Devi suka sekali suasana perpustakaan. Devi suka keheningannya yang berisi, suka dengan kekhusyuan masing-masing orang pada bukunya, suka dengan suara gesekan sepatu di karpet tebal lantai perpustakaan, suka dengan suara bisik-bisik yang sesekali terdengar. Tapi yang lebih devi sukai adalah kemampuan tempat itu memancing devi menulis segala unek-unek di kepala ke atas kertas yang biasanya sulit dilakukan.
Jumat (28/3) kemarin devi menyempatkan diri ke perpustakaan Depdiknas. Itu salah satu perpustakaan favorit devi. Tempatnya nyaman, ada kafenya, kegiatannya banyak, fasilitasnya beragam dan yang lebih menyenangkan lagi kalau devi cukup beruntung bisa ketemu dengan teman-teman kuliah dulu. Koleksinya kebanyakan hibahan dari perpustakaan British Council, dan sejak di bawah naungan departemen Pendidikan Nasional yang merekrut orang-orang muda untuk mengelolalnya, perpustakaan itu jadi lebih berkembang. Syukurlah. Perpustakaan yang nama bekennya library@Senayan itu bisa jadi contoh perpustakaan yang baik di Indonesia.
Kembali ke unek-unek. Berikut ini adalah beberapa corat-coret yang lahir selama satu jam lebih berada di perpustakaan Diknas. Tiga tulisan terpisah hasil unek-unek devi. Anggaplah ini sebagai sajian untuk ulang bulan Qaisha yang ke sepuluh yang jatuh tepat pada hari ini.
Khawatir...
Khawatir, sebenarnya. Ga tahu masa depan seperti apa, ga bisa ngebayangin dunia seperti apa. Qaisha kecilku yang akan beranjak dewasa, entah dunia seperti apa yang akan engkau hadapi nanti.
Que sera sera, jawab Doris Day. Whatever will be, will be. The future is not ours to see.
Melihat cara hidup sekarang hati ibu menjadi was-was. Memperhatikan bagaimana kaum Adam dan Hawa kini berinteraksi, ibu jadi gundah gulana. Akan kemana Qaishaku bergerak? Seperti apa Qaisha bertingkah laku nanti?
Duh Gusti, lindungi permata hatiku.
Ya Robbi, rengkuh ia selalu dalam pentunjuk-Mu.
Ia, Qaisha Fitria Sabilla, penolong ayah dan ibunya di kehidupan kemudian.
Di bawah jembatan Komdak...
Menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan. Tapi menunggu bisa menjadi salah satu saat untuk berkontemplasi dan berdamai dengan diri sendiri.
Kemarin menunggu ayah di bawah jembatan komdak. Tiba-tiba terlihat sosok seorang ibu muda yang menggendong bayinya. Dari caranya berpakaian, orang akan menebaknya sebagai jockey 3 in 1.
Si bayi seperti sedang menangis, sang ibu seperti sedang berusaha menenangkan. Ia tempelkan wajahnya ke wajah buah hatinya sambil terus berjalan. Dari bibirnya terdengar sayup-sayup suara menenangkan. "Shh....shh..sh..."
Pikiran ini langsung melayang ke Qaisha. Ingin rasanya menghilang dari jalan raya itu dan langsung berada di rumah untuk segera memeluk tubuhnya yang mungil.
Ingin menangis rasanya ketika devi teringat Qaisha yang minggu lalu demam tanpa sebab dan seharian berada di pelukan devi.
Wajahnya yang merasa damai ketika sedang menyusu pada dada devi melahirkan bening air di pojok mata ini ketika mengingatnya.
Ah, seandainya saja devi punya mesin yang bisa mengantarkan devi pulang dalam sekejap mata...
Love is....
"Ayah lagi di mana? Lagi ngapain? Vina lagi ngerjain PR mtmtk" Sebaris pesan pendek itu terukir di handphone Pak Heldy. Pengirimnya adalah putri bungsunya yang baru masuk SD.
Devi jadi teringat sms-sms cinta yang hampir setiap hari devi kirim untuk ayah di awal-awal pernikahan kami.
Ingin tahu apa yang sedang dikerjakaan oleh orang yang kita cintai adalah salah satu pernak-pernik keindahan cinta. Menyampaikan apa yang sedang kita rasakan pada orang yang kita sayangi adalah bagian dari take and give dalam bercinta. Dan di jaman serba singkat ini, sms menjadi sarana yang efektif untuk menunjukkan itu semua.
Ketika sms cinta itu sampai, rasanya hati ini bergetar, darah pun mendesir yang kemudian mengguratkan senyum pada bibir. Ah, rasanya melayang-layang...
Suatu ketika di layar handphone devi tertulis pesan ini : "Kamu tahu ga?" Ternyata ayah yang mengirim. "Tahu apa?" jawab devi yang bingung dengan sms yang tiba-tiba muncul itu. "Aku sayang kamu" jawab ayah pendek. Degh! Meriang rasanya badan ini. Laki-laki yang mempercayaiku menjadi pendampingnya dan ibu bagi anak-anaknya kelak menyatakan perasaannya yang suci. Indah sekali.
Namun baru devi sadari bahwa keindahan itu juga terjadi pada cinta tulus antara ayah dan putrinya. Cinta yang menggetarkan hati ternyata tidak hanya terjadi pada dua orang yang sedang di mabuk asmara. Tapi juga dalam laku sayang orang tua pada anaknya, dan anak pada orang tuanya.
"Vina sayang ayah" tulis putri temanku lagi. Singkat, namun berbaur antara lucu dan haru.
Hmmm... cinta itu indah. Sangat indah. Cinta yang tulus seperti embun pagi hari yang menetes dari pucuk daun. Damai, menyegarkan dan manis.
(Jumat, 28 Maret 2008; library@senayan)
Senin, Maret 31, 2008
Selasa, Maret 11, 2008
Ketika Devi Mengambil Cuti
Keinginan cuti itu tiba-tiba saja datang. Gara-garanya Qaisha mau imunisasi campak. Sejak awal dokternya udah wanti-wanti klo Qaisha harus bener-bener sehat untuk imunisasi ini. Dan bener saja, ternyata itu virus hidup. Sebenernya imunisasi ini ga ada efek samping panas seperti halnya DPT, tapi ya namanya dimasukin virus hidup, anak tentunya jadi lebih mudah terpapar penyakit lain. So planning awalnya mau observasi aja setelah imunisasi. Hidden agendanya adalah pada hari yang sama ada Islamic Book fair dari tanggal 1-9 Maret 2008. Jadilah devi memutuskan cuti 2 hari tanggal 4-5 Maret 2008.
Devi sudah memperkirakan kalau hari pertama book fair devi ga akan bisa pergi ke sana karena alasan imunisasi tadi. Hari kerja juga agak sulit karena klo ngambil jam istirahat ga bakal bisa lama, begitu juga klo pulang kantor amatlah impossible karena harus segera pulang ke rumah. So hari senin (4/3) itu devi lenggang kangkung ke book fair.
Alasan pergi ke book fair kali ini lebih karena ingin bernostalgila mengenang jaman kuliah dulu devi pasti menyempatkan pergi setiap ada acara book fair, baik yang skala nasional macam islamic bookfair, Jakarta bookfair, Indonesia Book fair sampai yang diselengarakan penerbit seperti Gramedia. Pergi ke sana pun ga pasti beli buku, tapi lebih sekedar untuk meng-update-kan diri dengan buku-buku terbaru khususnya buku anak. Makanya tak jarang pulang dari book fair itu dengan tangan kosong.
So hari senin itu devi pun ber-window shopping, eh stand shopping deh sekalian nyari-nyari buku kain untuk Qaisha. Sayangnya stand edutoys lebih sedikit dibanding book fair sebelumnya. Yang satu harganya malah lebih mahal dari harga di luar. Di book fair itu devi beli buku tentang kucing untuk Qaisha terbitan Mizan. Bukunya informatif tentang kucing tapi dibikin cerita yang menarik. Qaisha kan tiap malam sebelum tidur devi bacain buku tentang kucing judulnya Fat Cat, makanya sebagai tambahan pelajaran buat dia tentang kucing devi beliin buku itu.
Hari pertama cuti sukses juga nostalgianya. Ga banyak belanja tapi lumayanlah buat refreshing...hehehe..
Hari Selasa (5/3) devi jadi full time mother (Cat: ga full time house wife lho soalnya masih tetep ga berhubungan dengan masak-memasak..hehehe..).Tapi hari itu luar biasa banget deh! Karena hari itu eyang juga ada urusan di luar rumah praktis setengah hari itu devi cuma berdua aja sama Qaisha. Seneng sih bisa main berdua terus sama qaisha, tapi Qaisha sama sekali ga bisa ditinggal barang sejenak. Mengisutkan badan sebentar aja dia udah nangis. Apalagi hari itu devi canangkan jadi free diapers day (hari bebas popok) karena rencananya mau ngajarin tatur. Setiap hari Qaisha selalu pake pampers sama eyangnya biar eyang ga terlalu repot ngurusin BAB dan BAK Qaisha. Dan ternyata tanpa pampers itu bener-bener deh repot banget. Qaisha yang udah lincah merangkak ke mana-mana juga meninggalkan ompol di mana-mana. Lebih repot lagi karena Qaisha ga mau ditinggal sendiri. Devi ke kamar mandi buat ambil pel aja dia udah mendengarkan alunan mau nangisnya. Subhanallah yang mencanangkan kencing bayi sebagai najis ringan yang tinggal di perciki air saja sudah suci kembali. Ga kebayang klo masuk najis sedang apalagi berat.
Yang lebi seru pas mau hujan. Waktu mendungnya udah pekat banget devi udah bingung aja gimana mau ngangkatin jemuran. Klo Qaisha ditinggal pasti nangis, dibawa agak-agak repot juga. Lagi mau coba-coba gendong, tiba-tiba hujan keburu deras. Ga berpikir apa-apa lagi, langsung devi turunin Qaisha, tutup pintu rumah takut qaisha merangkak keluar, langsung deh ngangkatin jemuran yang setengah basah setengah kering. Balik ke rumah Qaisha kelimpungan nyari devi sambil nangis. Duh si neng, paling ga tega deh liat Qaisha nangis... hiks.
Secara keseluruhan devi menilai dari setengah hari itu bahwa ternyata devi ibu yang cukup amburadul. Gimana enggak? Qaisha malah lebih banyak nangis kenceng dibanding hari-hari biasa dengan eyang. Tapi devi kan punya senjata pamungkas: nenen. Hehehe... Jadilah seharian itu Qaisha mentil sepanjang hari.
Rencana pingin belajar tatur malah kelupaan. Kasian juga eyang yang sering ditinggal berdua aja sama Qaisha karena masih harus menyelesaikan segala macam urusan rumah tangga. Mudah-mudahan bisa ada rejeki lebih supaya bisa hire pembantu buat bantu eyang. Aminnn.
Devi sudah memperkirakan kalau hari pertama book fair devi ga akan bisa pergi ke sana karena alasan imunisasi tadi. Hari kerja juga agak sulit karena klo ngambil jam istirahat ga bakal bisa lama, begitu juga klo pulang kantor amatlah impossible karena harus segera pulang ke rumah. So hari senin (4/3) itu devi lenggang kangkung ke book fair.
Alasan pergi ke book fair kali ini lebih karena ingin bernostalgila mengenang jaman kuliah dulu devi pasti menyempatkan pergi setiap ada acara book fair, baik yang skala nasional macam islamic bookfair, Jakarta bookfair, Indonesia Book fair sampai yang diselengarakan penerbit seperti Gramedia. Pergi ke sana pun ga pasti beli buku, tapi lebih sekedar untuk meng-update-kan diri dengan buku-buku terbaru khususnya buku anak. Makanya tak jarang pulang dari book fair itu dengan tangan kosong.
So hari senin itu devi pun ber-window shopping, eh stand shopping deh sekalian nyari-nyari buku kain untuk Qaisha. Sayangnya stand edutoys lebih sedikit dibanding book fair sebelumnya. Yang satu harganya malah lebih mahal dari harga di luar. Di book fair itu devi beli buku tentang kucing untuk Qaisha terbitan Mizan. Bukunya informatif tentang kucing tapi dibikin cerita yang menarik. Qaisha kan tiap malam sebelum tidur devi bacain buku tentang kucing judulnya Fat Cat, makanya sebagai tambahan pelajaran buat dia tentang kucing devi beliin buku itu.
Hari pertama cuti sukses juga nostalgianya. Ga banyak belanja tapi lumayanlah buat refreshing...hehehe..
Hari Selasa (5/3) devi jadi full time mother (Cat: ga full time house wife lho soalnya masih tetep ga berhubungan dengan masak-memasak..hehehe..).Tapi hari itu luar biasa banget deh! Karena hari itu eyang juga ada urusan di luar rumah praktis setengah hari itu devi cuma berdua aja sama Qaisha. Seneng sih bisa main berdua terus sama qaisha, tapi Qaisha sama sekali ga bisa ditinggal barang sejenak. Mengisutkan badan sebentar aja dia udah nangis. Apalagi hari itu devi canangkan jadi free diapers day (hari bebas popok) karena rencananya mau ngajarin tatur. Setiap hari Qaisha selalu pake pampers sama eyangnya biar eyang ga terlalu repot ngurusin BAB dan BAK Qaisha. Dan ternyata tanpa pampers itu bener-bener deh repot banget. Qaisha yang udah lincah merangkak ke mana-mana juga meninggalkan ompol di mana-mana. Lebih repot lagi karena Qaisha ga mau ditinggal sendiri. Devi ke kamar mandi buat ambil pel aja dia udah mendengarkan alunan mau nangisnya. Subhanallah yang mencanangkan kencing bayi sebagai najis ringan yang tinggal di perciki air saja sudah suci kembali. Ga kebayang klo masuk najis sedang apalagi berat.
Yang lebi seru pas mau hujan. Waktu mendungnya udah pekat banget devi udah bingung aja gimana mau ngangkatin jemuran. Klo Qaisha ditinggal pasti nangis, dibawa agak-agak repot juga. Lagi mau coba-coba gendong, tiba-tiba hujan keburu deras. Ga berpikir apa-apa lagi, langsung devi turunin Qaisha, tutup pintu rumah takut qaisha merangkak keluar, langsung deh ngangkatin jemuran yang setengah basah setengah kering. Balik ke rumah Qaisha kelimpungan nyari devi sambil nangis. Duh si neng, paling ga tega deh liat Qaisha nangis... hiks.
Secara keseluruhan devi menilai dari setengah hari itu bahwa ternyata devi ibu yang cukup amburadul. Gimana enggak? Qaisha malah lebih banyak nangis kenceng dibanding hari-hari biasa dengan eyang. Tapi devi kan punya senjata pamungkas: nenen. Hehehe... Jadilah seharian itu Qaisha mentil sepanjang hari.
Rencana pingin belajar tatur malah kelupaan. Kasian juga eyang yang sering ditinggal berdua aja sama Qaisha karena masih harus menyelesaikan segala macam urusan rumah tangga. Mudah-mudahan bisa ada rejeki lebih supaya bisa hire pembantu buat bantu eyang. Aminnn.
Selasa, Februari 26, 2008
Narsisme Seorang Ibu
Akhir bulan ini Qaisha udah memasuki usia 9 bulan. Setiap bertemu orang banyak yang selalu bertanya udah bisa apa Qaisha sekarang. Perlu waktu buat devi untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan itu yang biasanya merupakan pertanyaan sambil lalu, seperti ketika ketemu di lift atau di tengah jalan. Bukannya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sulit dijawab. Sebenernya tinggal ingat tadi malam Qaisha ngapain toh udah bisa menjawab pertanyaan itu. Tapiiii... it's more than that. It's MY daughter you asking! Ga bisa dong devi cuma kasih tahu oo.. qaisha sekarang udah mulai titah, dsb, dsb. Lebih dari itu, karna Qaisha sekarang udah bisa menempati satu ruangan tertentu di hati ini yang selalu mencuri hati, waktu, dan pikiran devi di setiap saatnya, Qaisha juga udah bisa menjamah rasa nyaman devi dengan meletakkan kepalanya di dada devi ketika ia merasa lelah, Qaisha pun sudah bisa merapuhkan kekerasan kepala devi dengan tangannya yang terbuka ketika ia merasa tidak nyaman dengan orang yang tidak dikenalnya, bahkan Qaisha juga sudah bisa melelehkan kebekuan jiwa devi dengan attaataa aawawawa apappaapa-nya yang hanya dimengerti oleh Tuhan dan dia sendiri. Luar biasa!
Benar Qaisha sekarang udah mulai belajar titah, ga salah juga klo devi cerita klo sejak usia 7 bulan Qaisha udah mulai bertepuk-tepuk tangan, dan tak bisa dipungkiri klo kepandaiannya merangkak justru didahului oleh keinginannya untuk berdiri setelah bisa merayap. Tapi itu semua belum sebanding dengan peluh eyang yang tak bisa memincingkan mata barang sebentar ketika tiba-tiba qaisha menghilang dan muncul dibawah kursi, atau keringat heran ayah yang tiba-tiba menemukan qaisha berusaha meraih keramik diatas tumpukkan kado-kado, juga jeritan devi yang sekarang sering terdengar tiba-tiba ketika menyusui Qaisha yang gatal dengan gigi barunya, atau kegemesan pak de dengan celotehnya yang tiada habis.
So, kalo ada orang yang bertanya sudah bisa apa Qaisha sekarang seharusnya dia bersedia menyisihkan waktunya at least setengah jam untuk mendengar sederetan pencapaian Qaisha. Because it's MY daughter you asking.
Benar Qaisha sekarang udah mulai belajar titah, ga salah juga klo devi cerita klo sejak usia 7 bulan Qaisha udah mulai bertepuk-tepuk tangan, dan tak bisa dipungkiri klo kepandaiannya merangkak justru didahului oleh keinginannya untuk berdiri setelah bisa merayap. Tapi itu semua belum sebanding dengan peluh eyang yang tak bisa memincingkan mata barang sebentar ketika tiba-tiba qaisha menghilang dan muncul dibawah kursi, atau keringat heran ayah yang tiba-tiba menemukan qaisha berusaha meraih keramik diatas tumpukkan kado-kado, juga jeritan devi yang sekarang sering terdengar tiba-tiba ketika menyusui Qaisha yang gatal dengan gigi barunya, atau kegemesan pak de dengan celotehnya yang tiada habis.
So, kalo ada orang yang bertanya sudah bisa apa Qaisha sekarang seharusnya dia bersedia menyisihkan waktunya at least setengah jam untuk mendengar sederetan pencapaian Qaisha. Because it's MY daughter you asking.
It's More Than Just Telling a Story
Setelah sekian lama vakum dari semua rapat-rapat KPBA dan sempat dua kali mangkir dari tugas dongeng di RSCM, akhirnya hari Sabtu kemarin (23/2) devi kembali ke rumah sakit itu untuk dongeng. Waktu dikasih tahu jadwal dongeng itu sempat terbesit di kepala apakah masih ada cerita yang devi hapal setelah sekian lama absen? Apalagi sekarang KPBA sudah menentukan judul cerita yang dibawakan. Satu sisi kita yang bertugas jadi ga bingung lagi nyiapin cerita, tapi disisi lain untuk orang yang udah lama vakum kayak devi agak-agak bikin deg-degan juga. Tapi emang dasarnya devi udah kangen banget dongeng ya sudah akhirnya dengan mengumpulkan tekad dan membulatkan niat berangkatlah devi ke RSCM. Syukurnya hari itu Qaisha bangun lebih pagi, jadi devi bisa kasih sarapan dan mandiin Qaisha dulu sebelum berangkat biar eyang ga terlalu repot seperti hari-hari kalo devi berangkat ke kantor.
Setelah sempat mengalami ban kempes dan nyasar, akhirnya sampai juga di RSCM meskipun agak-agak telat. Rani dan Chacha yang jadi partner devi dongeng hari itu sudah sampai duluan dan udah naik ke atas. Rupanya hari itu pasien kamar IRNA kelas 3 lebih banyak diisi oleh bayi sehingga Rani dan Chacha memutuskan untuk dongeng per bed.
Bingung juga awalnya devi mau mulai dari anak yang mana. Tapi mata ini tiba-tiba tertuju pada satu tempat tidur yang didiami oleh seorang bayi mungil. Sebenernya devi ga tahu mau bawain cerita apa untuk bayi karena devi ga bawa buku atau alat dongeng untuk anak di bawah usia satu tahun. Akhirnya devi dekati juga tempat tidur itu karena rasa penasaran dan insting seorang ibu yang juga punya bayi mungil di rumah. Devi cuma ajak ngobrol orang tua bayi itu yang kemudian devi ketahui bernama Rachel. Devi memang ga ada niat untuk mendongeng melihat selang infus yang ada dihidungnya membuat Rachel cuma bisa tertidur saja. Meskipun usianya 6 bulan tapi berat badannya hanya 3,6kg. Dari cerita orang tuanya jantung Rachel bocor, tapi karena BB-nya rendah belum bisa dioperasi. Hari itu rencananya akan dibawa pulang menunggu berat badannya naik. Tapi sayangnya Rachel sejak usia 4 bulan sudah menolak ASI. Devi pikir mungkin Rachel mengalami bingung puting. Namun meskipun kondisinya seperti itu wajahnya terlihat segar, pipinya gemuk dan matanya cerah. Duh Gusti, mudah-mudah Rachel bisa sembuh ya, biar bisa main sama mama-papanya, bisa tumbuh sehat seperti anak-anak yang lain.
Devi jadi inget Qaisha. Syukur luar biasa Qaisha sehat wal afiat. Mudah-mudahan selalu begitu. Minggu lalu waktu Qaisha batuk pilek aja devi sedih banget. Klo sampe Qaisha kenapa-kenapa, duh ga tahu deh devi kayak apa.
Beranjak dari Rachel, devi melempar pandangan ke sekeliling ruangan. Ada anak yang lagi makan dan banyak yang sedang tidur. Namun akhirnya devi bertemu dengan Siti Chaya Rani (nama belakangnya devi agak-agak lupa) yang tempat tidurnya berada dekat pintu masuk. Usianya 10 tahun tapi devi ga tahu dia sakit apa. Karena dia sudah lebih besar devi pikir dia pasti udah bisa baca, makanya devi tanya dulu apa dia mau baca buku sendiri atau mau mendengarkan devi dongeng. Ternyata dia milih dibacain aja karna mulutnya lagi sakit katanya. Waktu itu buku yang devi bawakan adalah Conejito, buku karya Margaret Read MacDonald (my fave storyteller!) yang dibeberapa bagiannya berbahasa Spanyol meskipun buku itu dalam bahasa Inggris. Ya sudah sekalian saja ngajarin bahasa asing ke Cahya, pikir devi, berhubung dia sudah besar. Karena dia sudah bisa baca devi biarkan dia membaca teksnya yang memang sengaja devi tunjuk-tunjuk. Kadang devi juga menggunakan bahasa Inggris di beberapa bagian dan bukan bahasa Indonesia. Hasilnya Cahya cukup tertarik dan mau mengikuti jika devi minta mengulang satu dua kata yang berbahasa Spanyol. Di akhir cerita devi tutup dengan mengulang beberapa kata Spanyol dan artinya. Cahya pun berhasil menghapal kata-kata : Gordito untuk gemuk, Falquito untuk kurus, bahkan 3 bianatang dalam cerita itu dengan bahasa Inggris dan Spanyol meskipun harus melirik ke gambarnya dulu. Tentu saja tak lupa devi kasih puji-pijian jika dia berhasil mengingat satu kata. Duh senangnya hati ini melihat Cahya tersenyum. Ayah cahya yang sedang menunggui cahya di samping tempat tidur pun ikut tersenyum melihat anaknya tersenyum.
Sebagai tambahan cerita devi bawakan cerita Tiga Permintaan yang memang merupakan cerita yang sudah dijadwalkan untuk hari itu. Cerita ini menggunakan kertas lipat (kertas origami) sebagai media cerita, maka pada akhir cerita devi ajarkan juga Cahya membuat angsa dari cerita tersebut. Tangannya yang tertancap infus dengan perlahan mengikuti devi melipat-lipat kertas. Kaku memang, tapi Cahya cukup telaten sampai akhirnya ia berhasil membuat origami angsa berwarna coklat. Harapan devi angsa tersebut bisa sedikit menghiburnya, well at least for that day.
Jujur devi lebih senang mendongeng per bed klo dapet tugas mendongeng di RSCM dari pada dikumpulkan di tengah ruangan. Karna devi bisa mengenal secara pribadi dari yang devi dongengi. Rasanya dongeng sebagai salah satu bentuk bibliotherapy lebih mengena ketika kita bisa memberi sedikit personal touch.
Hmmm…. tapi dari kesemuanya devi jadi bercermin pada diri sendiri. Bahwa ternyata devi punya banyak sekali yang harus devi syukuri. Kesehatan memang nikmat yang luar biasa. Qaisha yang bisa tumbuh sehat dan lincah serta memiliki senyum yang indah itu merupakan harta yang tak ternilai harganya.
Neng Qaisha, tetep tumbuh jadi anak yang sehat ya, neng….
Setelah sempat mengalami ban kempes dan nyasar, akhirnya sampai juga di RSCM meskipun agak-agak telat. Rani dan Chacha yang jadi partner devi dongeng hari itu sudah sampai duluan dan udah naik ke atas. Rupanya hari itu pasien kamar IRNA kelas 3 lebih banyak diisi oleh bayi sehingga Rani dan Chacha memutuskan untuk dongeng per bed.
Bingung juga awalnya devi mau mulai dari anak yang mana. Tapi mata ini tiba-tiba tertuju pada satu tempat tidur yang didiami oleh seorang bayi mungil. Sebenernya devi ga tahu mau bawain cerita apa untuk bayi karena devi ga bawa buku atau alat dongeng untuk anak di bawah usia satu tahun. Akhirnya devi dekati juga tempat tidur itu karena rasa penasaran dan insting seorang ibu yang juga punya bayi mungil di rumah. Devi cuma ajak ngobrol orang tua bayi itu yang kemudian devi ketahui bernama Rachel. Devi memang ga ada niat untuk mendongeng melihat selang infus yang ada dihidungnya membuat Rachel cuma bisa tertidur saja. Meskipun usianya 6 bulan tapi berat badannya hanya 3,6kg. Dari cerita orang tuanya jantung Rachel bocor, tapi karena BB-nya rendah belum bisa dioperasi. Hari itu rencananya akan dibawa pulang menunggu berat badannya naik. Tapi sayangnya Rachel sejak usia 4 bulan sudah menolak ASI. Devi pikir mungkin Rachel mengalami bingung puting. Namun meskipun kondisinya seperti itu wajahnya terlihat segar, pipinya gemuk dan matanya cerah. Duh Gusti, mudah-mudah Rachel bisa sembuh ya, biar bisa main sama mama-papanya, bisa tumbuh sehat seperti anak-anak yang lain.
Devi jadi inget Qaisha. Syukur luar biasa Qaisha sehat wal afiat. Mudah-mudahan selalu begitu. Minggu lalu waktu Qaisha batuk pilek aja devi sedih banget. Klo sampe Qaisha kenapa-kenapa, duh ga tahu deh devi kayak apa.
Beranjak dari Rachel, devi melempar pandangan ke sekeliling ruangan. Ada anak yang lagi makan dan banyak yang sedang tidur. Namun akhirnya devi bertemu dengan Siti Chaya Rani (nama belakangnya devi agak-agak lupa) yang tempat tidurnya berada dekat pintu masuk. Usianya 10 tahun tapi devi ga tahu dia sakit apa. Karena dia sudah lebih besar devi pikir dia pasti udah bisa baca, makanya devi tanya dulu apa dia mau baca buku sendiri atau mau mendengarkan devi dongeng. Ternyata dia milih dibacain aja karna mulutnya lagi sakit katanya. Waktu itu buku yang devi bawakan adalah Conejito, buku karya Margaret Read MacDonald (my fave storyteller!) yang dibeberapa bagiannya berbahasa Spanyol meskipun buku itu dalam bahasa Inggris. Ya sudah sekalian saja ngajarin bahasa asing ke Cahya, pikir devi, berhubung dia sudah besar. Karena dia sudah bisa baca devi biarkan dia membaca teksnya yang memang sengaja devi tunjuk-tunjuk. Kadang devi juga menggunakan bahasa Inggris di beberapa bagian dan bukan bahasa Indonesia. Hasilnya Cahya cukup tertarik dan mau mengikuti jika devi minta mengulang satu dua kata yang berbahasa Spanyol. Di akhir cerita devi tutup dengan mengulang beberapa kata Spanyol dan artinya. Cahya pun berhasil menghapal kata-kata : Gordito untuk gemuk, Falquito untuk kurus, bahkan 3 bianatang dalam cerita itu dengan bahasa Inggris dan Spanyol meskipun harus melirik ke gambarnya dulu. Tentu saja tak lupa devi kasih puji-pijian jika dia berhasil mengingat satu kata. Duh senangnya hati ini melihat Cahya tersenyum. Ayah cahya yang sedang menunggui cahya di samping tempat tidur pun ikut tersenyum melihat anaknya tersenyum.
Sebagai tambahan cerita devi bawakan cerita Tiga Permintaan yang memang merupakan cerita yang sudah dijadwalkan untuk hari itu. Cerita ini menggunakan kertas lipat (kertas origami) sebagai media cerita, maka pada akhir cerita devi ajarkan juga Cahya membuat angsa dari cerita tersebut. Tangannya yang tertancap infus dengan perlahan mengikuti devi melipat-lipat kertas. Kaku memang, tapi Cahya cukup telaten sampai akhirnya ia berhasil membuat origami angsa berwarna coklat. Harapan devi angsa tersebut bisa sedikit menghiburnya, well at least for that day.
Jujur devi lebih senang mendongeng per bed klo dapet tugas mendongeng di RSCM dari pada dikumpulkan di tengah ruangan. Karna devi bisa mengenal secara pribadi dari yang devi dongengi. Rasanya dongeng sebagai salah satu bentuk bibliotherapy lebih mengena ketika kita bisa memberi sedikit personal touch.
Hmmm…. tapi dari kesemuanya devi jadi bercermin pada diri sendiri. Bahwa ternyata devi punya banyak sekali yang harus devi syukuri. Kesehatan memang nikmat yang luar biasa. Qaisha yang bisa tumbuh sehat dan lincah serta memiliki senyum yang indah itu merupakan harta yang tak ternilai harganya.
Neng Qaisha, tetep tumbuh jadi anak yang sehat ya, neng….
Rabu, Februari 13, 2008
It's Just Common Cold
Sejak hari Senin lalu Qaisha kena batuk. Emang lagi musimnya sih, cuaca Jakarta yang dingin juga mendukung virus batuk & pilek ini. Tengah malam Senin devi udah curiga waktu denger nafas Qaisha yang ada suara grok grok grok. Mau pingin devi langsung uapin, tapi kasian kalo dia malah jadi kebangun dan terganggu tidurnya. Devi perhatiin meskipun ada suara grok-grok tapi dia masih bisa nafas biasa dan tidurnya pun masih tenang. Besok paginya Qaisha bangun ga selincah biasanya, dia agak lemes. Langsung devi kasih minum air hangat dan devi uapin (air hangat yang dikasih minyak kayu putih) dan langsung saja Qaisha jadi meler. Tapi pas devi mau berangkat ke kantor Qaisha jadi agak rewel. Ga mau devi tinggal. Duh sedih deh klo liat dia ga rela ngelepas devi pergi...hiks...
Siangnya sama eyang dibaurin bawang merah yang sedikit ditambah minyak kayu putih. Habis itu Qaisha langsung tertidur pulas, dan bangunnya udah seger kembali dan ga rewel lagi. Mungkin Qaisha kecapean. Devi pulang kantor pun Qaisha udah ketawa-tiwi lagi. Batuknya masih ada sedikit-sedikit.
Hari selasa Qaisha ikut bangun waktu ayah bangun. Dan seperti biasa dia langsung duduk dan ketawa-tawa liat ayahnya. Matanya ngikutin kemana ayahnya pergi sambil terus senyam-senyum. Setelah kemarin Qaisha bangun dengan lemas, liat Qaisha pagi itu seger lagi bikin devi seneng. Batuknya masih ada sedikit-sedikit. Tapi rupanya ingus atau dahaknya agak bandel, klo ga diuap dia ga mau keluar. Langsung devi uap lagi, dan seperti kemaren Qaisha langsung meler. Perut dan punggung devi usap pakai minyak kayu putih, dadanya devi kasih balsen transpulmin biar dia tambah hangat. Abis itu dia langsung tertidur lagi.
Pas tiba dirumah malam harinya devi denger Qaisha lagi ngoceh-ngoceh sendiri. Biasanya klo gini dia udah ngantuk tapi belum bisa tidur, jadi ya itu "mendongeng" dulu kegiatannya. Seteelah semua beres baru devi ajak Qaisha ke tempat tidur. Devi bacain buku kesukaannnya dia 2 kali tau-tau dia udah ngantuk aja dan langsung tertidur. Batuk-batuknya hanya sesekali, tapi suara grok-grok masih ada. Devi masih khawatir dia ga bisa nafas karna hidung tersumbat, tapi alhamdulillah Qaisha tetap bisa tidur seperti biasa.
Pagi ini waktu bangun tiba-tiba batuknya jadi berdahak. Mudah-mudahan itu karena dahaknya emang mau keluar banyak setelah dua hari susah banget keluarnya.
Meskipun tahu batuk Qaisha cuma common cold, tapi tetep aja devi kepikiran juga di kantor. Tiga hari ini devi datang telat ke kantor dan pulangnya tanggo banget. 30 menit sebelum jam kantor berakhir devi udah beres-beresin meja dan absensi pun sudah menganga di monitor, tinggal di click langsung cabut. Habis mau gimana lagi, fitrahnya ibu memang lebih banyak di rumah. Tapi Insya Allah Qaisha udah bisa baikkan lagi beberapa hari ke depan. Aminnnn.
Note : More about common cold at: http://www.mayoclinic.com/print/common-cold/PR00038/METHOD=print
Siangnya sama eyang dibaurin bawang merah yang sedikit ditambah minyak kayu putih. Habis itu Qaisha langsung tertidur pulas, dan bangunnya udah seger kembali dan ga rewel lagi. Mungkin Qaisha kecapean. Devi pulang kantor pun Qaisha udah ketawa-tiwi lagi. Batuknya masih ada sedikit-sedikit.
Hari selasa Qaisha ikut bangun waktu ayah bangun. Dan seperti biasa dia langsung duduk dan ketawa-tawa liat ayahnya. Matanya ngikutin kemana ayahnya pergi sambil terus senyam-senyum. Setelah kemarin Qaisha bangun dengan lemas, liat Qaisha pagi itu seger lagi bikin devi seneng. Batuknya masih ada sedikit-sedikit. Tapi rupanya ingus atau dahaknya agak bandel, klo ga diuap dia ga mau keluar. Langsung devi uap lagi, dan seperti kemaren Qaisha langsung meler. Perut dan punggung devi usap pakai minyak kayu putih, dadanya devi kasih balsen transpulmin biar dia tambah hangat. Abis itu dia langsung tertidur lagi.
Pas tiba dirumah malam harinya devi denger Qaisha lagi ngoceh-ngoceh sendiri. Biasanya klo gini dia udah ngantuk tapi belum bisa tidur, jadi ya itu "mendongeng" dulu kegiatannya. Seteelah semua beres baru devi ajak Qaisha ke tempat tidur. Devi bacain buku kesukaannnya dia 2 kali tau-tau dia udah ngantuk aja dan langsung tertidur. Batuk-batuknya hanya sesekali, tapi suara grok-grok masih ada. Devi masih khawatir dia ga bisa nafas karna hidung tersumbat, tapi alhamdulillah Qaisha tetap bisa tidur seperti biasa.
Pagi ini waktu bangun tiba-tiba batuknya jadi berdahak. Mudah-mudahan itu karena dahaknya emang mau keluar banyak setelah dua hari susah banget keluarnya.
Meskipun tahu batuk Qaisha cuma common cold, tapi tetep aja devi kepikiran juga di kantor. Tiga hari ini devi datang telat ke kantor dan pulangnya tanggo banget. 30 menit sebelum jam kantor berakhir devi udah beres-beresin meja dan absensi pun sudah menganga di monitor, tinggal di click langsung cabut. Habis mau gimana lagi, fitrahnya ibu memang lebih banyak di rumah. Tapi Insya Allah Qaisha udah bisa baikkan lagi beberapa hari ke depan. Aminnnn.
Note : More about common cold at: http://www.mayoclinic.com/print/common-cold/PR00038/METHOD=print
Selasa, Februari 05, 2008
Goyang Qaisha
Tak mau kalah dengan Inul dengan goyang ngebornya, Dewi Persik dengan goyang gergajinya, atau Goyang Karawangnya Iis Karlina, ataupun goyang apapun yang ada di luar sana, ternyata Qaisha juga punya goyang sendiri. Tak ampun-ampun, goyangan ini keluar ketika Qaisha mau ganti pampers. Cukup taruh Qaisha di atas perlak, buka celananya, maka tarrra.... tiba-tiba pinggul Qaisha bergerak ke kanan ke kiri dengan sendirinya. Geal...geol...geal..geol.... Hehehe...
Ada-ada saja tingkah polah Qaisha sekarang. Belum genap 8 bulan tanggal 31 Januari kemarin dalam satu minggu itu kemampuannya sudah bertambah dengan cepat. Awalnya dia sudah bisa merayap perlahan-lahan, besoknya udah menjelajah ke bawah bangku dan 'mengejar' ubin, lalu tiba-tiba dia dia sudah bisa duduk sendiri, dan pada hari yang sama dia sudah mulai mengangkat pantatnya untuk posisi merangkak. Subhanallah...
Dua minggu lalu, tepatnya tanggal 26 Januari 2008, tepat pada hari Qaisha mau imunisasi Hib ketiganya, tiba-tia dia menunjukkan dirinya duduk sendiri tanpa dibantu. Ceritanya hari itu pikiran devi cukup disibukkan dengan urusan tiket kantor -meskipun itu adalah hari sabtu yang notabene libur- yang cukup menyita perhatian. Setelah sibuk bersms ria ke sana ke sini tiba-tiba devi liat Qaisha sudah dalam posisi duduk. Wah kaget banget! Kok bisa, padahal semenit sebelumnya dia masih sibuk merayap-rayap. Karna senang luar biasa devi loncat-loncat ga jelas (hehehe..kebiasaan lama yang susah hilang). Qaishanya sih cuma bengong liat ibunya jingkrak-jingkrak. Dan tiba-tiba...singgg.... Qaisha hampir tumbang menuju lantai. Hehehe.... untung devi langsung sadar dan langsung nahan tubuh Qaisha hingga ga sampai membentur lantai.
Hari-hari belakangan ini kemampuan bisa duduk sendirinya semakin lancar. Malah sekarang senangnya didiriin; berdiri dengan tetap kita pegangin. Ini yang sering bikin eyangnya agak-agak kewalahan, karena harus megangin Qaisha dengan posisi seperti itu ya lumayan capek lah. Tapi klo bisa melihat Qaisha terus-terusan tersenyum dengan posisi itu, capeknya eyang juga bisa kebayar lunas. :)
Kemaren waktu pulang kantor eyang cerita klo sekarang Qaisha udah bisa tepuk tangan. Setiap dinyanyiin Mpo Ame-ame dia langsung tepuk-tepuk tangan sendiri. Ini mungkin juga distimulasi waktu hari minggu sebelumnya kita ke Sunter dan disana selalu diajak nyanyi-nyanyi sambil tepuk-tepuk tangan. Dan akhirnya Qaisha pun bisa ngikutin kita yang juga asik tepuk-tepuk tangan.
Qaisha memang agak sedikit unik. Dia paling ga bisa klo diajarin sesuatu, maunya belajar sendiri. Sampai sekarang kami belum berhasil mengajarinya cium tangan. Sementara sepupunya ketika usianya sama (8 bulan) udah bisa nyium tangan klo ada orang dewasa yang menyodori tangan. Tetangga pun yang usianya cuma terpaut dua minggu lebih muda dari Qaisha udah ngerti "Kiss Bye", sedangakn Qaisha klo ada orang yang melambaikan tangan sama dia dianya cuma ketawa-tawa aja.
Tapi ya itulah Qaisha, senyum dan tawa adalah khasnya dia. Klo bangun tidur dia ga senyum devinya malah jadi khawatir. Neng Qaisha..neng Qaisha....
Ada-ada saja tingkah polah Qaisha sekarang. Belum genap 8 bulan tanggal 31 Januari kemarin dalam satu minggu itu kemampuannya sudah bertambah dengan cepat. Awalnya dia sudah bisa merayap perlahan-lahan, besoknya udah menjelajah ke bawah bangku dan 'mengejar' ubin, lalu tiba-tiba dia dia sudah bisa duduk sendiri, dan pada hari yang sama dia sudah mulai mengangkat pantatnya untuk posisi merangkak. Subhanallah...
Dua minggu lalu, tepatnya tanggal 26 Januari 2008, tepat pada hari Qaisha mau imunisasi Hib ketiganya, tiba-tia dia menunjukkan dirinya duduk sendiri tanpa dibantu. Ceritanya hari itu pikiran devi cukup disibukkan dengan urusan tiket kantor -meskipun itu adalah hari sabtu yang notabene libur- yang cukup menyita perhatian. Setelah sibuk bersms ria ke sana ke sini tiba-tiba devi liat Qaisha sudah dalam posisi duduk. Wah kaget banget! Kok bisa, padahal semenit sebelumnya dia masih sibuk merayap-rayap. Karna senang luar biasa devi loncat-loncat ga jelas (hehehe..kebiasaan lama yang susah hilang). Qaishanya sih cuma bengong liat ibunya jingkrak-jingkrak. Dan tiba-tiba...singgg.... Qaisha hampir tumbang menuju lantai. Hehehe.... untung devi langsung sadar dan langsung nahan tubuh Qaisha hingga ga sampai membentur lantai.
Hari-hari belakangan ini kemampuan bisa duduk sendirinya semakin lancar. Malah sekarang senangnya didiriin; berdiri dengan tetap kita pegangin. Ini yang sering bikin eyangnya agak-agak kewalahan, karena harus megangin Qaisha dengan posisi seperti itu ya lumayan capek lah. Tapi klo bisa melihat Qaisha terus-terusan tersenyum dengan posisi itu, capeknya eyang juga bisa kebayar lunas. :)
Kemaren waktu pulang kantor eyang cerita klo sekarang Qaisha udah bisa tepuk tangan. Setiap dinyanyiin Mpo Ame-ame dia langsung tepuk-tepuk tangan sendiri. Ini mungkin juga distimulasi waktu hari minggu sebelumnya kita ke Sunter dan disana selalu diajak nyanyi-nyanyi sambil tepuk-tepuk tangan. Dan akhirnya Qaisha pun bisa ngikutin kita yang juga asik tepuk-tepuk tangan.
Qaisha memang agak sedikit unik. Dia paling ga bisa klo diajarin sesuatu, maunya belajar sendiri. Sampai sekarang kami belum berhasil mengajarinya cium tangan. Sementara sepupunya ketika usianya sama (8 bulan) udah bisa nyium tangan klo ada orang dewasa yang menyodori tangan. Tetangga pun yang usianya cuma terpaut dua minggu lebih muda dari Qaisha udah ngerti "Kiss Bye", sedangakn Qaisha klo ada orang yang melambaikan tangan sama dia dianya cuma ketawa-tawa aja.
Tapi ya itulah Qaisha, senyum dan tawa adalah khasnya dia. Klo bangun tidur dia ga senyum devinya malah jadi khawatir. Neng Qaisha..neng Qaisha....
Selasa, Januari 29, 2008
Pieces of Mozaik
"Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak di sana sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang. Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti montase Antoni Gaudi. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti." (Sang Pemimpi, hlm. 72)
Langganan:
Postingan (Atom)