanya diadain ditempat yang lain klo pas dapet arisan. Jadi rencananya Eyang mau makan-makan gudeg aja terus kuenya devi menawarkan diri ngebuatinnya. Ada resep Brownies Kukus yang pingin devi coba dan bahannya gampang yang devi baca di milis NCC dan di blog yang empunya resep. Bisa jadi andalan resep yang gampang dan enak nieh. Berikut ini resepnya yang diambil di sini :

Brownies Kukus Ala Eni'c



Bahan :
6 butir telur
1 gelas munjung gula pasir
1 gelas munjung Terigu
3 sendok munjung coklat bubuk (coklat BF), ayak (Devi campur sama terigu dulu baru diayak)
1 gelas minyak goreng
½ gelas susu kental manis coklat (susu bisa di tambah sesuai selera max ¾ gelas)
1 sdm TBM
Coklat blok atau coklat meises secukupnya u taburan pada lapisan kue (devi pake meises aja)
Kacang almond untuk topping (devi ga pake)
Loyang ukuran 20x20, oles margarine dan taburi dengan terigu sampai rata

Cara Membuatnya :
Kocok dengan kecepatan tinggi telur, gula pasir dan TBM sampai mengembang, dan berwarna putih pucat
Masukan terigu, ayakan coklat bubuk, aduk rata
Terakhir masukan minyak goreng dan susu kental manis coklat, aduk rata. Pastikan minyak benar2 rata dan tidak mengendap di dasar loyang.
Tuang setengah adonan dalam Loyang
Panaskan kukusan sampai air mendidih
Kukus selama 20 menit.
Setelah 20 menit, taburkan coklat meises atau parutan coklat blok.
Tuang sisa adonan, taburi kacang dan kukus lagi 20 menit
Keluarkan kue yang sudah matang dr Loyang setelah kering.

Devi udah dua kali bikin kue ini, hasilnya banyak yang suka. Eyang malah lebih suka brownis ini dari pada yang resep NCC. Mbahnya Qaisha juga suka dan malah ada saudara yang minta resepnya. Kalo devi sih suka karena bahannya lebih ekonomis tapi buat devi rasanya masih kurang nyoklat, soalnya suka banget sama coklat sihhh.




Lalu berlanjut ke kue berikutnya. Bulan April juga merupakan bulan ulang tahun devi. Dari jauh-jauh hari udah mikir mau bikun apa yang simpel aja soalnya hari ultah devi jatuhnya pas hari kerja. Pinginnya juga bikin sesuatu yang beda. Pilihan jatuh ke Klapertaart. Browsing sana-sini emang banyak nemu resep kue ini. Ada yang terkenal banget karena enaknya, tapi bikinnya ribettt. Pingin nyoba resep Klapertaart Hana tapi belum pernah makan tuh klapertart itu. So pilihan terakhir jatuh ke Klapertart Praktisnya Bunda Inong. Klo ini sih udah pernah bikin dan rasanya enak. Ayah suka sekali Klapertart praktis ini. Cerita dan resepnya bisa dilihat di sini.

Devi bikin dalam dua tempat berbeda, dalam loyang aluminium besar dan dalam cup-cup aluminium kecil. Komentar temen yang asli Manado sih it's not klapertaart. Iya juga sih lebih kayak puding roti mungkin ya. Tapi tetep enak kok dan gampang banget bikinnya. Tapi kenapa ya kayaknya lebih enak yang buatan pertama dibanding yang ini?

Berikut ini penampakannya :




Kue Singkong... atau Cake Singkong??

Memenuhi permintaan ayah yang udah sejak jaman baheula pingin dibikinin kue dari bahan singkong, akhirnya wiken kemarin devi berhasil memenuhi permintaan tersebut. Kenapa baru sekarang? Alasannya sih gampang aja : 1. Devi ga terlalu suka sama makanan yang berbahan singkong, 2. udah ngerti klo bahannya singkong pasti rada-rada ribet deh buatnya karena pasti ada proses pengupasan and marut, 3. ndilalah resep kue yang berbahan singkong kok tiba-tiba lupa nyimpennya...hehehe... *klo ini mah sengaja dilupain*. Alhasil baru sekarang deh bisa bikinnya. Itu pun setelah ayah menyatakan bersedia marutin singkongnya. Yo wis, pas ke pasar ada yang jual singkong ayah langsung beli. Ga tanggung-tanggung ayah langsung beli 2 kilo, itu pun karna devi protes jangan beli banyak-banyak, sebelumnya malah udah nimbang 3 kilo...weleh..weleh si ayah ngidam bangets yaks??

Sampe di rumah langsung nanya Eyang resep kue singkong. Dulu eyang suka bikin kue singkong yang enak dan sempet dipesen teman kantor. Dan aha ternyata cara bikinnya gampang banget (kecuali bagian marutnya yah) dan bahannya juga ga macem-macem. Tapi karena ini resep udah cukup berumur (nyonteknya aja dibuku eyang yang udah kumal, tulisan tangan pula yang ga detil cara bikinnya) ukuran yang dipake pun campursari; ada yang pake gelas ada yang pake gram. Tapi gampang kok ngikutinnya.

Resep aslinya bernama Kue Singkong Keju, tapi karena kemaren ga ada keju jadi namanya Kue Singkong ajah. Berikut ini resepnya:

Kue Singkong



Bahan :
2 gelas singkong setelah diperas (devi kemarin dari 1kg singkong)
1/2 gelas santan (devi pake Cocomas)
200gr gula pasir
4 telur

Cara membuat :
1. Parut singkong dan peras menggunakan kain saringan.
2. Kocok telur dan gula sampai mengembang.
3. Masukkan parutan singkong sedikit demi sedikit sambil diaduk rata.
4. Masukkan santan sedikit demi sedikit.
5. Bagi adonan menjadi dua. Campur salah satu adonan dengan pasta pandan.
6. Masukkan adonan yang tidak dicampur apa-apa ke dalam loyang ukuran 20x20 yang telah diolesi mentega.
7. Kukus selama 10 menit.
8. Masukan sisa adonan yang telah dicampur pasta pandan dan kukus lagi selama 10 menit.

Tapi karena kemarin hasil parutan singkongnya ga devi peras, hasilnya ternyata dibagian paling bawah malah jadi kayak Lemet. Katanya klo di peras nanti hasilnya lebih enak karena klo digigit kremes-kremes lembut. Dan kue ini bisa tahan lama klo malamnya dikukus lagi klo dibuatnya siang.

Komentar ayah : Enak, tapi ditambah kopi kayaknya lebih enak nih. Setuju aja sih karena menurut devi emang kayaknya masih ada yang kurang ya dari rasanya. Yo wis, ndak papa. Kan baru pertama kali bikin jadi besok-besok bisa dimodif yang lain. Kan masih ada satu kilo singkong lagi tuh di kulkas, jadi weeken ini bisa bikin lagi; dengan catatan devi lagi ga pingin nyoba resep baru yaaaa...


Jumat, Mei 01, 2009

Amazing April

Ya, April tahun ini menjadi April luar biasa. Banyak hal yang terjadi dan sebuah keputusan besar telah devi ambil di bulan itu.

Tahun ini devi memasuki usia kepala tiga. Subhanallah, devi semakin bertambah usia, tapi untuk bertambah bijak kayaknya masih tidak sih...hehehe... Devi masih harus terus belajar, itu sudah pasti. Pekerjaan rumah devi pun masih banyak. Termasuk didalamnya adalah menjadi ibu yang baik bagi Qaisha dan istri yang baik untuk ayah. Bukan hal yang mudah karena definisi baik sangatlah luas. Tapi harapan devi hanyalah agar bisa membahagiakan ayah dan mengantarkan Qaisha -juga adik-adiknya kelak- menjadi hambaNya yang soleh. Ah its such a big job, don't know if I can do it well...

Di bulan yang sama, akhirnya devi memutuskan keluar dari tempat kerja sekarang setelah hampir 6 tahun mengabdi. Ini keputusan yang besar, keputusan yang sulit menimbang segala kemewahan yang devi dapat dari sana. Enam tahun adalah waktu yang cukup untuk menjadikan tempat itu sebagai keluarga kedua.

Selulus kuliah, tentu panggilan dari sebuah perusahaan keuangan nasional besar adalah impian setiap fresh graduate. Dan itu lah yang devi alami. Sebulan setelah wisuda panggilan interview itu datang dan keesokan harinya devi sudah dapat mulai bekerja. Bermula dari karyawan kontrak, lalu berpindah menjadi outsourcing sampai akhirnya devi diangkat menjadi karyawan tetap dan menikmati segala fasilitasnya telah devi jalani. Berada dibawah pengawasan dua orang atasan yang luar biasa dan diberi kesempatan untuk belajar di tempat itu menjadi bekal keterampilan devi. Belum lagi berkenalan dengan orang-orang luar biasa yang menjadi teman, tempat curhat, tempat berbagi asa dan rasa adalah catatan indah dalam hidup devi.

Setelah hampir 6 tahun devi menyadari bahwa devi tidak mungkin berada di sana selamanya. Disamping segalanya yang disebut tadi, devi tahu bukan di sana devi ingin tumbuh. Bidang itu bukan yang devi inginkan. Keinginan devi selama ini adalah bisa menekuni bidang bacaan anak. Menggelutinya sampai keinti-intinya karena devi ingin menuntaskan rasa haus dan kebahagiaan yang devi rasakan dari buku-buku itu. Jika bisa, rasanya ingin kembali meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan jika memungkinkan siapa tahu bisa jadi dosen. Dan untuk mencapai itu tidak bisa devi peroleh di tempat kerja sekarang. Setelah menimbang cukup lama, bertanya pada ayah, berkonsultasi pada seorang sahabat yang sangat mengenal devi maka keputusan itu pun devi ambil. Di tengah kebingungan devi sahabat itu menuliskan begini di satu email :

"Gua merasa pertanyaanmu sebenarnya sudah lama kamu tanyakan, beberapa kali. Tapi mungkin ada kejadian di saat ini yang bikin Devi makin "penasaran" untuk ambil resiko. Salah satunya mungkin tawaran BM. Teman gua bilang kalau apa yang kita inginkan sebenarnya sudah ada di sekitar kita tinggal bagaimana kita mau membuka hati untuk menemuinya dan menerimanya. Dia bilang gua sudah ke arah sana. Walk the talk. Gua merasa hal yang sama sudah terjadi sama Devi. Dikau sudah berada di dalamnya tetapi kadang bergeser dan ragu-ragu.

Anyway, tawaran BM itu menarik banget. Momennya kok kayak pas. Soalnya gua merasa pekerjaan Devi belakangan ini lebih fokus pada menunggu PHK daripada pengembangan diri. Abis itu terus yang diomongin sama gua. PHK gelombang satu, dua, sampe lima... hehehe. Pada saat meragu itu lalu ada jalan lain yang selama ini Devi memang di sana, bukan sesuatu yang asing apalagi aneh. Bahkan Devi berada di dunia dongeng lebih lama daripada di T*******. Pertanda apa nih?"

Disanalah titik devi memantapkan keputusan devi. Devi pun mengajukan pengunduran diri. Tidak ada penyesalan, tidak ada kesedihan, karena devi hanya ingin merengkuh cita-cita devi.

Menutup bulan itu devi mendapat kabar yang amat sangat luar biasa. Sahabat tadi memutuskan untuk menikah. Mengingat latar belakang dan segala sifat pribadinya, hal itu adalah keputusan yang mencengangkan. Tapi mendengar suaranya yang begitu antusias, membaca tulisan-tulisan serta emailnya yang ceria, devi pun dapat mengerti apa yang telah terjadi. Akhirnya ia dapat menemukan tambatan hatinya, lalu memutuskan untuk menghabiskan hari-harinya dengan laki-laki tersebut. Devi cukup mengenal sahabat devi itu, laki-laki ini pasti sudah habis-habisan diujinya, dan Alhamdulillah ia lulus sempurna. Antusiasmenya dalam menyiapkan pernikahan itu adalah bukti tak terbantahkan. Bahkan ketika tulisannya berubah dari logis analitis berbelok menjadi lebih "terdengar" personal dengan pemilihan kalimat yang tak mungkin ia pilih sebelum ini adalah gambaran paling jelas. Dan devi pun tidak bisa tidak turut merasakan kebahagiaannya. Sebagai seorang sahabat, devi hanya bisa mendoakannya dan berharap segala kebaikan untuknya.

Setelah April ditutup dengan berita yang membahagiakan di atas, devi pun siap menghadapi hari-hari mendatang dengan lebih optimis dan semangat baru juga harapan baru. Dan tak lupa tentu dengan do'a yang teriring agar selalu berada dalam lindunganNya...


Rabu, April 08, 2009

The First Conflict…

Qaisha’s first conflict with peers. Ga nyangka akan terjadi secepat ini. Dan ga nyangka juga klo devi ada di sana menyaksikan. Hiks…sedih banget…

Ceritanya Qaisha lagi main dengan Rafli (3,5 th), tetangga samping rumah, dan Rara (3,5th). Lalu Rara ngeliat Iqbal (3,5 th) sedang dengan embahnya di kebun. Rara menyusul ke sana. Melihat Rara menyusul Iqbal, Rafli mengikutinya. Melihat Rafli pergi, Qaisha pun ikut menyusul. Lalu Rara dan Iqbal pergi ke rumah Iqbal dan main di sana. Rafli pun menyusul ke rumah Iqbal. Sebagai buntut terakhir, Qaisha juga menyusul. Tapi ternyata Iqbal tidak senang Qaisha main ke rumahnya. Dari luar devi mendengar Iqbal marah-marah. Tapi devi ga tahu marah sama siapa. Perasaan devi udah ga enak. Lalu devi melihat dari balik pagar rumah Iqbal mau menarik tangan Qaisha untuk menyuruhnya keluar. Qaisha menepisnya, menolak keluar. Lalu mulai lah terdengar kata-kata pengusiran. “Keluar!!…Keluar!!” teriak Iqbal pada Qaisha. Devi melihat Qaisha berdiri mematung mendengat hardikan Iqbal dan segera masuk kedalam. Devi menemukan Qaisha berdiri tak bergerak dengan air mata yang sudah menggenang siap tumpah kapan saja. “KELUAR!!!!” teriak Iqbal lagi yang berdiri persis di samping Qaisha. Dari dalam rumah terdengar suara eyangnya berteriak menghentikan Iqbal yang teriak-teriak. Panas hati devi ketika itu. Ingin devi segera tempeleng mulut anak itu yang sudah kasar pada Qaisha. Syukurnya devi masih bisa ingat klo devi berkawan baik dengan orang tuanya dan Iqbal juga hanya anak-anak, kalau tidak devi sudah terbawa emosi juga. Devi segera menggendong Qaisha yang seketika itu juga langsung menangis begitu melihat devi dan segera membawanya keluar rumah. Devi berusaha keras mencari kata-kata yang tidak memihak dan menyalahkan salah satu pihak untuk menenangkan Qaisha di tengah kemarahan devi yang di ubun-ubun. Akhirnya devi bilang klo Qaisha kan jarang main ke rumah Iqbal, jadi Iqbalnya ga kenal deket sama Qaisha secara berulang-ulang. Pengulangan itu sebenernya lebih untuk devi sendiri yang kadung emosi, bukan hanya untuk Qaisha saja. Devi juga berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang sudah menggenang di kelopak mata devi sambil mendekap Qaisha yang sesenggukan.

Secara logika seharusnya devi tidak semarah itu. Mereka sama-sama anak kecil yang belum ngerti. Mereka hanyalah bermain dan sedang dalam proses berkembang. Tapi tetap saja rasanya ga rela ada orang yang kasar pada Qaisha, baik itu orang dewasa maupun anak kecil yang bau kencur. No body hurt my baby! No body! Devi berusaha keras untuk tidak berbicara dengan nada tinggi pada Qaisha. Lalu tiba-tiba ada orang lain yang berani-beraninya berteriak-teriak padanya…..aarghgghh…rasanya pingin ngamuk. Kurang ajar benar dia!

Do I sound exaggerating? Well, maybe, karena setelahnya Qaisha tampak biasa-biasa aja meskipun agak lama juga buat menenangkan dia. Tapi anak adalah pemberi maaf yang paling cepat. Ketika keesokan harinya Qaisha sudah tertawa tawa seperti biasa, loncat-loncat seperti biasa serta merajuk seperti biasa seolah-olah nothing had hurt her, then I can’t help smile at her again. Tapi tetap saja bayangan wajah Qaisha yang dibentak-bentak, diusir, dan matanya yang tergenang air menahan tangis tetap tergantung dalam ingatan devi. Rasa sakit ketika Qaisha diperlakukan kasar oleh orang lain masih terus devi rasakan ketika mengingatnya.

I didn’t say that I hate Iqbal. I just can’t forget the feeling I had at that time. I realize I’ll be dealing this kind of stuff in the future in many kinds of form. In the form I couldn’t imagine now. Maybe it’s no big deal some would say. Its just things that children should learn and go through to gain their independency that led to maturity. Conflict with peers is part of a child learning process. And I also know that this is part of my learning process as a mother too. If your baby is hurt, you’ll be the first one who feels the pain.

Jumat, April 03, 2009

Sajak Untuk Anakku

Sayang
anakku sayang,
ini hari matahari bergerak panas
kelak kau tahu
ada punggung yang terbakar di bawahnya
menggendongmu dengan cinta
seperti itulah kelak engkau menggendong ummat
dengan cinta

Sayang
anakku sayang,
kalau aku telah mendengarkan lisanmu
dan ibumu telah mendekapmu dengan cinta
kelak kau tahu
seperti itulah kelak engkau mesti memeluk ummat
dengan cahaya Allah
yang tak pernah sunyi

Sayang
anakku sayang,
hisaplah air susu ibumu tanpa ragu
sebab dari air susu itulah
kau belajar keikhlasan sejati
dan pancaran cinta ilahi
dapat kau rasukkan dalam darahmu
kelak
dengan keikhlasan cinta yang memancar dari-Nya
kau mesti menyampaikan surat cinta-Nya

Sayang
anakku sayang,
menangislah
menangis engkau hari ini
air matamu
biarlah mengalir untuk-Nya
agar kelak engkau tak kehabisan senyum
untuk orang-orang lapar

Sayang
anakku sayang,
ini hari
kami masih memberikan cinta
kepadamu
sesudahnya
kelak kami ingin membanggakanmu
di hadapan majelis Allah
bahwa kau telah mengenal-Nya
di masjid dan di tempat-tempat orang-orang lapar

Beautiful poem taken from Bersikap Terhadap Anak karangan M Faudhil Adhim. Buku yang luar biasa bagus untuk parents. Bahasanya enak dan menyentuh. Tapi sayang buku ini kurang terkenal dibanding buku-buku M Faudhil Adhim yang bertema pernikahan. Susah sekali mencari buku ini lagi. Sayang seribu sayang...