Kamis, September 10, 2009

Petualangan Qaisha : Dijemput Qaisha Bagian ke-2

22 Juli 2009 lalu devi dijemput Qaisha dan ayah. Ini penjemputan yang pertama di tempat kerja baru. Perjalanan ke tempat kerja baru sebenernya lebih gampang dari pada ke tempat kerja devi yang lama. Tinggal naik busway sekali yang kalau jalanan sepi mungkin cuma butuh waktu 20-30 menit. Dan seperti penjemputan sebelumnya, it’s such a surprise Qaisha ikut menjemput ibunya dan menjadi petualangan tersendiri buat kami bertiga.

Awalnya devi minta jemput ayah karena devi dapat buku lumayan banyak dan berat. Bukunya adalah satu set cerita rakyat hardcover yang terdiri dari 13 buku cerita rakyat dan 2 buku softcover non fiksi. Klo ditimbang ada kali enam kilo. Ga kebayang aja kalo devi harus bawa buku seberat itu ditengah berjubelnya busway yang kalo sore macetnya minta ampun. So, mumpung ayah lagi cuti hari itu devi minta tolong ayah untuk dijemput naik motor. Tapi ternyata oh ternyata, seperti biasa, ayah terlalu kreatif dan diajaklah Qaisha yang berarti ayah ga bawa motor dan udah pasti kita harus naik bis.

Seneng banget dijemput Qaisha. Awalnya devi ga engeh kalau Qaisha juga ikut. Waktu lagi nunggu tiba-tiba ayah sms, bunyinya “Aku pake baju garis-garis dan celana pink.” Huh? Maksudnya? Ayah pake baju garis-garis dan celana pink? Sejak kapan ayah punya celana pink? Kapan belinya? Enggak banget deh klo ayah pake celana pink. Dan pas lagi bengong mikirin celana pink itu, tiba-tiba dari belakang ada suara mungil yang memanggil “Ibu!!” Lalu muncul lah sosok manis berbaju garis-garis dan bercelana pink itu sambil berlari menghampiri devi dengan tawa khasnya. O la la la…ternyata Qaisha ikut tokh?!!

Wah seneng banget! Tapi terus mikir, nah lho terus bawa buku enam kilo ini gimana ceritanya? Teteup naik busway dong?! Plus bawa anak dua tahun sebelas kilo (She stuck with that number since 1,5 years) yang pecicilan minta ampyun. Duh..devi cuma bisa geleng-geleng dalam hati.

Yo wis, ga papa lah. Ngeliat wajah Qaisha yang seneng bisa jemput ibunya, devi pun ikut happy juga. Pertanyaan pertama yang devi tanya ke ayah adalah Qaisha seharian ini mau makan ga?. Dan seperti sudah devi duga, ga mau makan seharian. Paling cuma makan donat dan susu. Ya udah kita makan dulu di restoran cepat saji yang ada mainannya. Ga berapa lama setelah kita pesan makan, pas Qaisha lagi cuci tangan sama ayah, tiba-tiba dia mau pipis. Waduhh, paniklah ayah. Mau di bawa ke toilet ga tahu ada di mana, dan pas mau diangkat ke atas wastafel ga keburu, Qaisha udah keburu pipis duluan di lantai!!. Ya udah buka celananya, bersihin di wastafel, terus balik ke meja tanpa pake celana…hehehe… Duh yah tuh anak ada-ada aja. Ayah ga bawa ekstra baju atau susu atau perlengkapan lainnya. Untungnya di sana banyak toko-toko perlengkapan bayi, jadi ayah segera beli celana pendek satu biji dan langsung dipakein ke Qaisha. Setelah itu Qaisha asyik main di arena permainan dengan asyiknya seolah-olah ga ada kejadian apa-apa, ga inget ayahnya yang panik dia mau pipis, ga inget dia pipis dilantai yang bikin OB sibuk ngebersihin lantainya supaya ga pesing, ga tahu ayahnya mesti lari-lari beli celana buat dia. Hehehe…enaknya jadi anak kecil.

Sehabis makan kita cari tempat sholat dan kita sholat dulu. Qaisha ikut devi, dan pas mau wudhu, ga tahu kenapa, apa karena banyak air tiba-tiba Qaisha mau pipis lagi. "Pipis..pipis...pipis..." Walah! Mana devi ga tahu toiletnya lagi. Langsung aja devi nyambar sepatu devi dan Qaisha dan lari-lari nyari toilet. Jangan sampai deh kejadian dia pipis dicelana bagian kedua. Itu toilet ternyata letaknya di pojok. Waktu menuju toilet itu devi malah jadi mikir, ini jalan ke toilet apa ke gudang sih? Kok ke pojok banget dan sepi pula jalannya. Dan pas ketemu toletnya sih sebenernya ga terlalu kotor tapi juga ga terlalu bersih. Tapi suasananya itu lho agak-agak suram. Mungkin karena posisinya di pojok.

Dan seperti pada umumnya toilet mall, ga ada tuh yang namanya toilet jongkok, and NO shower! Airnya keluar dari bawah dan kita harus berada dalam posisi duduk yang benar supaya air itu tepat sasaran. Jenis air yang begini yang ga baik buat kesehatan reproduksi wanita. Duh benci banget deh sama toilet macam begini. Mana pintunya pendek, ga sampai bawah. Tipe toilet yang memamerkan kaki kita yang lagi buang hajat plus celana yang lagi diturunin. No privacy and no water, just the kind of toilet I needed for my two years old daughter!. Jenis toilet yang ga nyunah. Mereka pingin toiletnya kering tapi bikin repot orang banyak. Oh ya…no tissue either! Dasar toilet!! (Lho? Maksudnya??)

Begitu devi masuk, devi udah bingung aja. Gimana nih Qaisha pipisnya. Setelah celana Qaisha dibuka, devi suruh dia jongkok di bawah meskipun dalam hati mikir gimana nanti nyiramnya? Ga ada showernya. Tapi dia juga ga nyaman juga dengan lantainya. Devi angkat dan devi jongkokin dia dikakusya. Dianya agak takut mau jatuh, tapi karena devi peganginnya firm khirnya dia mau jongkok juga di atas kakus. Tapi ternyata dia ga pipis juga. Aduh nih anak ngerjain ya? Masa ibunya udah lari-lari nyari toilet, udah ngutuk-ngutuk toilet bodoh itu, and udah cari akal gimana caranya dia pipis, dianya ga pipis juga?? Geleng-geleng deh devi.

Akhirnya kita pun kembali ke tempat sholat. Ayah udah nungguin. Devi sholat maghrib dulu dengan Qaisha. Abis kita sholat, kita pun pulang menuju halte busway. Wah Qaisha seneng banget dengan jembatan busway. Dia bisa lari-lari di sana, devi yang sibuk ngejar dia takut jatuh, sedangkan ayah harus bawa buku devi mengikuti dari belakang.

Di halte busway Qasiah sibuk main di tempat duduknya. Sama ayah dia mainan di besi-besi tempat pegangan dan pengaman buat pintu busway yang otomatis. Agak ngeri juga sih halte busway itu. Pintunya yang sewaktu-waktu bisa terbuka cukup berbahaya buat anak kecil. Kalau pas yang berenti itu bis busway sih ga papa, tapi karena jalur busway juga dipake mobil umum sering pintunya terbuka karena sensor menangkap mobil yang lewat saja tanpa berhenti. Pas pintunya terbuka, mobilnya lewat dan mengangalah itu jalan raya.

Agak lama juga kita menunggu bisnya. Padahal udah jam tujuh lewat. Lalu tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut Qaisha: “Pipis..pipis…pipis..” Again???? OMG!!! Tenang, devi meneriakkan itu dalam hati. Halte busway jalur ini dilengkapi toilet. So kita pun nanya ke penjaganya di mana toiletnya. Oh ternyata ada dibawah jembatan busway. Kita harus keluar dulu lewat pintu kecil tak jauh dari pos tiketnya dan jalan ke sebuah kotak persis dibawah jembatan busway. Kiri kanan adalah jalan raya. Ketika kita keluar dari pintu kecil itu, kita seperti berjalan di trotoar persis di tengah jalan yang membatasi dua jalur jalan raya yang berbeda arah. Sebelah kanan sih aman ada pagar yang membatasi, tapi sebelah kiri itu langsung jalan raya dengan mobil yang melaju kencang.

Jangan berharap toilet halte busway itu bersih ya. Lebih tepatnya jangan berharap ada toilet buat umum yang bersih. Tapi setidaknya di sana ada ember dan gayung meskipun gayungnya berupa botol air mineral ukuran satu liter yang dipotong bagian atasnya. Well setidaknya Qaisha bisa pipis (kali ini beneran pipis) dan membersihkan dengan air. Ayah mengikuti devi dan Qaisha dari belakang sambil membawa buku devi itu dan sedikit khawatir dengan laju mobil di sebelah kiri.

Kita segera naik lagi ke halte begitu Qaisha selesai pipis. Karena buru-buru takut ketinggalan bis, plastik tempat membawa buku-buku devi putus pegangannya. Haduh, tambah repot deh bawanya. Syukurnya kita belum ketinggalan bis. Tapi begitu bisnya datang ternyata sudah penuh sesak. Devi menggendong Qaisha dan ayah menggendong buku-buku devi. Alhamdulillah ada orang yag berbaik hati memberikan tempat duduknya meskipun harus diteriakkin kenek buswaynya dulu supaya ada yang memberi tempat duduk buat ibu-ibu yang membawa anak kecil. (Devi maksudnya? Ibu-ibu? Yang benar saja!)

Sudah devi duga Qaisha ga akan betah duduk diam. Dia mulai gelisah dan mulai mencari ayahnya yang berdiri di dekat pintu. Devi dirikan Qaisha di pangkuan devi supaya dia bisa melihat jendela. Jalanan juga tidak mau bekerjasama dengan devi dengan meneruskan macetnya yang sudah berlangsung sejak sore tadi. Kegelisahan Qaisha semakin menjadi-jadi. Devi ajak nyanyi buat meredam rewelnya tapi ternyata ga terlalu ampuh. Dia pun minta turun ke tempat ayahnya. Di sela-sela kaki orang dia jalan ketempat ayahnya. Syukurnya posisi ayah berdiri tidak jauh dengan posisi tempat duduk devi. Sama ayahnya Qaisha diajak mainan alat-alat yang bergelantungan buat pegangan orang-orang yang berdiri. Lalu mulai lah dia main ayunan dengan alat-alat itu sambil digendong ayah. Sesekali terdengar suara “Aaa..u..oo..uu..oo!!” hehehe .. Oalaa…anak ku jadi tarzan di dalam busway…hahaha… Beberapa orang tersenyum geli melihat tingkah polahnya. Orang yang berdiri dibelakang ayah ketawa terus melihat Qaisha. Yah lumayanlah Qaisha bisa kasih hiburan ditengah kepenatan jalanan yang macet…hehehe…

Ayah akhirnya dapet tempat duduk di halte sebelum halte terakhir. Meskipun ayah dalam posisi duduk, Qaisha juga masih tetep minta di ayun-ayun sambil megang alat pegangan itu, dan teteup berteriak layaknya tarzan…hehehe…

Lalu tiba-tiba…byur!!...turun hujan!!!. What? Padahal bentar lagi udah mau nyampe. Can’t it get worst than this? Devi ga bawa payung, lagi bawa buku berat, dan Qaisha bisa sakit kalau kehujanan. Begitu sampai di terminal, devi termenung bingung cari cara buat pulang. Naik taksi? Gak mungkin, nanti malah muter lagi supaya bisa masuk ke kompleks. Dan lagi taksi ga masuk ke wilayah tempat busway. Ojeg? Sama aja kehujanan. Devi bisa kepisah sama ayah malah. Menunggu? Hujannya tipe hujan yang bertahan lama. Kasihan Qaisha diluar kelamaan ditengah dinginnya hujan. Ojeg payung? Iya, satu-satunya jalan pake ojeg payung sampa ke kompleks. Ayah mulanya ragu, apa mau si tukang ojeg sampe masuk kompleks. Benar saja ketika dikasih tahu kita mau masuk ke kompleks, dia agak-agak keberatan. Tapi karena melihat devi bawa anak, agaknya dia kasihan juga dan akhirnya dia mau. Begitu nyebrang ayah bilang supaya devi dan Qaisha nunggu aja ditempat jualan Indomie dan ayah akan lari ke rumah ambil motor lalu jemput devi dan Qaisha di tukang Indomie. Sebenernya devi agak keberatan, kasihan ayah kalau hujan-hujanan. Tapi ya sudahlah, maunya ayah begitu devi nurut aja. Sambil membawa buku-buku devi ayah lari ke rumah, sementara si ojeg payung cuma “bertugas” sampai di tukang Indomie. Sambil menunggu ayah, devi pesen susu hangat dan Qaisha nyemilin bolu kukus, agar supaya perutnya ga kosong. Lima belas menit kemudian ayah datang tergopoh-gopoh sambil mengenakan jas hujan…tapi tanpa motor. Dan ternyata saudara-saudara, motornya mogok kena air. Gubrak!!..Gubrakk!!!...hahaha…, ternyata it CAN get worst!! Aduh kasihan banget si ayah. Udah cape pulang ke rumah, si Bajaj ternyata ga mau diajak kerja sama…hahaha…

Ya sudah, setidaknya sekarang ada payung buat melindungi devi dan Qaisha dari hujan. Kami pun jalan dan menjemput si Bajaj di tukang nasi goreng, tempat ayah meninggalkannya tadi. Ayah mendorong si Bajaj dan devi menggendong Qaisha. Kami pun jalan menuju ke rumah. Well setidaknya, udah ga nenteng-nenteng buku 6 kilo lagi. Sebagai penggantinya dorong motor 1 ton…hahaha…

Begitu sampai di rumah, ga terbayang perasaaan lega kami. Alhamdulillah bisa sampai di rumah dengan selamat. Ayah dan devi langsung segera mandi. Qaisha ganti baju, kasih minyak talon dan bedak. Lalu kami pun tidur dengan nyenyak malam itu.

What a day!!

Senin, Agustus 24, 2009

Being 2 Years 3 Month Means...

Sejak pindah kerja di tempat baru devi sudah jarang update blog ini. Fasilitas di tempat baru tidak memungkinkan menggunakan internet secara bebas. Padahal banyak cerita yang ingin devi share di sini. I’ll think of a way to handle this matter so this blog will keep an update.


Little bit update on my condition adalah tentang tempat kerja yang baru. Pelajaran yang diterima dari bekerja ditempat ini adalah nothing is perfect. Yes, my decision was based on persuing my dream, and unfortunately, that wasn’t easy as I was expected. Perubahan kultur dari tempat kerja sebelumnya dengan tempat baru benar-benar menguras energi devi. Perbedaan tipe atasan juga membutuhkan penyesuaian yang agak lama. Hopefully I can overcome these things and can move along well.


Berikutnya adalah tentang perkembangan Qaisha. It’s just so amazing watching her growing up! Kata orang perkembangan anak bisa dilihat dari perkembangan bahasanya, dan hal itulah yang membuat devi terkagum-kagum mengamati perkembangan dan pertumbuhan Qaisha. Kosa katanya makin bertambah, tentu saja. Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir mungilnya sering mengejutkan dan mengundang senyum kami. Pengucapannya juga semakin baik. Jika dulu dia menyebut namanya dengan “Kecha”, sekarang sudah bisa memanggil dirinya sendiri dengan “Keisha”. Hurus “S”-nya sudah bisa diucapkan dengan benar. Dulu menyebut susu dengan “cucu” sekarang sudah bisa bilang “susu”. Huruf “R” masih diucapkan sebagai “N” –which surprised me. Kids usually spell it as “L”. Dan “L” juga diucapkan sebagai “N” jika berada di akhir kalimat. Seperti "bantal" diucapkan "bantan". Jika berada ditengah kalimat "L" menjadi "Y", seperti kata "dulu" menjadi "duyu". Eh jadi inget "Goyang Duyu"-nya Project Pop...hehehe...


Yang paling menyenangkan adalah mendengarnya berbicara. Tidak dengan kalimat utuh tentunya karena masih terbatasnya kosa kata, atau bagaimana dia meniru ucapan kami yang sering kali dengan mimik serius. Dia sudah bisa menjawab jika ditanyakan “hari ini main kemana aja?”, atau “main apa aja di Rumah Pintar?” (ada Rumah Pintar baru di kompleks devi which really make me sooo happy), maka Qaisha akan menjawab “Keisha ayun-ayun, perosotan. Kakak nangis” Maksudnya “Qaisha main ayunan, main perosotan. Tadi ada kakak yang nangis”…hehehe.. seru ya?. Setidaknya kalau ditanya Qaisha sudah mampu menjawab. Tapi yang paling lucu adalah mendengarnya bercerita sehabis dia menangis: “Keisha nangis…huhuhu…ga mau celana” Maksudnya Tadi Qaisha nangis..huhuhu (menirukan bagaimana tadi dia menangis)…gara-gara ga mau dipakein celana”…hahaha… Ups! Ketahuan deh klo susah dipakein baju.


Pernah suatu kali ada kejadian begini. Qaisha sedang devi pangku, tiba-tiba denger suara motor ayah, sontak dia langsung teriak “ikut…ikut…” lalu berdiri mau menuju pintu lalu tiba-tiba balik lagi ke devi dan berkata “Tunggu sini ya. Jangan nangis ya!”. *$%&*#$!?! That’s my line!...hahaha…She took her mother’s line!


Words that comes out from a child mouth is such an amazing thing!


Selain itu adalah masalah kemandirian. Sekarang ini dia senang sekali melakukan apa-apa sendiri; seperti membuka kaleng susunya, membuka tutup botol susunya, membuka halaman buku, membuka kancing jaketnya (klo yang ini mah masih belum berhasil baru gayanya aja), milih bajunya sendiri, bahkan sampai pakai celana sendiri. Kalau tiba-tiba devi yang melakukan hal-hal tersebut di atas Qaisha akan langsung teriak "Aku aja...aku aja..!" Dan kalau sudah dibuka duluan misalnya, barang itu harus ditutup atau ditempatkan seperti semula lagi untuk dia buka.


Mau pake celana sendiri punya cerita tersendiri bagaimana awalnya itu bisa terjadi. Semuanya berkat Calista yang sekarang udah bisa pakai baju sendiri (and she's not even 3 years old yet!). Katanya kalo sekolah (Calista already went to Playgroup now) Calista lebih seneng pake baju sendiri, semuanya sendiri dari baju dalam sampe pake seragamnya. Jadi embah atau ibunya tinggal benerin dikit-dikit aja. Nah pas kita nginep di sana setiap hari Qaisha dan Calista pasti mandi bareng, pake bajunya bareng dan disitulah dia ngeliat Calista pake baju sendiri. Sampe di lebak bulus kebiasaan ini nular ke Qaisha. Devi seneng ngeliat Qaisha mengikuti kebiasaan baik.


Pas awal pake celana sendiri dia agak bingung makenya karena dia belum bisa pake celana sambil berdiri. Devi tuntun dia supa duduk sambil bilang "pake celananya duduk ya" supaya masukin kakinya gampang. Nah setelah itu klo mau pake celana dia pasti komen ini dulu "pake celananya duduk ya" terus baru dia duduk dan pake celananya...hehehe... Itu terus begitu kalo mau pake calana. Sampe kalimat orang pun diikutinya pula...hahaha...


Benar-benar ya usia dua tahun itu masa-masa peniruan habis-habisan.


Membuka halaman adalah kebanggan devi tersendiri. Devi senang sekali untuk soal satu ini. Karena devi tahu salah satu tahapan seorang anak telah dikenalkan bacaan sejak dini adalah kesenangannya membuka halaman jika sedang dibacakan buku. Kalau devi sedang bacain buku sambil dipangku kah atau sambil nenen -maaf- (Qaisha masih nenen dan devi sedang berpikir tentang menyapih) pasti dia yang membuka halaman berikutnya. Kalau devi secara refleks membuka halaman berikutnya setelah membacakan halaman sebelumnya, maka halaman yang sudah dibuka tadi dikembalikan lagi dan dia yang membuka.


Soal ngebacaain buku ini adalah hal yang sangat positif karena sejak awal memang ini yang ingin devi perkenalkan salah satunya pada masa-masa emasnya. Tapi dibalik itu kadang suka cape sendiri...hehehe...pengakuan dosa seorang ibu. Devi punya satu set buku cerita rakyat 13 judul plus 1 buku alfabet dan 1 buku pribahasa dalam satu box khusus. Total 15 buku. Dan kalau Qaisha lagi senang 15 - 15 nya Qaisha bisa minta dibacain semua. Gubrakkks!!! Dan kalau Qaisha sudah minta itu ga ada pantang menyerahnya. "Baca...baca...baca!!" begitu terus berulang-ulang sampe kita bacain itu bukunya. Kalau perlu muka kita dia dorong kearahnya sambil terus bilang "baca.. baca.. baca..." ..hehehe... Kalo lagi seger sih ga papa, toh devi seneng bacaain cerita, tapi kalo lagi cape itu yang perlu tenaga ekstra. Phew...! But its okey, I love see her holding books and find the joy of them. Maybe I will post collection of her books next time, coz these books help me alot to teach her good things.



Rabu, Juni 03, 2009

Hectic May 2009

Bulan Mei tahun ini menjadi bulan yang menyibukkan. Banyak hal yang menyita pikiran dan banyak pekerjaan fisik. Yang pertama adalah soal kepindahan devi dari tempat kerja yang lama. Segala urusan administrative dan pekerjaan yang tertunda selama ini devi selesaikan di hari-hari terakhir. Kebiasaan buruk devi yang selalu menunda-nunda pekerjaan…phew.. Meninggalkan sahabat, teman, rekan sekerja juga merupakan hal yang menyita perasaan tersendiri. Hari terakhir devi di sana si bos mengadakan acara perpisahaan di restoran mewah, memberi hadiah jam tangan mahal dan sebuah handphone untuk menggantikan handphone jadul devi. Ini handphone paling canggih yang pernah devi miliki…hehehe… Bisa untuk kamera, video, radio, GPRS (yang sampai sekarang masih belum diaktifkan), wah pokoknya lengkap deh. Thank you ya, bos.


Menjelang sore devi baru sempat berkeliling untuk pamit ke teman-teman di dua lantai lainnya. Senang akhirnya bisa berkeliling ke lantai-laintai itu karena selama ini devi lebih banyak berkutat di lantai 19 saja. Devi memang bukan orang yang sering bergaul, tegur sapa lebih sering untuk urusan pekerjaan dan itu pun lebih banyak di telpon. Jadi ada juga yang devi baru liat wajahnya pas hari terakhir itu setelah selama ini Cuma berhubungan di telpon….hehehe…kacau. Padahal masih dalam satu gedung. Tapi tetap yang paling berat adalah meninggalkan teman-teman di satu divisi. Setiap hari kami bertemu, setiap kali kami selalu becanda dan berbagi kesedihan. Meninggalkan mereka seperti meninggalkan keluarga sendiri. Ketika pulang seorang teman sempat mengirimkan pesan pendek yang bikin terharu. Tak menyangka pertemanan kami selama ini dapat menjadi penghibur buatnya di tengah perpolitikan kantor yang harus dia geluti.


Orang yang paling berat devi tinggalkn adalah mama bintang luna. Dia adalah orang yang pertam kali devi tuju. Mulai dari pinjam barang, nanya bikin surat, denger gossip baru sampe urusan curhat-curhat pribadi. Dia adalah sahabat, tempat devi berkeluh kesah, tempat devi bertanya, sharing dan diskusi tentang apa saja. Kalau mendengar sesuatu yang baru baik itu urusan kantor atau gossip-gosip ga jelas para artis rasanya ga sreg klo ga cerita dulu ke mama bintang luna. Karena kami berdua sama-sama ibu-ibu muda jadi pembicaraan apa pun rasanya nyambung aja. Permasalahan rumah tangga yang kami alami hampir-hampir sama jadi sering dev menemukan solusi dari mendengar ceritanya. Kami sebenernya dua karakter yang saling berbeda. Devi lebih cenderung pendiam dan mama bintang luna lebih terbuka orangnya. Tapi entah kenapa devi selalu bisa bercerita apa saja. Devi bukanlah orang yang mudah bergaul dengan orang. Jadi meninggalkan mama bintang luna adalah kehilangan tersendiri….


Hal kedua yang terjadi di bulan mei ini adalah tentu berhubungan dengan kepindahan kerja devi yaitu di tempat baru. Setelah empat hari libur dari rutinitas kerja, Senin 25 Mei 2009 devi mulai menjalani kerja di kantor baru. Namanya baru, segalanya serba baru buat devi. Banyak penyesuaian yang harus devi jalani. Mulai dari penyesuaian fasilitas kntor, sarana dan pasarana, juga ritme kerjanya. Tanggung jawab yang baru ini lebih besar. Urusan administrasi yang amat sangat menjengkelkan lebih banyak dan lebih detil. I hate them already, to be honest. Tapi kesempatan belajar yang diberikan jauuuuh lebih luas. Ada yang mudah, ada yang sulit cara penyampaiannya, juga ada yang menyenangkan. Bisa bertemu banyak orang menjadi kesenangan tersendiri. Pun begitu dia punya bentuk stress tersendiri.


Di bulan Mei ini juga devi mendapat pembeli pertama kue devi. Tidak menyangka sama sekali. Sebenernya dia sudah pesan beberapa bulan sebelumnya. Sejak ultah ayah malah, setelah melihat kue ultah ayah. Tapi realisasinya di bulan Mei ini. Bayangkan ditengah sibuknya pikiran devi pindah kantor dan menyesuaikan diri di tempat baru devi juga harus memikirkan bikin kue pesanan orang. Seperti yang sudah devi ceritakan, bikin kue macam ini butuh konsentrasi dan pemikiran penuh sehingga butuh waktu lama. Kue ayah dulu butuh waktu dua bulan, nah kalau yang ini ternyata cukup satu bulan saja…hehehe… Setidaknya udah tahu apa aja yang dibutuhin dari mengerjakan kue ultah ayah dulu. Tapi tetep pelaksanaannya rbt-ribet juga…hehehe… Tapi seneng banget ada orang yang percaya kuenya dibuatin devi. Kue ulang tahun buat anaknya pula. Wah harus kasih penghormatan nih karena udah berani pesen kue ke devi…hehehe…


Bicara soal kue, untuk perpisahan di kantor devi juga buat kue khusus. Di atasnya ada foto-foto temen-temen satu divisi. Sayangnya kuenya ga sempet di foto. Dannnnnn yang paling menyenangkan adalah si bos bilang enak kuenya. Setelah sekian lama menyangsikan kalo devi bisa bikin kue, akhirnya kata-kata enak itu pun bisa juga keluar dari mulutnya si bos…hehehe… Bos devi itu selera makannya tinggi. Makanya kalau kata-kata enak itu bisa keluar dari mulutnya wah itu pujian luarrrrr biasa. Tapi kenapa abis makan kue devi dia batuk-batuk ya????...hhehehe…..


Hari besar di bulan Mei untuk devi, ayah dan Qaisha adalah anniversary devi dan ayah, serta ulang tahunnya Qaisha. Tapi rupanya tahun ini devi dan ayah tiba-tiba terserang penyakit pikun. None of us remember our anniversary! Devi inget setelah seminggu lewat, itu pun karena mama bintang luna ngucapin happy belated anniversary…hehehe… Kami bener-bener pasangan yang payah. Baru tiga tahun menikah sudah melupakan hari ulang tahun pernikahan kami. Apa karena kami sudah menganggap tanggal itu tidak penting lagi jadi begitu mudahnya kami lupakan?...hehehe…


Tapi tenang, ulang tahun Qaisha devi dan ayah ga lupa kok. Awal bulan Mei eyang sudah kasih kado sepeda baru buat Qaisha. Meskipun kakinya belum nyampe di sadelnya waktu posisi berputar di bawah, tapi Qaisha senang sekali dengan sepeda pinknya itu. Meskipun devi konsen ke kue ulang tahun pesanan orang yang Cuma beda sehari dengan ultahnya Qaisha, Alhamdulillah devi masih bisa bikin kue buat hari ulang tahunnya Qaisha. Bikinnya kue yang gampang-gampang aja buat di kasih ke teman mainnya Qaisha. Ga ada acara tiup lilin atau potong kue. Devi Cuma ngasih bingkisan sederhana buat temen-temenya Qaisha. Dan seperti tahun lalu, embah dan saudara-saudara dari sunter datang ke rumah. I’m so happy seeing Qaisha could enjoy her time with her auntie, nephews and niece. She even wants to go to sunter with them when they say goodbye.


Hhhhh…it’s been very busy month and its also a big month. I have made big decision and I'm walking on it now.


Rabu, Mei 13, 2009

Amaze by Words

Percakapan ini terjadi setelah Qaisha nelpon eyangnya di Semarang. Devi hanya ingin tahu jawaban apa yang Qaisha kasih terhadap pertanyaan-pertanyaan yang belakangan ini kayaknya lumayan sering ditanyain orang.

Devi : Namanya siapaaa?
Qaisha : Kecha
Devi : Oo... Qaisha. Udah sekolah belum?
Qaisha : Udahhh
Devi : Udah kelas berapa sekarang?
Qaisha : Lima (Jawaban yang selalu dikasih untuk pertanyaan yang ada kata Berapa-nya)
Devi : Wah pinter yah. Emang sekolahnya dimana?
Qaisha : Disono (Sambil nunjuk-nunjuk keluar dengan bibir maju 2 senti)
Devi : Oo di sana. Kalo ke sekolah naik apa?
Qaisha : Odong-odong
Devi : ???? Hehehe... Odong-odongnya di sewa ya neng...hehehe...

Devi selalu terkejut dengan perkembangan bahasa Qaisha. Sekarang memang masih dalam tahap mengenali kata-kata benda dan bisa menyusun dua kata saja seperti "Ibu cholat", "Kecha mimi" dsb. Tapi sering kalau di pancing Qaisha akan berceloteh panjaaaang dan lebarrrr...tentunya dengan kalimat yang terbata-bata devi ikuti. Devinya lho yang terbata-bata. Qaishanya sih ngoceh aja terussss.

Satu kalimat panjang yang belakangan ini kerap diulang adalah : "Ayah udah mandi kannn?" sambil kepalanya dimiringin. Kalimat ini diucapkan ga cuma pas ngeliat ayah selesai mandi, devi selesai sholat juga dibilang "Udah mandi kan??", ga ada apa-apa pun tiba-tiba nyeletuk "Udah mandi kannn?" plus kepala miringnya. Hehehe...lucu ngeliatnya.

Paling seru kalo ngeliat ayah dan Qaisha lagi ngobrol berdua. Ayah tuh paling jago mancing Qaisha berceloteh. Bahan ceritanya sih ngaco abis, tapi kalo ngeliat Qaisha cerita plus mimiknya jadi seru banget. Seperti misalnya yang terjadi semalam :

Situasi : Di kamar tidur, di atas tempat tidur.
Ayah : Kemarin kan cicaknya di sana (Sambil nunjuk atap) Trus ada cacing.
Qaisha : Cacing, ibu cacing (Sambil cerita ke devi)
Ayah : Cacingnya digigit nyamuk. (????)
Qaisha : Digigit nyamuk. Cacingnya. Nyamuk (Masih cerita ke devi)
Ayah : Disini digigitnya (sambil nunjuk tangannya Qaisha)
Qaisha : Cacingnya. Cacingnya. Nyamuk. Digigit nyamuk (Cerita ke devi dengan antusias dan serius)
Devi : Oh iya, ya. Cacingnya digigit nyamuk ya (Sambil terkesima memperhatikan mimik serius Qaisha)
Ayah : Iya digit nyamuk, terus kena DB.
Qaisha : Digigit nyamuk. Cacingnya...cacingnya ibu... Cacingnya...nyamuk..
Terus begitu berulang-ulang cacing, nyamuk, digigit dengan latar ayah yang terus ngomporin cerita cacing digit nyamuk ini sampe akhirnya Qaisha minta turun.
Qaisha : Tuyun ibu, tuyun. Bawah.
Weleh-weleh ayah, kasiah atuh anaknya ngoceh ga jelas...hehehe...

Kadang devi ngerasa Qaisha tuh pingin banget cerita banyak, tapi karena keterbatasan kosa katanya banyak kata yang hanya diulang-ulang terus, tapi dilakukan dengan semangat empat lima. Apalagi kalo merhatiin bibirnya yang maju kalo lagi cerita seru, wahhhh...lucu banget!!

Yang lebih mengagetkan kalo tiba-tiba Qaisha mengucapka satu kata yang seinget devi ga pernah devi atau ayah pernah utarakan. Seperti kalimat "ayah udah mandi kan?" di atas tadi sepertinya devi ga pernah mengucapkan kalimat itu, tapi Qaisha tiba-tiba sudah bisa membentuk satu kalimat itu. It's so amazing! Tapi jadi perlu waspada juga nieh, jangan sampe devi, ayah atau orang-orang yang ada di rumah ngeluarin kata atau kalimat yang aneh-aneh atau bahkan kasar karena begitu mudahnya kata/kalimat itu menyerap pada ingatan Qaisha. Mudah-mudahan saja lisan kami dapat terjaga karena kami juga ingin Qaisha bisa menjaga tutur katanya.

Selasa, Mei 05, 2009

Antara Brownies Kukus dan Klapertaart

Judulnya sih ga nyambung...hehehe.. Karena ini adalah cerita kue yang tercecer di bulan April. Ada beberapa event yang devi dengan bersemangat menyambutnya dengan meniatkan bikin sesuatu yang istimewa, sesuatu yang tidak biasa karena ini buat orang-orang tersayangggg. Haduuhh prolognya ampyunn deh...hehehe... Soalnya hasilnya ga seistimewa itu...hahaha...

Tanggal 6 April Eyang mau ngadain acara arisan buat RT, secara sejak Qaisha lahir selalu berhasil menghindar ketempatan arisan. Pasti mintanya diadain ditempat yang lain klo pas dapet arisan. Jadi rencananya Eyang mau makan-makan gudeg aja terus kuenya devi menawarkan diri ngebuatinnya. Ada resep Brownies Kukus yang pingin devi coba dan bahannya gampang yang devi baca di milis NCC dan di blog yang empunya resep. Bisa jadi andalan resep yang gampang dan enak nieh. Berikut ini resepnya yang diambil di sini :

Brownies Kukus Ala Eni'c



Bahan :
6 butir telur
1 gelas munjung gula pasir
1 gelas munjung Terigu
3 sendok munjung coklat bubuk (coklat BF), ayak (Devi campur sama terigu dulu baru diayak)
1 gelas minyak goreng
½ gelas susu kental manis coklat (susu bisa di tambah sesuai selera max ¾ gelas)
1 sdm TBM
Coklat blok atau coklat meises secukupnya u taburan pada lapisan kue (devi pake meises aja)
Kacang almond untuk topping (devi ga pake)
Loyang ukuran 20x20, oles margarine dan taburi dengan terigu sampai rata

Cara Membuatnya :
Kocok dengan kecepatan tinggi telur, gula pasir dan TBM sampai mengembang, dan berwarna putih pucat
Masukan terigu, ayakan coklat bubuk, aduk rata
Terakhir masukan minyak goreng dan susu kental manis coklat, aduk rata. Pastikan minyak benar2 rata dan tidak mengendap di dasar loyang.
Tuang setengah adonan dalam Loyang
Panaskan kukusan sampai air mendidih
Kukus selama 20 menit.
Setelah 20 menit, taburkan coklat meises atau parutan coklat blok.
Tuang sisa adonan, taburi kacang dan kukus lagi 20 menit
Keluarkan kue yang sudah matang dr Loyang setelah kering.

Devi udah dua kali bikin kue ini, hasilnya banyak yang suka. Eyang malah lebih suka brownis ini dari pada yang resep NCC. Mbahnya Qaisha juga suka dan malah ada saudara yang minta resepnya. Kalo devi sih suka karena bahannya lebih ekonomis tapi buat devi rasanya masih kurang nyoklat, soalnya suka banget sama coklat sihhh.




Lalu berlanjut ke kue berikutnya. Bulan April juga merupakan bulan ulang tahun devi. Dari jauh-jauh hari udah mikir mau bikun apa yang simpel aja soalnya hari ultah devi jatuhnya pas hari kerja. Pinginnya juga bikin sesuatu yang beda. Pilihan jatuh ke Klapertaart. Browsing sana-sini emang banyak nemu resep kue ini. Ada yang terkenal banget karena enaknya, tapi bikinnya ribettt. Pingin nyoba resep Klapertaart Hana tapi belum pernah makan tuh klapertart itu. So pilihan terakhir jatuh ke Klapertart Praktisnya Bunda Inong. Klo ini sih udah pernah bikin dan rasanya enak. Ayah suka sekali Klapertart praktis ini. Cerita dan resepnya bisa dilihat di sini.

Devi bikin dalam dua tempat berbeda, dalam loyang aluminium besar dan dalam cup-cup aluminium kecil. Komentar temen yang asli Manado sih it's not klapertaart. Iya juga sih lebih kayak puding roti mungkin ya. Tapi tetep enak kok dan gampang banget bikinnya. Tapi kenapa ya kayaknya lebih enak yang buatan pertama dibanding yang ini?

Berikut ini penampakannya :




Kue Singkong... atau Cake Singkong??

Memenuhi permintaan ayah yang udah sejak jaman baheula pingin dibikinin kue dari bahan singkong, akhirnya wiken kemarin devi berhasil memenuhi permintaan tersebut. Kenapa baru sekarang? Alasannya sih gampang aja : 1. Devi ga terlalu suka sama makanan yang berbahan singkong, 2. udah ngerti klo bahannya singkong pasti rada-rada ribet deh buatnya karena pasti ada proses pengupasan and marut, 3. ndilalah resep kue yang berbahan singkong kok tiba-tiba lupa nyimpennya...hehehe... *klo ini mah sengaja dilupain*. Alhasil baru sekarang deh bisa bikinnya. Itu pun setelah ayah menyatakan bersedia marutin singkongnya. Yo wis, pas ke pasar ada yang jual singkong ayah langsung beli. Ga tanggung-tanggung ayah langsung beli 2 kilo, itu pun karna devi protes jangan beli banyak-banyak, sebelumnya malah udah nimbang 3 kilo...weleh..weleh si ayah ngidam bangets yaks??

Sampe di rumah langsung nanya Eyang resep kue singkong. Dulu eyang suka bikin kue singkong yang enak dan sempet dipesen teman kantor. Dan aha ternyata cara bikinnya gampang banget (kecuali bagian marutnya yah) dan bahannya juga ga macem-macem. Tapi karena ini resep udah cukup berumur (nyonteknya aja dibuku eyang yang udah kumal, tulisan tangan pula yang ga detil cara bikinnya) ukuran yang dipake pun campursari; ada yang pake gelas ada yang pake gram. Tapi gampang kok ngikutinnya.

Resep aslinya bernama Kue Singkong Keju, tapi karena kemaren ga ada keju jadi namanya Kue Singkong ajah. Berikut ini resepnya:

Kue Singkong



Bahan :
2 gelas singkong setelah diperas (devi kemarin dari 1kg singkong)
1/2 gelas santan (devi pake Cocomas)
200gr gula pasir
4 telur

Cara membuat :
1. Parut singkong dan peras menggunakan kain saringan.
2. Kocok telur dan gula sampai mengembang.
3. Masukkan parutan singkong sedikit demi sedikit sambil diaduk rata.
4. Masukkan santan sedikit demi sedikit.
5. Bagi adonan menjadi dua. Campur salah satu adonan dengan pasta pandan.
6. Masukkan adonan yang tidak dicampur apa-apa ke dalam loyang ukuran 20x20 yang telah diolesi mentega.
7. Kukus selama 10 menit.
8. Masukan sisa adonan yang telah dicampur pasta pandan dan kukus lagi selama 10 menit.

Tapi karena kemarin hasil parutan singkongnya ga devi peras, hasilnya ternyata dibagian paling bawah malah jadi kayak Lemet. Katanya klo di peras nanti hasilnya lebih enak karena klo digigit kremes-kremes lembut. Dan kue ini bisa tahan lama klo malamnya dikukus lagi klo dibuatnya siang.

Komentar ayah : Enak, tapi ditambah kopi kayaknya lebih enak nih. Setuju aja sih karena menurut devi emang kayaknya masih ada yang kurang ya dari rasanya. Yo wis, ndak papa. Kan baru pertama kali bikin jadi besok-besok bisa dimodif yang lain. Kan masih ada satu kilo singkong lagi tuh di kulkas, jadi weeken ini bisa bikin lagi; dengan catatan devi lagi ga pingin nyoba resep baru yaaaa...


Jumat, Mei 01, 2009

Amazing April

Ya, April tahun ini menjadi April luar biasa. Banyak hal yang terjadi dan sebuah keputusan besar telah devi ambil di bulan itu.

Tahun ini devi memasuki usia kepala tiga. Subhanallah, devi semakin bertambah usia, tapi untuk bertambah bijak kayaknya masih tidak sih...hehehe... Devi masih harus terus belajar, itu sudah pasti. Pekerjaan rumah devi pun masih banyak. Termasuk didalamnya adalah menjadi ibu yang baik bagi Qaisha dan istri yang baik untuk ayah. Bukan hal yang mudah karena definisi baik sangatlah luas. Tapi harapan devi hanyalah agar bisa membahagiakan ayah dan mengantarkan Qaisha -juga adik-adiknya kelak- menjadi hambaNya yang soleh. Ah its such a big job, don't know if I can do it well...

Di bulan yang sama, akhirnya devi memutuskan keluar dari tempat kerja sekarang setelah hampir 6 tahun mengabdi. Ini keputusan yang besar, keputusan yang sulit menimbang segala kemewahan yang devi dapat dari sana. Enam tahun adalah waktu yang cukup untuk menjadikan tempat itu sebagai keluarga kedua.

Selulus kuliah, tentu panggilan dari sebuah perusahaan keuangan nasional besar adalah impian setiap fresh graduate. Dan itu lah yang devi alami. Sebulan setelah wisuda panggilan interview itu datang dan keesokan harinya devi sudah dapat mulai bekerja. Bermula dari karyawan kontrak, lalu berpindah menjadi outsourcing sampai akhirnya devi diangkat menjadi karyawan tetap dan menikmati segala fasilitasnya telah devi jalani. Berada dibawah pengawasan dua orang atasan yang luar biasa dan diberi kesempatan untuk belajar di tempat itu menjadi bekal keterampilan devi. Belum lagi berkenalan dengan orang-orang luar biasa yang menjadi teman, tempat curhat, tempat berbagi asa dan rasa adalah catatan indah dalam hidup devi.

Setelah hampir 6 tahun devi menyadari bahwa devi tidak mungkin berada di sana selamanya. Disamping segalanya yang disebut tadi, devi tahu bukan di sana devi ingin tumbuh. Bidang itu bukan yang devi inginkan. Keinginan devi selama ini adalah bisa menekuni bidang bacaan anak. Menggelutinya sampai keinti-intinya karena devi ingin menuntaskan rasa haus dan kebahagiaan yang devi rasakan dari buku-buku itu. Jika bisa, rasanya ingin kembali meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan jika memungkinkan siapa tahu bisa jadi dosen. Dan untuk mencapai itu tidak bisa devi peroleh di tempat kerja sekarang. Setelah menimbang cukup lama, bertanya pada ayah, berkonsultasi pada seorang sahabat yang sangat mengenal devi maka keputusan itu pun devi ambil. Di tengah kebingungan devi sahabat itu menuliskan begini di satu email :

"Gua merasa pertanyaanmu sebenarnya sudah lama kamu tanyakan, beberapa kali. Tapi mungkin ada kejadian di saat ini yang bikin Devi makin "penasaran" untuk ambil resiko. Salah satunya mungkin tawaran BM. Teman gua bilang kalau apa yang kita inginkan sebenarnya sudah ada di sekitar kita tinggal bagaimana kita mau membuka hati untuk menemuinya dan menerimanya. Dia bilang gua sudah ke arah sana. Walk the talk. Gua merasa hal yang sama sudah terjadi sama Devi. Dikau sudah berada di dalamnya tetapi kadang bergeser dan ragu-ragu.

Anyway, tawaran BM itu menarik banget. Momennya kok kayak pas. Soalnya gua merasa pekerjaan Devi belakangan ini lebih fokus pada menunggu PHK daripada pengembangan diri. Abis itu terus yang diomongin sama gua. PHK gelombang satu, dua, sampe lima... hehehe. Pada saat meragu itu lalu ada jalan lain yang selama ini Devi memang di sana, bukan sesuatu yang asing apalagi aneh. Bahkan Devi berada di dunia dongeng lebih lama daripada di T*******. Pertanda apa nih?"

Disanalah titik devi memantapkan keputusan devi. Devi pun mengajukan pengunduran diri. Tidak ada penyesalan, tidak ada kesedihan, karena devi hanya ingin merengkuh cita-cita devi.

Menutup bulan itu devi mendapat kabar yang amat sangat luar biasa. Sahabat tadi memutuskan untuk menikah. Mengingat latar belakang dan segala sifat pribadinya, hal itu adalah keputusan yang mencengangkan. Tapi mendengar suaranya yang begitu antusias, membaca tulisan-tulisan serta emailnya yang ceria, devi pun dapat mengerti apa yang telah terjadi. Akhirnya ia dapat menemukan tambatan hatinya, lalu memutuskan untuk menghabiskan hari-harinya dengan laki-laki tersebut. Devi cukup mengenal sahabat devi itu, laki-laki ini pasti sudah habis-habisan diujinya, dan Alhamdulillah ia lulus sempurna. Antusiasmenya dalam menyiapkan pernikahan itu adalah bukti tak terbantahkan. Bahkan ketika tulisannya berubah dari logis analitis berbelok menjadi lebih "terdengar" personal dengan pemilihan kalimat yang tak mungkin ia pilih sebelum ini adalah gambaran paling jelas. Dan devi pun tidak bisa tidak turut merasakan kebahagiaannya. Sebagai seorang sahabat, devi hanya bisa mendoakannya dan berharap segala kebaikan untuknya.

Setelah April ditutup dengan berita yang membahagiakan di atas, devi pun siap menghadapi hari-hari mendatang dengan lebih optimis dan semangat baru juga harapan baru. Dan tak lupa tentu dengan do'a yang teriring agar selalu berada dalam lindunganNya...