Setelah sekian lama vakum dari semua rapat-rapat KPBA dan sempat dua kali mangkir dari tugas dongeng di RSCM, akhirnya hari Sabtu kemarin (23/2) devi kembali ke rumah sakit itu untuk dongeng. Waktu dikasih tahu jadwal dongeng itu sempat terbesit di kepala apakah masih ada cerita yang devi hapal setelah sekian lama absen? Apalagi sekarang KPBA sudah menentukan judul cerita yang dibawakan. Satu sisi kita yang bertugas jadi ga bingung lagi nyiapin cerita, tapi disisi lain untuk orang yang udah lama vakum kayak devi agak-agak bikin deg-degan juga. Tapi emang dasarnya devi udah kangen banget dongeng ya sudah akhirnya dengan mengumpulkan tekad dan membulatkan niat berangkatlah devi ke RSCM. Syukurnya hari itu Qaisha bangun lebih pagi, jadi devi bisa kasih sarapan dan mandiin Qaisha dulu sebelum berangkat biar eyang ga terlalu repot seperti hari-hari kalo devi berangkat ke kantor.
Setelah sempat mengalami ban kempes dan nyasar, akhirnya sampai juga di RSCM meskipun agak-agak telat. Rani dan Chacha yang jadi partner devi dongeng hari itu sudah sampai duluan dan udah naik ke atas. Rupanya hari itu pasien kamar IRNA kelas 3 lebih banyak diisi oleh bayi sehingga Rani dan Chacha memutuskan untuk dongeng per bed.
Bingung juga awalnya devi mau mulai dari anak yang mana. Tapi mata ini tiba-tiba tertuju pada satu tempat tidur yang didiami oleh seorang bayi mungil. Sebenernya devi ga tahu mau bawain cerita apa untuk bayi karena devi ga bawa buku atau alat dongeng untuk anak di bawah usia satu tahun. Akhirnya devi dekati juga tempat tidur itu karena rasa penasaran dan insting seorang ibu yang juga punya bayi mungil di rumah. Devi cuma ajak ngobrol orang tua bayi itu yang kemudian devi ketahui bernama Rachel. Devi memang ga ada niat untuk mendongeng melihat selang infus yang ada dihidungnya membuat Rachel cuma bisa tertidur saja. Meskipun usianya 6 bulan tapi berat badannya hanya 3,6kg. Dari cerita orang tuanya jantung Rachel bocor, tapi karena BB-nya rendah belum bisa dioperasi. Hari itu rencananya akan dibawa pulang menunggu berat badannya naik. Tapi sayangnya Rachel sejak usia 4 bulan sudah menolak ASI. Devi pikir mungkin Rachel mengalami bingung puting. Namun meskipun kondisinya seperti itu wajahnya terlihat segar, pipinya gemuk dan matanya cerah. Duh Gusti, mudah-mudah Rachel bisa sembuh ya, biar bisa main sama mama-papanya, bisa tumbuh sehat seperti anak-anak yang lain.
Devi jadi inget Qaisha. Syukur luar biasa Qaisha sehat wal afiat. Mudah-mudahan selalu begitu. Minggu lalu waktu Qaisha batuk pilek aja devi sedih banget. Klo sampe Qaisha kenapa-kenapa, duh ga tahu deh devi kayak apa.
Beranjak dari Rachel, devi melempar pandangan ke sekeliling ruangan. Ada anak yang lagi makan dan banyak yang sedang tidur. Namun akhirnya devi bertemu dengan Siti Chaya Rani (nama belakangnya devi agak-agak lupa) yang tempat tidurnya berada dekat pintu masuk. Usianya 10 tahun tapi devi ga tahu dia sakit apa. Karena dia sudah lebih besar devi pikir dia pasti udah bisa baca, makanya devi tanya dulu apa dia mau baca buku sendiri atau mau mendengarkan devi dongeng. Ternyata dia milih dibacain aja karna mulutnya lagi sakit katanya. Waktu itu buku yang devi bawakan adalah Conejito, buku karya Margaret Read MacDonald (my fave storyteller!) yang dibeberapa bagiannya berbahasa Spanyol meskipun buku itu dalam bahasa Inggris. Ya sudah sekalian saja ngajarin bahasa asing ke Cahya, pikir devi, berhubung dia sudah besar. Karena dia sudah bisa baca devi biarkan dia membaca teksnya yang memang sengaja devi tunjuk-tunjuk. Kadang devi juga menggunakan bahasa Inggris di beberapa bagian dan bukan bahasa Indonesia. Hasilnya Cahya cukup tertarik dan mau mengikuti jika devi minta mengulang satu dua kata yang berbahasa Spanyol. Di akhir cerita devi tutup dengan mengulang beberapa kata Spanyol dan artinya. Cahya pun berhasil menghapal kata-kata : Gordito untuk gemuk, Falquito untuk kurus, bahkan 3 bianatang dalam cerita itu dengan bahasa Inggris dan Spanyol meskipun harus melirik ke gambarnya dulu. Tentu saja tak lupa devi kasih puji-pijian jika dia berhasil mengingat satu kata. Duh senangnya hati ini melihat Cahya tersenyum. Ayah cahya yang sedang menunggui cahya di samping tempat tidur pun ikut tersenyum melihat anaknya tersenyum.
Sebagai tambahan cerita devi bawakan cerita Tiga Permintaan yang memang merupakan cerita yang sudah dijadwalkan untuk hari itu. Cerita ini menggunakan kertas lipat (kertas origami) sebagai media cerita, maka pada akhir cerita devi ajarkan juga Cahya membuat angsa dari cerita tersebut. Tangannya yang tertancap infus dengan perlahan mengikuti devi melipat-lipat kertas. Kaku memang, tapi Cahya cukup telaten sampai akhirnya ia berhasil membuat origami angsa berwarna coklat. Harapan devi angsa tersebut bisa sedikit menghiburnya, well at least for that day.
Jujur devi lebih senang mendongeng per bed klo dapet tugas mendongeng di RSCM dari pada dikumpulkan di tengah ruangan. Karna devi bisa mengenal secara pribadi dari yang devi dongengi. Rasanya dongeng sebagai salah satu bentuk bibliotherapy lebih mengena ketika kita bisa memberi sedikit personal touch.
Hmmm…. tapi dari kesemuanya devi jadi bercermin pada diri sendiri. Bahwa ternyata devi punya banyak sekali yang harus devi syukuri. Kesehatan memang nikmat yang luar biasa. Qaisha yang bisa tumbuh sehat dan lincah serta memiliki senyum yang indah itu merupakan harta yang tak ternilai harganya.
Neng Qaisha, tetep tumbuh jadi anak yang sehat ya, neng….
Selasa, Februari 26, 2008
Rabu, Februari 13, 2008
It's Just Common Cold
Sejak hari Senin lalu Qaisha kena batuk. Emang lagi musimnya sih, cuaca Jakarta yang dingin juga mendukung virus batuk & pilek ini. Tengah malam Senin devi udah curiga waktu denger nafas Qaisha yang ada suara grok grok grok. Mau pingin devi langsung uapin, tapi kasian kalo dia malah jadi kebangun dan terganggu tidurnya. Devi perhatiin meskipun ada suara grok-grok tapi dia masih bisa nafas biasa dan tidurnya pun masih tenang. Besok paginya Qaisha bangun ga selincah biasanya, dia agak lemes. Langsung devi kasih minum air hangat dan devi uapin (air hangat yang dikasih minyak kayu putih) dan langsung saja Qaisha jadi meler. Tapi pas devi mau berangkat ke kantor Qaisha jadi agak rewel. Ga mau devi tinggal. Duh sedih deh klo liat dia ga rela ngelepas devi pergi...hiks...
Siangnya sama eyang dibaurin bawang merah yang sedikit ditambah minyak kayu putih. Habis itu Qaisha langsung tertidur pulas, dan bangunnya udah seger kembali dan ga rewel lagi. Mungkin Qaisha kecapean. Devi pulang kantor pun Qaisha udah ketawa-tiwi lagi. Batuknya masih ada sedikit-sedikit.
Hari selasa Qaisha ikut bangun waktu ayah bangun. Dan seperti biasa dia langsung duduk dan ketawa-tawa liat ayahnya. Matanya ngikutin kemana ayahnya pergi sambil terus senyam-senyum. Setelah kemarin Qaisha bangun dengan lemas, liat Qaisha pagi itu seger lagi bikin devi seneng. Batuknya masih ada sedikit-sedikit. Tapi rupanya ingus atau dahaknya agak bandel, klo ga diuap dia ga mau keluar. Langsung devi uap lagi, dan seperti kemaren Qaisha langsung meler. Perut dan punggung devi usap pakai minyak kayu putih, dadanya devi kasih balsen transpulmin biar dia tambah hangat. Abis itu dia langsung tertidur lagi.
Pas tiba dirumah malam harinya devi denger Qaisha lagi ngoceh-ngoceh sendiri. Biasanya klo gini dia udah ngantuk tapi belum bisa tidur, jadi ya itu "mendongeng" dulu kegiatannya. Seteelah semua beres baru devi ajak Qaisha ke tempat tidur. Devi bacain buku kesukaannnya dia 2 kali tau-tau dia udah ngantuk aja dan langsung tertidur. Batuk-batuknya hanya sesekali, tapi suara grok-grok masih ada. Devi masih khawatir dia ga bisa nafas karna hidung tersumbat, tapi alhamdulillah Qaisha tetap bisa tidur seperti biasa.
Pagi ini waktu bangun tiba-tiba batuknya jadi berdahak. Mudah-mudahan itu karena dahaknya emang mau keluar banyak setelah dua hari susah banget keluarnya.
Meskipun tahu batuk Qaisha cuma common cold, tapi tetep aja devi kepikiran juga di kantor. Tiga hari ini devi datang telat ke kantor dan pulangnya tanggo banget. 30 menit sebelum jam kantor berakhir devi udah beres-beresin meja dan absensi pun sudah menganga di monitor, tinggal di click langsung cabut. Habis mau gimana lagi, fitrahnya ibu memang lebih banyak di rumah. Tapi Insya Allah Qaisha udah bisa baikkan lagi beberapa hari ke depan. Aminnnn.
Note : More about common cold at: http://www.mayoclinic.com/print/common-cold/PR00038/METHOD=print
Siangnya sama eyang dibaurin bawang merah yang sedikit ditambah minyak kayu putih. Habis itu Qaisha langsung tertidur pulas, dan bangunnya udah seger kembali dan ga rewel lagi. Mungkin Qaisha kecapean. Devi pulang kantor pun Qaisha udah ketawa-tiwi lagi. Batuknya masih ada sedikit-sedikit.
Hari selasa Qaisha ikut bangun waktu ayah bangun. Dan seperti biasa dia langsung duduk dan ketawa-tawa liat ayahnya. Matanya ngikutin kemana ayahnya pergi sambil terus senyam-senyum. Setelah kemarin Qaisha bangun dengan lemas, liat Qaisha pagi itu seger lagi bikin devi seneng. Batuknya masih ada sedikit-sedikit. Tapi rupanya ingus atau dahaknya agak bandel, klo ga diuap dia ga mau keluar. Langsung devi uap lagi, dan seperti kemaren Qaisha langsung meler. Perut dan punggung devi usap pakai minyak kayu putih, dadanya devi kasih balsen transpulmin biar dia tambah hangat. Abis itu dia langsung tertidur lagi.
Pas tiba dirumah malam harinya devi denger Qaisha lagi ngoceh-ngoceh sendiri. Biasanya klo gini dia udah ngantuk tapi belum bisa tidur, jadi ya itu "mendongeng" dulu kegiatannya. Seteelah semua beres baru devi ajak Qaisha ke tempat tidur. Devi bacain buku kesukaannnya dia 2 kali tau-tau dia udah ngantuk aja dan langsung tertidur. Batuk-batuknya hanya sesekali, tapi suara grok-grok masih ada. Devi masih khawatir dia ga bisa nafas karna hidung tersumbat, tapi alhamdulillah Qaisha tetap bisa tidur seperti biasa.
Pagi ini waktu bangun tiba-tiba batuknya jadi berdahak. Mudah-mudahan itu karena dahaknya emang mau keluar banyak setelah dua hari susah banget keluarnya.
Meskipun tahu batuk Qaisha cuma common cold, tapi tetep aja devi kepikiran juga di kantor. Tiga hari ini devi datang telat ke kantor dan pulangnya tanggo banget. 30 menit sebelum jam kantor berakhir devi udah beres-beresin meja dan absensi pun sudah menganga di monitor, tinggal di click langsung cabut. Habis mau gimana lagi, fitrahnya ibu memang lebih banyak di rumah. Tapi Insya Allah Qaisha udah bisa baikkan lagi beberapa hari ke depan. Aminnnn.
Note : More about common cold at: http://www.mayoclinic.com/print/common-cold/PR00038/METHOD=print
Selasa, Februari 05, 2008
Goyang Qaisha
Tak mau kalah dengan Inul dengan goyang ngebornya, Dewi Persik dengan goyang gergajinya, atau Goyang Karawangnya Iis Karlina, ataupun goyang apapun yang ada di luar sana, ternyata Qaisha juga punya goyang sendiri. Tak ampun-ampun, goyangan ini keluar ketika Qaisha mau ganti pampers. Cukup taruh Qaisha di atas perlak, buka celananya, maka tarrra.... tiba-tiba pinggul Qaisha bergerak ke kanan ke kiri dengan sendirinya. Geal...geol...geal..geol.... Hehehe...
Ada-ada saja tingkah polah Qaisha sekarang. Belum genap 8 bulan tanggal 31 Januari kemarin dalam satu minggu itu kemampuannya sudah bertambah dengan cepat. Awalnya dia sudah bisa merayap perlahan-lahan, besoknya udah menjelajah ke bawah bangku dan 'mengejar' ubin, lalu tiba-tiba dia dia sudah bisa duduk sendiri, dan pada hari yang sama dia sudah mulai mengangkat pantatnya untuk posisi merangkak. Subhanallah...
Dua minggu lalu, tepatnya tanggal 26 Januari 2008, tepat pada hari Qaisha mau imunisasi Hib ketiganya, tiba-tia dia menunjukkan dirinya duduk sendiri tanpa dibantu. Ceritanya hari itu pikiran devi cukup disibukkan dengan urusan tiket kantor -meskipun itu adalah hari sabtu yang notabene libur- yang cukup menyita perhatian. Setelah sibuk bersms ria ke sana ke sini tiba-tiba devi liat Qaisha sudah dalam posisi duduk. Wah kaget banget! Kok bisa, padahal semenit sebelumnya dia masih sibuk merayap-rayap. Karna senang luar biasa devi loncat-loncat ga jelas (hehehe..kebiasaan lama yang susah hilang). Qaishanya sih cuma bengong liat ibunya jingkrak-jingkrak. Dan tiba-tiba...singgg.... Qaisha hampir tumbang menuju lantai. Hehehe.... untung devi langsung sadar dan langsung nahan tubuh Qaisha hingga ga sampai membentur lantai.
Hari-hari belakangan ini kemampuan bisa duduk sendirinya semakin lancar. Malah sekarang senangnya didiriin; berdiri dengan tetap kita pegangin. Ini yang sering bikin eyangnya agak-agak kewalahan, karena harus megangin Qaisha dengan posisi seperti itu ya lumayan capek lah. Tapi klo bisa melihat Qaisha terus-terusan tersenyum dengan posisi itu, capeknya eyang juga bisa kebayar lunas. :)
Kemaren waktu pulang kantor eyang cerita klo sekarang Qaisha udah bisa tepuk tangan. Setiap dinyanyiin Mpo Ame-ame dia langsung tepuk-tepuk tangan sendiri. Ini mungkin juga distimulasi waktu hari minggu sebelumnya kita ke Sunter dan disana selalu diajak nyanyi-nyanyi sambil tepuk-tepuk tangan. Dan akhirnya Qaisha pun bisa ngikutin kita yang juga asik tepuk-tepuk tangan.
Qaisha memang agak sedikit unik. Dia paling ga bisa klo diajarin sesuatu, maunya belajar sendiri. Sampai sekarang kami belum berhasil mengajarinya cium tangan. Sementara sepupunya ketika usianya sama (8 bulan) udah bisa nyium tangan klo ada orang dewasa yang menyodori tangan. Tetangga pun yang usianya cuma terpaut dua minggu lebih muda dari Qaisha udah ngerti "Kiss Bye", sedangakn Qaisha klo ada orang yang melambaikan tangan sama dia dianya cuma ketawa-tawa aja.
Tapi ya itulah Qaisha, senyum dan tawa adalah khasnya dia. Klo bangun tidur dia ga senyum devinya malah jadi khawatir. Neng Qaisha..neng Qaisha....
Ada-ada saja tingkah polah Qaisha sekarang. Belum genap 8 bulan tanggal 31 Januari kemarin dalam satu minggu itu kemampuannya sudah bertambah dengan cepat. Awalnya dia sudah bisa merayap perlahan-lahan, besoknya udah menjelajah ke bawah bangku dan 'mengejar' ubin, lalu tiba-tiba dia dia sudah bisa duduk sendiri, dan pada hari yang sama dia sudah mulai mengangkat pantatnya untuk posisi merangkak. Subhanallah...
Dua minggu lalu, tepatnya tanggal 26 Januari 2008, tepat pada hari Qaisha mau imunisasi Hib ketiganya, tiba-tia dia menunjukkan dirinya duduk sendiri tanpa dibantu. Ceritanya hari itu pikiran devi cukup disibukkan dengan urusan tiket kantor -meskipun itu adalah hari sabtu yang notabene libur- yang cukup menyita perhatian. Setelah sibuk bersms ria ke sana ke sini tiba-tiba devi liat Qaisha sudah dalam posisi duduk. Wah kaget banget! Kok bisa, padahal semenit sebelumnya dia masih sibuk merayap-rayap. Karna senang luar biasa devi loncat-loncat ga jelas (hehehe..kebiasaan lama yang susah hilang). Qaishanya sih cuma bengong liat ibunya jingkrak-jingkrak. Dan tiba-tiba...singgg.... Qaisha hampir tumbang menuju lantai. Hehehe.... untung devi langsung sadar dan langsung nahan tubuh Qaisha hingga ga sampai membentur lantai.
Hari-hari belakangan ini kemampuan bisa duduk sendirinya semakin lancar. Malah sekarang senangnya didiriin; berdiri dengan tetap kita pegangin. Ini yang sering bikin eyangnya agak-agak kewalahan, karena harus megangin Qaisha dengan posisi seperti itu ya lumayan capek lah. Tapi klo bisa melihat Qaisha terus-terusan tersenyum dengan posisi itu, capeknya eyang juga bisa kebayar lunas. :)
Kemaren waktu pulang kantor eyang cerita klo sekarang Qaisha udah bisa tepuk tangan. Setiap dinyanyiin Mpo Ame-ame dia langsung tepuk-tepuk tangan sendiri. Ini mungkin juga distimulasi waktu hari minggu sebelumnya kita ke Sunter dan disana selalu diajak nyanyi-nyanyi sambil tepuk-tepuk tangan. Dan akhirnya Qaisha pun bisa ngikutin kita yang juga asik tepuk-tepuk tangan.
Qaisha memang agak sedikit unik. Dia paling ga bisa klo diajarin sesuatu, maunya belajar sendiri. Sampai sekarang kami belum berhasil mengajarinya cium tangan. Sementara sepupunya ketika usianya sama (8 bulan) udah bisa nyium tangan klo ada orang dewasa yang menyodori tangan. Tetangga pun yang usianya cuma terpaut dua minggu lebih muda dari Qaisha udah ngerti "Kiss Bye", sedangakn Qaisha klo ada orang yang melambaikan tangan sama dia dianya cuma ketawa-tawa aja.
Tapi ya itulah Qaisha, senyum dan tawa adalah khasnya dia. Klo bangun tidur dia ga senyum devinya malah jadi khawatir. Neng Qaisha..neng Qaisha....
Selasa, Januari 29, 2008
Pieces of Mozaik
"Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak di sana sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang. Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti montase Antoni Gaudi. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti." (Sang Pemimpi, hlm. 72)
Senin, Januari 21, 2008
It's a baby girl, guys!
Kadang lucu juga melihat ekspresi orang yang awalnya mengira Qaisha itu bayi laki-laki setelah diberitahu kalau bayi mungil bermata sipit itu anak perempuan. Akar permasalahannya sih sederhana saja: Qaisha belum tindik kuping. Devi ga pernah nyangka kalau kealpaan kami (devi, ayah dan eyangnya Qaisha) untuk menyediakan anting dan menindiknya segera setelah dilahirkan akan berbuntut panjang. Kemana pun kami pergi, pasti ada saja orang yang mengira kalau Qaisha itu anak laki-laki. Komentarnya macem-macem, dari yang sederhana seperti "Laki-laki ya anaknya", sampai yang sedikit 'berat' : "Ganteng ya anaknya. Namanya Muhammad siapa?" Hehehe... heboh kan.
Awalnya sih agak sebel. "Wong anak devi cantik begitu kok dibilang ganteng? Emang ga bisa bedain cantik ama ganteng ya?" begitu keluh devi. Tapi setelah kesini-sini ya udah jadi guyon aja, sambil mulai diitung berapa orang yang udah ketipu sama putri cilik devi. Kira-kira ada lah dua puluh sekian orang selama 7 bulan 21 hari perjalanan hidup Qaisha, dan kayaknya angka itu akan terus bertambah jika devi ga segera menindik kuping Qaisha.
Hmmm... agak-agak takut juga sih menindik kuping Qaisha karena sekarang dia udah mengenal rasa sakit. Tapi kalo nunggu lebih gede lagi nanti malah lebih sakit lagi. Devi sendiri pun waktu kecil sampe 3 kali ditindik karena ga tahu kenapa itu lubang sering bermasalah dan ketutup sendiri sehingga harus berkali-kali ditindik.
Devi memang tidak melihat tindik kuping jadi masalah karena devi sendiri tidak berhubungan dengan hiasan telinga bentuk apapun semenjak kuliah dengan hijab yang devi pakai. Namun karena ini menjadi masalah identitas untuk putriku tersayang kayaknya emang jadi agak-agak urgent nieh nindik kuping Qaisha.
Berikut ini gayanya Qaisha yang teranyar yang bikin orang jadi tambah saru tentang ke-perempuan-an Qaisha (Halah, apa pula itu???). Ini adalah hasil jeprat-jepret pakde-nya Qaisha yang emang pakar fotografi. Hasilnya oke banget deh!


Awalnya sih agak sebel. "Wong anak devi cantik begitu kok dibilang ganteng? Emang ga bisa bedain cantik ama ganteng ya?" begitu keluh devi. Tapi setelah kesini-sini ya udah jadi guyon aja, sambil mulai diitung berapa orang yang udah ketipu sama putri cilik devi. Kira-kira ada lah dua puluh sekian orang selama 7 bulan 21 hari perjalanan hidup Qaisha, dan kayaknya angka itu akan terus bertambah jika devi ga segera menindik kuping Qaisha.
Hmmm... agak-agak takut juga sih menindik kuping Qaisha karena sekarang dia udah mengenal rasa sakit. Tapi kalo nunggu lebih gede lagi nanti malah lebih sakit lagi. Devi sendiri pun waktu kecil sampe 3 kali ditindik karena ga tahu kenapa itu lubang sering bermasalah dan ketutup sendiri sehingga harus berkali-kali ditindik.
Devi memang tidak melihat tindik kuping jadi masalah karena devi sendiri tidak berhubungan dengan hiasan telinga bentuk apapun semenjak kuliah dengan hijab yang devi pakai. Namun karena ini menjadi masalah identitas untuk putriku tersayang kayaknya emang jadi agak-agak urgent nieh nindik kuping Qaisha.
Berikut ini gayanya Qaisha yang teranyar yang bikin orang jadi tambah saru tentang ke-perempuan-an Qaisha (Halah, apa pula itu???). Ini adalah hasil jeprat-jepret pakde-nya Qaisha yang emang pakar fotografi. Hasilnya oke banget deh!




Selasa, Januari 15, 2008
Berlibur di Rumah Embah
Judulnya seperti judul karangan waktu di SD dulu ya? Memang libur panjang tahun baru Islam kemarin devi, ayah dan Qaisha menghabiskanwaktu di rumah embah di Pulo Gebang. Pun begitu, sayangnya embahnya ga ada di sana, tapi di Sunter. Hehehe... bingung kan? Iya, kita memang nginep di rumahnya embah, tapi embahnya Qaisha tinggalnya di Sunter. Jadi ga salah-salah amat kan judulnya??
Sebenernya yang sedang berlibur itu devi. Tepatnya yang lagi butuh liburan. Setelah berkutat hampir 3 minggu berturut-turut dengan proyek rutin akhir tahun yang mengharuskan pulang malam saban hari bahkan sampai tak pulang, maka devi putuskan untuk break sejenak mumpung ada libur panjang. Tapi itu pun masih juga harus lembur di hari Jumat yang seharusnya adalah hari cuti bersama sampai pukul 8 malam.
Jujur, rasanya fisik, psikis dan hati ini rasanya penat luar biasa. Pergi pagi, pulang malam, dan tak jarang tak sempat bertemu dengan buah hati tercinta. Ketika pulang pun bertemu kamar yang tak terjamah sapu dan pel lantai karna tak sempat bersihin kamar tidur. Belum lagi berurusan dengan eyang Qaisha yang seolah-olah menganggap lembur malam devi -yang tak dibayar itu- adalah waktu devi bersenang-senang di luar rumah sedangkan beliau harus berurusan dengan tetek bengek urusan rumah tangga dan rewelan Qaisha. Duh, sedih banget rasanya...
Ya sudah, makanya keputusan liburan pun diambil. (Well, actually its my own decission ^_^)
Hari kamis (10/1) kita bertiga berangkat ke Pulo Gebang. Naik bis Primajasa yang ke Bandung, kami turun di UKI. Selama di perjalanan itu kita main ciluk ba. Qaisha suka sekali permainan ini. Dia pasti akan tertawa lebar ketika dikejutkan ayah yang tadinya "hilang" tiba-tiba muncul dihadapan wajahnya. Sampai di UKI, baru kami melanjutkan naik taksi. Kali ini di taksi Qaisha tertidur pulas sampai tiba di rumah.
Hari Jumat (11/1) devi harus lembur di kantor. Menyelesaikan bahan presentasi dan handout yang harus diserahkan untuk dicetak hari itu juga. Awalnya devi kira bisa selesai setelah maghrib dan sudah berangan-angan mau ngajak ayah makan mie aceh di blok m yang terakhir kali kita makan setahun yang lalu. Tapi, thanks to "kecanggihan" IT kantor, devi harus mengundur waktu pulang sampai jam 8 malam. Tapi senangnya malam itu devi tetap jadi makan malam berdua saja sama ayah...hehehe... Makan udang rebus dan gurame bakar dengan dibayangi asap dari pembakaran sate dan ditemani kerlap-kerlip lampu mobil yang lalu lalang, serta deru klakson yang bersahut-sahutan. Romantis kan???
Hari Sabtu (12/1) devi memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bertahun-tahun sudah tidak devi lakukan lagi : Pergi ke Salon. Latar belakangnya : I just want to relax and enjoy myself. Maka dengan bekal rekomendasi dari Susan yang kebetulan memang orang daerah situ, devi pun berangkat ke salon mungil dipertokoan depan sebuah perumahan. Canggung sekali masuk ke wilayah kecintaan kaum hawa ini, tapi berbekal tekad untuk memanjakan diri maka dengan mantap devi minta pelayanan creambath sekalian potong rambut (thing that I should've done months ago). Ahhh...enaknyaaa..
Bersambung....
Sebenernya yang sedang berlibur itu devi. Tepatnya yang lagi butuh liburan. Setelah berkutat hampir 3 minggu berturut-turut dengan proyek rutin akhir tahun yang mengharuskan pulang malam saban hari bahkan sampai tak pulang, maka devi putuskan untuk break sejenak mumpung ada libur panjang. Tapi itu pun masih juga harus lembur di hari Jumat yang seharusnya adalah hari cuti bersama sampai pukul 8 malam.
Jujur, rasanya fisik, psikis dan hati ini rasanya penat luar biasa. Pergi pagi, pulang malam, dan tak jarang tak sempat bertemu dengan buah hati tercinta. Ketika pulang pun bertemu kamar yang tak terjamah sapu dan pel lantai karna tak sempat bersihin kamar tidur. Belum lagi berurusan dengan eyang Qaisha yang seolah-olah menganggap lembur malam devi -yang tak dibayar itu- adalah waktu devi bersenang-senang di luar rumah sedangkan beliau harus berurusan dengan tetek bengek urusan rumah tangga dan rewelan Qaisha. Duh, sedih banget rasanya...
Ya sudah, makanya keputusan liburan pun diambil. (Well, actually its my own decission ^_^)
Hari kamis (10/1) kita bertiga berangkat ke Pulo Gebang. Naik bis Primajasa yang ke Bandung, kami turun di UKI. Selama di perjalanan itu kita main ciluk ba. Qaisha suka sekali permainan ini. Dia pasti akan tertawa lebar ketika dikejutkan ayah yang tadinya "hilang" tiba-tiba muncul dihadapan wajahnya. Sampai di UKI, baru kami melanjutkan naik taksi. Kali ini di taksi Qaisha tertidur pulas sampai tiba di rumah.
Hari Jumat (11/1) devi harus lembur di kantor. Menyelesaikan bahan presentasi dan handout yang harus diserahkan untuk dicetak hari itu juga. Awalnya devi kira bisa selesai setelah maghrib dan sudah berangan-angan mau ngajak ayah makan mie aceh di blok m yang terakhir kali kita makan setahun yang lalu. Tapi, thanks to "kecanggihan" IT kantor, devi harus mengundur waktu pulang sampai jam 8 malam. Tapi senangnya malam itu devi tetap jadi makan malam berdua saja sama ayah...hehehe... Makan udang rebus dan gurame bakar dengan dibayangi asap dari pembakaran sate dan ditemani kerlap-kerlip lampu mobil yang lalu lalang, serta deru klakson yang bersahut-sahutan. Romantis kan???
Hari Sabtu (12/1) devi memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bertahun-tahun sudah tidak devi lakukan lagi : Pergi ke Salon. Latar belakangnya : I just want to relax and enjoy myself. Maka dengan bekal rekomendasi dari Susan yang kebetulan memang orang daerah situ, devi pun berangkat ke salon mungil dipertokoan depan sebuah perumahan. Canggung sekali masuk ke wilayah kecintaan kaum hawa ini, tapi berbekal tekad untuk memanjakan diri maka dengan mantap devi minta pelayanan creambath sekalian potong rambut (thing that I should've done months ago). Ahhh...enaknyaaa..
Bersambung....
Senin, Januari 07, 2008
2008 Resolution
Resolusi 2008 : Memasak buat ayah.
Sounds simple, isn't it? Sounds very simple. But it such a big thing for me. Entah mengapa devi, masak dan dapur tidak pernah bisa akur. Seperti ada kutukan dalam diri ini jika devi menyentuh panci, kompor dan kawan-kawannya maka hasilnya akan ada satu kata: Amburadul. Hasil masakan ga jelas, tapi cucian piring malah menumpuk. Belum lagi rasa putus asa karna tampilan masakan berbanding terbalik dengan gambar di buku resep.
Devi adalah tipe orang yang sangat menyukai kepraktisan. Atau sebutan untuk jaman sekarang adalah serba instan. Segala macam bentuk rempah, bumbu dapur dan macamnya adalah musuh utama devi. Jangan pernah membayangkan devi berjibaku didapur dengan masakan selera nusantara yang penuh dengan berbagai bumbu. Apalagi untuk jenis makanan yang harus dimasak dengan dua proses pemasakan, seperti untuk bikin pie; harus bikin kulitnya dulu baru isinya, atau kue-kue kering yang dibuat dari satu kilo terigu tapi harus ada proses pemotongan kecil-kecil menggunakan berbagai cetakan yang memakan waktu lebih dari 10 menit. Wah! itu sih wassalam aja.
Jenis kue yang sesuai dengan tipikal devi mungkin brownies. Kue bantat yang gagal jadi tapi rasanya ga kalah enaknya. Bikinnya gampang, tinggal masukin ini itu, diaduk-aduk, masukin cetakan, panggang, dan tarrraa...jadilah! Tapi ini dengan catatan ya, bukan brownies kukus yang perlu proses pengukusan yang memakan waktu.
Hehehe... parah kan? Padahal eyang dan buyutnya Qaisha luar biasa jago masak. Segala jenis masakan tradisional bisa disajikan di atas meja kalau mau. Eyang yang asli orang Semarang sekarang udah gape dengan berbagai masakan dari ikan yang berasal dari Sumatra Selatan macam empek-empek atau tekwan, setelah menikah dengan eyang kakung yang asli wong kito galo. Sambal buah yang dulu asing untuk selera Jawanya sekarang udah jadi kegemaran di rumah, dan khusus devi adalah sambal nanas yang rasanya pedas, asem campur manis tapi bikin ketagihan di mulut.
Tapi sayangnya, entah kenapa kepandaian itu tidak menurun pada devi. Tidak bisa memasak memang tidak menjadi urusan yang urgent untuk devi. Mungkin devi termasuk jenis perempuan masa kini yang merasa urusan domestik bukanlah domain perempuan semata. Hey, ga bisa memasak kan tidak membuat devi jadi less human, kan? Begitu pedoman hidup devi.
Tapiiiiiiii.....sekarang sedih juga gara-gara ga bisa masak devi ga bisa menghidangkan menu istimewa khusus buat ayah. Masa hampir menginjak dua tahun pernikahan devi belum pernah masak buat ayah?? Hiks... kasian ayah. Klo lagi jalan ke pasar atau hypermarket devi suka merasa bersalah ketika ke bagian daging-daging segar, karna biasanya ayah akan merhatiin ati-ampela, ceker (ayah suka sekali ceker) dengan pandangan pingin dimasakin. Hehehe... tapi berhubung istrinya bermusuhan sekali dengan dapur maka jadilah ayah cuma puas memandangi daging-daging mentah itu.
Masih terngiang perkataan ayah ketika tahu klo devi ga bisa masak : "Apapun yang kamu masak pasti saya makan". Duh, ingiiiiinnnn sekali masakin sesuatu yang istimewa buat ayah. Sebut saja ini naluri seorang istri, bahwa memasak untuk pasangan hidup kita adalah sebuah fitrah wanita.
So, untuk 2008 ini, my big resolution is Memasak Untuk Ayah.
Sounds simple, isn't it? Sounds very simple. But it such a big thing for me. Entah mengapa devi, masak dan dapur tidak pernah bisa akur. Seperti ada kutukan dalam diri ini jika devi menyentuh panci, kompor dan kawan-kawannya maka hasilnya akan ada satu kata: Amburadul. Hasil masakan ga jelas, tapi cucian piring malah menumpuk. Belum lagi rasa putus asa karna tampilan masakan berbanding terbalik dengan gambar di buku resep.
Devi adalah tipe orang yang sangat menyukai kepraktisan. Atau sebutan untuk jaman sekarang adalah serba instan. Segala macam bentuk rempah, bumbu dapur dan macamnya adalah musuh utama devi. Jangan pernah membayangkan devi berjibaku didapur dengan masakan selera nusantara yang penuh dengan berbagai bumbu. Apalagi untuk jenis makanan yang harus dimasak dengan dua proses pemasakan, seperti untuk bikin pie; harus bikin kulitnya dulu baru isinya, atau kue-kue kering yang dibuat dari satu kilo terigu tapi harus ada proses pemotongan kecil-kecil menggunakan berbagai cetakan yang memakan waktu lebih dari 10 menit. Wah! itu sih wassalam aja.
Jenis kue yang sesuai dengan tipikal devi mungkin brownies. Kue bantat yang gagal jadi tapi rasanya ga kalah enaknya. Bikinnya gampang, tinggal masukin ini itu, diaduk-aduk, masukin cetakan, panggang, dan tarrraa...jadilah! Tapi ini dengan catatan ya, bukan brownies kukus yang perlu proses pengukusan yang memakan waktu.
Hehehe... parah kan? Padahal eyang dan buyutnya Qaisha luar biasa jago masak. Segala jenis masakan tradisional bisa disajikan di atas meja kalau mau. Eyang yang asli orang Semarang sekarang udah gape dengan berbagai masakan dari ikan yang berasal dari Sumatra Selatan macam empek-empek atau tekwan, setelah menikah dengan eyang kakung yang asli wong kito galo. Sambal buah yang dulu asing untuk selera Jawanya sekarang udah jadi kegemaran di rumah, dan khusus devi adalah sambal nanas yang rasanya pedas, asem campur manis tapi bikin ketagihan di mulut.
Tapi sayangnya, entah kenapa kepandaian itu tidak menurun pada devi. Tidak bisa memasak memang tidak menjadi urusan yang urgent untuk devi. Mungkin devi termasuk jenis perempuan masa kini yang merasa urusan domestik bukanlah domain perempuan semata. Hey, ga bisa memasak kan tidak membuat devi jadi less human, kan? Begitu pedoman hidup devi.
Tapiiiiiiii.....sekarang sedih juga gara-gara ga bisa masak devi ga bisa menghidangkan menu istimewa khusus buat ayah. Masa hampir menginjak dua tahun pernikahan devi belum pernah masak buat ayah?? Hiks... kasian ayah. Klo lagi jalan ke pasar atau hypermarket devi suka merasa bersalah ketika ke bagian daging-daging segar, karna biasanya ayah akan merhatiin ati-ampela, ceker (ayah suka sekali ceker) dengan pandangan pingin dimasakin. Hehehe... tapi berhubung istrinya bermusuhan sekali dengan dapur maka jadilah ayah cuma puas memandangi daging-daging mentah itu.
Masih terngiang perkataan ayah ketika tahu klo devi ga bisa masak : "Apapun yang kamu masak pasti saya makan". Duh, ingiiiiinnnn sekali masakin sesuatu yang istimewa buat ayah. Sebut saja ini naluri seorang istri, bahwa memasak untuk pasangan hidup kita adalah sebuah fitrah wanita.
So, untuk 2008 ini, my big resolution is Memasak Untuk Ayah.
Langganan:
Postingan (Atom)