Senin, April 14, 2008

To the Zoo...

Akhirnya Qaisha pergi kebun binatang juga. Udah lama pingin ngajak Qaisha ke sana melihat dia suka begitu antusiasnya klo ketemu kucing dan klo liat program binatang di televisi. So berangkat lah kami ke bonbin Ragunan Sabtu (12/4) kemarin dengan rencana yang amat sangat mendadak. Ga ada rencana awalnya. Ayah tiba-tiba pingin jalan-jalan. Tadinya pingin liat-liat mainan di Cipinang yang terkenal dengan pusat mainannya yang murah meriah. Tapi akhirnya diputuskan untuk pergi ke Ragunan aja. Jam 14.00 wib kita berangkat. Udah siang banget, sampe di Ragunan sekitar jam setengah 3 lewat. Udaranya hari itu mendung. Begitu masuk ke arenanya pun tiba-tiba gerimis. Tapi syukurnya ga terlalu lebat, so kita masih bisa menikmati jalan-jalan di sana.

Ragunan sudah banyak berubah dari terakhir kali devi ke sana. Devi ingat terakhir kali devi ke sana bareng Yanti Sudianti. Duh udah lama banget, jamannya kuliah. Dulu ingat waktu pertama kali masuk kandang yang pertama kali kita liat adalah kandang gajah. Dan kemarin kandang itu terlihat lebih lengang dari terakhir devi lihat. Ternyata ada pelebaran kandang gajah yang mendapat bantuan dana dari nyonya Schmutzer (punten klo salah nulisnya). Jadi inget kandang gorila yang baru juga dapet bantuan yang sama. Mungkin selain bangun kandang gorila, ragunan juga makin mempercantik dirinya. Karena sekarang juga ada arena bermain untuk anak-anak. Dan devi ngerasa banget klo ragunan semakin luas.

Sayangnya kita ga bisa menjelajahi semua wilayah berhubung hari udah mulai sore. Pertama kali masuk kita dipertemukan dengan rusa, sayang Qaisha masih tidur waktu pertama kali melangkahkan kaki ke dalam. Setelah beranjak sebentar dari kandang rusa baru Qaisha terbangun dan nampak bingung. "Lagi ada dimana aku sekarang?" mungkin begitu pikirnya, karena dihadapannya ada burung unta yang sedang mematuk-matuki pagar. Dari kandang burung unta kita berhenti sebentar karena gerimis yang turun mulai sedikit lebat. Sambil minum sebentar kita juga berusaha "menyadarkan" Qaisha yang nyawanya masih belum ngumpul...hehehe... Lucu liat wajah bangun tidurnya.


Setelah agak reda kita pun mulai melanjutkan perjalanan. Kandang berikutnya adalah kandang gajah hasil perluasan seperti yang devi sebut di atas. Di depan kandang gajah terdapat kandang kijang (atau rusa juga?) Aduh devi masih belum bisa membedakan binatang-binatang jenis tersebut. (atau malah kancil ya???).

Hari itu Ragunan tidak terlalu ramai meskipun jatuhnya weekend. So kita pun menikmati jalan-jalan sekeliling ragunan yang bisa dibilang sepi. Tak jauh dari kandang kijang (atau rusa? atau kancil? Lain kali dicatat deh) tadi kita bertemu dengan kandang gajah lagi, tapi ini yang lama. Hanya ada 2 gajah yang ada. Itu pun mereka berdua dipisahkan dengan sekat (entah kenapa). Beranjak dari kandang gajah yang terbuka tadi terdapat kandang komodo. Tapi untuk melihat komodo mata kita harus awas, karena sering binatang satu ini saru dengan batu yang warnanya juga kecoklatan. Di depan kandang komodo terdapat kandang kangguru. Pinginnya sih ngeliat binatang itu loncat-loncat seperti di film-film dokumenter di TV, tapi apa daya akang yang satu ini hanya duduk dengan malas di tengah-tengah kandang sambil sibuk mengunyah-ngunyah rumput dengan santai.

Dari sana kita berhenti lagi untuk menikmati kerak telor yang banyak dijual di sana, juga sekalian nyuapin Qaisha. Di sini pun kita ga lama karena Qaisha juga ga betah berdiam diri lama-lama. Tujuan kita selanjutnya adalah kandang harimau. Tapi sayang hari keburu sore akhirnya kita malah menemukan kandang beraneka ragam burung dan kalelawar. Tak jauh dari situ ada juga kandang ular. Untungnya ular berbisa ini tak satupun yang kelihatan, duh klao ada langsung kabur deh. I hate snake!

Sebelum pulang kita sempat melihat orang yang sedang syuting film, tapi ga tahu untuk film apa. And you know what? Mereka lagi mengambil gambar HARIMAU!! Ga ketemu kandangnya tetapi toh kita tetap bisa melihat harimaunya...hehehe... Qaisha sih keliatan bingung liat banyak orangnya dibanding liat harimaunya.

Dari sana akhirnya kita memutuskan untuk pulang, karena hari udah cukup sore. Awan mendung juga semakin tebal. Jalan-jalannya Qaisha ke kebun binatang memang cuma sebentar, tapi Insya Allah kita bisa balik lagi ya neng...

Jumat, April 11, 2008

Another Name for Friendship

Qaisha sayang..
Tanggal 10 April kemarin adalah ulang tahunnya tante Niken yang ke 29.
Ulang tahunnya hanya berbeda 7 hari dengan ibu.

Kami bertemu pertama kali di bangku kuliah.
lalu terus berlanjut sampai sekarang.
Awalnya ibu mengenalnya sebagai pribadi yang senang menyendiri.
Asyik dengan dirinya sendiri.
Acuh tapi tak benar-benar indeference.
Tapi ternyata seiring berjalannya waktu ibu baru mengetahui kelembutan hatinya.
Ternyata ia orang yang sangat menghargai persahabatan.

Ia seorang pribadi yang unik dengan keunikannya.
Ia cerdas dengan segala kekhasannya.
Dan mampu menangkap keistimewaan dalam ke-biasa-an.

Ia seorang yang pendiam.
Tak banyak berolah bicara.
Tapi dalam olah kata dan kalimat ia layaknya seorang guru bagi ibu.
Pena dan kertas adalah tempatnya melepaskan segala daya pikir dan rasa-nya
yang tak mampu ditampung oleh bicara.
Tulisan-tulisannya kadang membuat ibu tercengang.

Bagi ibu, ia tak hanya seorang teman,
ia juga adalah tempat ibu berkeluh kesah,
bertukar pikiran,
berbagi asa dan rasa.
Selalu dari berbincang dengannya lah ibu merasa kaya akan pengetahuan.
Bercerita dengannya lah ibu merasa memiliki tempat berbagi.
Keluarganya seperti keluarga ibu sendiri.
Ibunya seperti ibu kedua bagi ibu.
Rumahnya selayaknya rumah kedua ibu.
Tempat ibu melarikan diri dari kejenuhan,
kebingungan,
kebimbangan.
Terutama ketika masa-masa menulis skripsi yang tak kunjung kelar ketika itu.

Qaisha sayang...
Darinya lah ibu belajar menjadi manusia mandiri dan memiliki sikap sendiri.
Belajar menjadi pribadi seutuhnya.
Dan bekerja keras untuk mencapai yang kita mau dan cita-citakan.

Ketika tante Niken berhasil menamatkan S2-nya dengan predikat Cum Laude,
betapa bahagianya ibu mendengar kabar itu.
Ibu merasa terhormat bisa menemaninya dalam acara wisudanya di Balairung UI.
Ingin rasanya ibu mengumumkan pada orang-orang ketika melihat namanya terpampang di layar televisi sebagai salah satu dari 5 lulusan terbaik di Kajian Wanita UI tahun itu.
Ia memang sosok yang haus akan ilmu.
Contoh lah ia dalam ketekunan menimba ilmu.

Namun tak jarang kami harus terpisahkan jarak dalam sepanjang kami merajut pertemanan.
Ketika tante Niken memutuskan bekerja di perusahaan asing di luar jakarta,
surat-surat bertulis tanganlah yang mengabarkan bagaimana kondisi kami masing-masing.
Ketika ia memutuskan bekerja di LSM di sebuah kota kecintaan ibu untuk memuaskan rasa haus petualangannya,
surat-surat elektronik lah yang tetap setia bercerita akan kisah kami masing-masing.
Meski begitu,
ia selalu hadir pada masa-masa penting hidup ibu.
Di pernikahan ibu, ia adalah orang yang bisa ibu mintai tolong dalam keadaan mendesak.
Ketika kau lahir, ia pun segera terbang untuk melihat mu.
Ia bahkan punya panggilan khusus untuk mu.
Sabil.
Begitulah ia memanggil mu.

Qaisha sayang...
Jikalau kau sempat bertemu dengannya,
sayangilah ia selayaknya kau menyayangi ibu.
Hormatilah ia seperti engkau menghormati ibu mu.
Karna sering ketika ibu dalam kondisi terjepit dan bingung
ibu selalu dapat mengandalkannya.
Bagi ibu,
Niken Lestari is another name for friendship.

Teruntuk Niken Lestari.
Selamat Ulang Tahun.
Semoga Allah selalu melindungi mu, dan berkah Nya selalu menyertai mu.
Aminnnn.
Thank you for everything.

Kamis, April 10, 2008

Being 10 Month is...

Tawa Qaisha sekarang ini sudah dihiasi oleh empat gigi mungil yang lucu. Dua di atas dan dua di bawah. Gigi bawahnya yang tumbuh lebih dulu. Alhamdulillah tidak demam. Tapi satu gigi atas yang mau muncul ketika itu sempat membuat Qaisha demam. Banyak faktor sebenarnya yang bikin Qaisha sakit waktu itu, karena tak sekedar demam, sehari sebelumnya pun sempat diare. Tapi, Alhamdulillah, bisa dilewati dengan baik, meskipun kalo Qaisha sakit, devi pasti stressssss luarrrrr biasssaaa!!

Sekarang ini Qaisha lagi senang-senangnya merambat; belajar jalan sambil berpegangan pada tembok, jendela, bangku atau apapun yang terjangkau yang bisa membantunya bergerak. Selain itu keahlian merangkaknya juga semakin mahir. Ibaratnya ia adalah pembalap F1 yang tau-tau sudah mau sampai garis finish (dalam hal ini dapur) sebelum sempat saingannya (dalam hal ini ayah, ibu dan eyang) berpikir menginjak pedal gas.

Ia juga semakin mampu menunjukkan kemauannya sendiri. Jika ia ingin digendong ia akan membuka tangannya sambil menengadah memandang orang didepannya, jika ia tidak ingin diusik dari yang sedang dikerjakannya ia sudah bisa berteriak kesal, jika ia mau ke tempat tertentu ketika digendong ia akan memiringkan badannya ke arah yang dimaksud, jika ia merasa terganggu ia juga sudah bisa ngomel dengan bahasa yang tidak ada kamusnya.

Tangannya juga semakin lincah menunjuk-menunjuk sesuatu dengan jari mungilnya. Ia senang dengan foto atau gambar yang terpajang di dinding. Ia senang mencari-cari gambar yang ditanyakan kepadanya lalu menunjukkan foto atau gambar itu pada kami. Ia senang sekali dengan gaya mengangkat telpon dengan menaruh tangannya ke telinga lalu mengatakan "Oo.." (hallo - penj.) Ia akan segera bertepuk-tepuk tangan jika ada yang mengatakan "hore!!", dan akan terdiam jika terdengar adzan yang berkumandang di televisi. Ia akan mengikuti kami yang mengajarkan mengatakan Allahu Akbar semampunya, dan melanjutkan kalimat "Ciluuuk ba.." sambil memiringkan kapala kearah yang berlawanan dengan orang dihadapannya.

Mata sipitnya yang hilang ketika tertawa selalu menyertai permaianan kejar-kejaran kami sepulang kantor. Permainan yang mengusir rasa lelah devi dan ayah setelah jauh dari rumah sepanjang setengah hari....

Senin, Maret 31, 2008

@ Library@Senayan

Devi suka sekali suasana perpustakaan. Devi suka keheningannya yang berisi, suka dengan kekhusyuan masing-masing orang pada bukunya, suka dengan suara gesekan sepatu di karpet tebal lantai perpustakaan, suka dengan suara bisik-bisik yang sesekali terdengar. Tapi yang lebih devi sukai adalah kemampuan tempat itu memancing devi menulis segala unek-unek di kepala ke atas kertas yang biasanya sulit dilakukan.

Jumat (28/3) kemarin devi menyempatkan diri ke perpustakaan Depdiknas. Itu salah satu perpustakaan favorit devi. Tempatnya nyaman, ada kafenya, kegiatannya banyak, fasilitasnya beragam dan yang lebih menyenangkan lagi kalau devi cukup beruntung bisa ketemu dengan teman-teman kuliah dulu. Koleksinya kebanyakan hibahan dari perpustakaan British Council, dan sejak di bawah naungan departemen Pendidikan Nasional yang merekrut orang-orang muda untuk mengelolalnya, perpustakaan itu jadi lebih berkembang. Syukurlah. Perpustakaan yang nama bekennya library@Senayan itu bisa jadi contoh perpustakaan yang baik di Indonesia.

Kembali ke unek-unek. Berikut ini adalah beberapa corat-coret yang lahir selama satu jam lebih berada di perpustakaan Diknas. Tiga tulisan terpisah hasil unek-unek devi. Anggaplah ini sebagai sajian untuk ulang bulan Qaisha yang ke sepuluh yang jatuh tepat pada hari ini.

Khawatir...

Khawatir, sebenarnya. Ga tahu masa depan seperti apa, ga bisa ngebayangin dunia seperti apa. Qaisha kecilku yang akan beranjak dewasa, entah dunia seperti apa yang akan engkau hadapi nanti.
Que sera sera, jawab Doris Day. Whatever will be, will be. The future is not ours to see.
Melihat cara hidup sekarang hati ibu menjadi was-was. Memperhatikan bagaimana kaum Adam dan Hawa kini berinteraksi, ibu jadi gundah gulana. Akan kemana Qaishaku bergerak? Seperti apa Qaisha bertingkah laku nanti?
Duh Gusti, lindungi permata hatiku.
Ya Robbi, rengkuh ia selalu dalam pentunjuk-Mu.
Ia, Qaisha Fitria Sabilla, penolong ayah dan ibunya di kehidupan kemudian.

Di bawah jembatan Komdak...

Menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan. Tapi menunggu bisa menjadi salah satu saat untuk berkontemplasi dan berdamai dengan diri sendiri.
Kemarin menunggu ayah di bawah jembatan komdak. Tiba-tiba terlihat sosok seorang ibu muda yang menggendong bayinya. Dari caranya berpakaian, orang akan menebaknya sebagai jockey 3 in 1.
Si bayi seperti sedang menangis, sang ibu seperti sedang berusaha menenangkan. Ia tempelkan wajahnya ke wajah buah hatinya sambil terus berjalan. Dari bibirnya terdengar sayup-sayup suara menenangkan. "Shh....shh..sh..."
Pikiran ini langsung melayang ke Qaisha. Ingin rasanya menghilang dari jalan raya itu dan langsung berada di rumah untuk segera memeluk tubuhnya yang mungil.
Ingin menangis rasanya ketika devi teringat Qaisha yang minggu lalu demam tanpa sebab dan seharian berada di pelukan devi.
Wajahnya yang merasa damai ketika sedang menyusu pada dada devi melahirkan bening air di pojok mata ini ketika mengingatnya.
Ah, seandainya saja devi punya mesin yang bisa mengantarkan devi pulang dalam sekejap mata...

Love is....

"Ayah lagi di mana? Lagi ngapain? Vina lagi ngerjain PR mtmtk" Sebaris pesan pendek itu terukir di handphone Pak Heldy. Pengirimnya adalah putri bungsunya yang baru masuk SD.
Devi jadi teringat sms-sms cinta yang hampir setiap hari devi kirim untuk ayah di awal-awal pernikahan kami.
Ingin tahu apa yang sedang dikerjakaan oleh orang yang kita cintai adalah salah satu pernak-pernik keindahan cinta. Menyampaikan apa yang sedang kita rasakan pada orang yang kita sayangi adalah bagian dari take and give dalam bercinta. Dan di jaman serba singkat ini, sms menjadi sarana yang efektif untuk menunjukkan itu semua.
Ketika sms cinta itu sampai, rasanya hati ini bergetar, darah pun mendesir yang kemudian mengguratkan senyum pada bibir. Ah, rasanya melayang-layang...
Suatu ketika di layar handphone devi tertulis pesan ini : "Kamu tahu ga?" Ternyata ayah yang mengirim. "Tahu apa?" jawab devi yang bingung dengan sms yang tiba-tiba muncul itu. "Aku sayang kamu" jawab ayah pendek. Degh! Meriang rasanya badan ini. Laki-laki yang mempercayaiku menjadi pendampingnya dan ibu bagi anak-anaknya kelak menyatakan perasaannya yang suci. Indah sekali.
Namun baru devi sadari bahwa keindahan itu juga terjadi pada cinta tulus antara ayah dan putrinya. Cinta yang menggetarkan hati ternyata tidak hanya terjadi pada dua orang yang sedang di mabuk asmara. Tapi juga dalam laku sayang orang tua pada anaknya, dan anak pada orang tuanya.
"Vina sayang ayah" tulis putri temanku lagi. Singkat, namun berbaur antara lucu dan haru.
Hmmm... cinta itu indah. Sangat indah. Cinta yang tulus seperti embun pagi hari yang menetes dari pucuk daun. Damai, menyegarkan dan manis.

(Jumat, 28 Maret 2008; library@senayan)

Selasa, Maret 11, 2008

Ketika Devi Mengambil Cuti

Keinginan cuti itu tiba-tiba saja datang. Gara-garanya Qaisha mau imunisasi campak. Sejak awal dokternya udah wanti-wanti klo Qaisha harus bener-bener sehat untuk imunisasi ini. Dan bener saja, ternyata itu virus hidup. Sebenernya imunisasi ini ga ada efek samping panas seperti halnya DPT, tapi ya namanya dimasukin virus hidup, anak tentunya jadi lebih mudah terpapar penyakit lain. So planning awalnya mau observasi aja setelah imunisasi. Hidden agendanya adalah pada hari yang sama ada Islamic Book fair dari tanggal 1-9 Maret 2008. Jadilah devi memutuskan cuti 2 hari tanggal 4-5 Maret 2008.

Devi sudah memperkirakan kalau hari pertama book fair devi ga akan bisa pergi ke sana karena alasan imunisasi tadi. Hari kerja juga agak sulit karena klo ngambil jam istirahat ga bakal bisa lama, begitu juga klo pulang kantor amatlah impossible karena harus segera pulang ke rumah. So hari senin (4/3) itu devi lenggang kangkung ke book fair.

Alasan pergi ke book fair kali ini lebih karena ingin bernostalgila mengenang jaman kuliah dulu devi pasti menyempatkan pergi setiap ada acara book fair, baik yang skala nasional macam islamic bookfair, Jakarta bookfair, Indonesia Book fair sampai yang diselengarakan penerbit seperti Gramedia. Pergi ke sana pun ga pasti beli buku, tapi lebih sekedar untuk meng-update-kan diri dengan buku-buku terbaru khususnya buku anak. Makanya tak jarang pulang dari book fair itu dengan tangan kosong.

So hari senin itu devi pun ber-window shopping, eh stand shopping deh sekalian nyari-nyari buku kain untuk Qaisha. Sayangnya stand edutoys lebih sedikit dibanding book fair sebelumnya. Yang satu harganya malah lebih mahal dari harga di luar. Di book fair itu devi beli buku tentang kucing untuk Qaisha terbitan Mizan. Bukunya informatif tentang kucing tapi dibikin cerita yang menarik. Qaisha kan tiap malam sebelum tidur devi bacain buku tentang kucing judulnya Fat Cat, makanya sebagai tambahan pelajaran buat dia tentang kucing devi beliin buku itu.

Hari pertama cuti sukses juga nostalgianya. Ga banyak belanja tapi lumayanlah buat refreshing...hehehe..

Hari Selasa (5/3) devi jadi full time mother (Cat: ga full time house wife lho soalnya masih tetep ga berhubungan dengan masak-memasak..hehehe..).Tapi hari itu luar biasa banget deh! Karena hari itu eyang juga ada urusan di luar rumah praktis setengah hari itu devi cuma berdua aja sama Qaisha. Seneng sih bisa main berdua terus sama qaisha, tapi Qaisha sama sekali ga bisa ditinggal barang sejenak. Mengisutkan badan sebentar aja dia udah nangis. Apalagi hari itu devi canangkan jadi free diapers day (hari bebas popok) karena rencananya mau ngajarin tatur. Setiap hari Qaisha selalu pake pampers sama eyangnya biar eyang ga terlalu repot ngurusin BAB dan BAK Qaisha. Dan ternyata tanpa pampers itu bener-bener deh repot banget. Qaisha yang udah lincah merangkak ke mana-mana juga meninggalkan ompol di mana-mana. Lebih repot lagi karena Qaisha ga mau ditinggal sendiri. Devi ke kamar mandi buat ambil pel aja dia udah mendengarkan alunan mau nangisnya. Subhanallah yang mencanangkan kencing bayi sebagai najis ringan yang tinggal di perciki air saja sudah suci kembali. Ga kebayang klo masuk najis sedang apalagi berat.

Yang lebi seru pas mau hujan. Waktu mendungnya udah pekat banget devi udah bingung aja gimana mau ngangkatin jemuran. Klo Qaisha ditinggal pasti nangis, dibawa agak-agak repot juga. Lagi mau coba-coba gendong, tiba-tiba hujan keburu deras. Ga berpikir apa-apa lagi, langsung devi turunin Qaisha, tutup pintu rumah takut qaisha merangkak keluar, langsung deh ngangkatin jemuran yang setengah basah setengah kering. Balik ke rumah Qaisha kelimpungan nyari devi sambil nangis. Duh si neng, paling ga tega deh liat Qaisha nangis... hiks.

Secara keseluruhan devi menilai dari setengah hari itu bahwa ternyata devi ibu yang cukup amburadul. Gimana enggak? Qaisha malah lebih banyak nangis kenceng dibanding hari-hari biasa dengan eyang. Tapi devi kan punya senjata pamungkas: nenen. Hehehe... Jadilah seharian itu Qaisha mentil sepanjang hari.

Rencana pingin belajar tatur malah kelupaan. Kasian juga eyang yang sering ditinggal berdua aja sama Qaisha karena masih harus menyelesaikan segala macam urusan rumah tangga. Mudah-mudahan bisa ada rejeki lebih supaya bisa hire pembantu buat bantu eyang. Aminnn.

Selasa, Februari 26, 2008

Narsisme Seorang Ibu

Akhir bulan ini Qaisha udah memasuki usia 9 bulan. Setiap bertemu orang banyak yang selalu bertanya udah bisa apa Qaisha sekarang. Perlu waktu buat devi untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan itu yang biasanya merupakan pertanyaan sambil lalu, seperti ketika ketemu di lift atau di tengah jalan. Bukannya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sulit dijawab. Sebenernya tinggal ingat tadi malam Qaisha ngapain toh udah bisa menjawab pertanyaan itu. Tapiiii... it's more than that. It's MY daughter you asking! Ga bisa dong devi cuma kasih tahu oo.. qaisha sekarang udah mulai titah, dsb, dsb. Lebih dari itu, karna Qaisha sekarang udah bisa menempati satu ruangan tertentu di hati ini yang selalu mencuri hati, waktu, dan pikiran devi di setiap saatnya, Qaisha juga udah bisa menjamah rasa nyaman devi dengan meletakkan kepalanya di dada devi ketika ia merasa lelah, Qaisha pun sudah bisa merapuhkan kekerasan kepala devi dengan tangannya yang terbuka ketika ia merasa tidak nyaman dengan orang yang tidak dikenalnya, bahkan Qaisha juga sudah bisa melelehkan kebekuan jiwa devi dengan attaataa aawawawa apappaapa-nya yang hanya dimengerti oleh Tuhan dan dia sendiri. Luar biasa!

Benar Qaisha sekarang udah mulai belajar titah, ga salah juga klo devi cerita klo sejak usia 7 bulan Qaisha udah mulai bertepuk-tepuk tangan, dan tak bisa dipungkiri klo kepandaiannya merangkak justru didahului oleh keinginannya untuk berdiri setelah bisa merayap. Tapi itu semua belum sebanding dengan peluh eyang yang tak bisa memincingkan mata barang sebentar ketika tiba-tiba qaisha menghilang dan muncul dibawah kursi, atau keringat heran ayah yang tiba-tiba menemukan qaisha berusaha meraih keramik diatas tumpukkan kado-kado, juga jeritan devi yang sekarang sering terdengar tiba-tiba ketika menyusui Qaisha yang gatal dengan gigi barunya, atau kegemesan pak de dengan celotehnya yang tiada habis.

So, kalo ada orang yang bertanya sudah bisa apa Qaisha sekarang seharusnya dia bersedia menyisihkan waktunya at least setengah jam untuk mendengar sederetan pencapaian Qaisha. Because it's MY daughter you asking.

It's More Than Just Telling a Story

Setelah sekian lama vakum dari semua rapat-rapat KPBA dan sempat dua kali mangkir dari tugas dongeng di RSCM, akhirnya hari Sabtu kemarin (23/2) devi kembali ke rumah sakit itu untuk dongeng. Waktu dikasih tahu jadwal dongeng itu sempat terbesit di kepala apakah masih ada cerita yang devi hapal setelah sekian lama absen? Apalagi sekarang KPBA sudah menentukan judul cerita yang dibawakan. Satu sisi kita yang bertugas jadi ga bingung lagi nyiapin cerita, tapi disisi lain untuk orang yang udah lama vakum kayak devi agak-agak bikin deg-degan juga. Tapi emang dasarnya devi udah kangen banget dongeng ya sudah akhirnya dengan mengumpulkan tekad dan membulatkan niat berangkatlah devi ke RSCM. Syukurnya hari itu Qaisha bangun lebih pagi, jadi devi bisa kasih sarapan dan mandiin Qaisha dulu sebelum berangkat biar eyang ga terlalu repot seperti hari-hari kalo devi berangkat ke kantor.

Setelah sempat mengalami ban kempes dan nyasar, akhirnya sampai juga di RSCM meskipun agak-agak telat. Rani dan Chacha yang jadi partner devi dongeng hari itu sudah sampai duluan dan udah naik ke atas. Rupanya hari itu pasien kamar IRNA kelas 3 lebih banyak diisi oleh bayi sehingga Rani dan Chacha memutuskan untuk dongeng per bed.

Bingung juga awalnya devi mau mulai dari anak yang mana. Tapi mata ini tiba-tiba tertuju pada satu tempat tidur yang didiami oleh seorang bayi mungil. Sebenernya devi ga tahu mau bawain cerita apa untuk bayi karena devi ga bawa buku atau alat dongeng untuk anak di bawah usia satu tahun. Akhirnya devi dekati juga tempat tidur itu karena rasa penasaran dan insting seorang ibu yang juga punya bayi mungil di rumah. Devi cuma ajak ngobrol orang tua bayi itu yang kemudian devi ketahui bernama Rachel. Devi memang ga ada niat untuk mendongeng melihat selang infus yang ada dihidungnya membuat Rachel cuma bisa tertidur saja. Meskipun usianya 6 bulan tapi berat badannya hanya 3,6kg. Dari cerita orang tuanya jantung Rachel bocor, tapi karena BB-nya rendah belum bisa dioperasi. Hari itu rencananya akan dibawa pulang menunggu berat badannya naik. Tapi sayangnya Rachel sejak usia 4 bulan sudah menolak ASI. Devi pikir mungkin Rachel mengalami bingung puting. Namun meskipun kondisinya seperti itu wajahnya terlihat segar, pipinya gemuk dan matanya cerah. Duh Gusti, mudah-mudah Rachel bisa sembuh ya, biar bisa main sama mama-papanya, bisa tumbuh sehat seperti anak-anak yang lain.

Devi jadi inget Qaisha. Syukur luar biasa Qaisha sehat wal afiat. Mudah-mudahan selalu begitu. Minggu lalu waktu Qaisha batuk pilek aja devi sedih banget. Klo sampe Qaisha kenapa-kenapa, duh ga tahu deh devi kayak apa.

Beranjak dari Rachel, devi melempar pandangan ke sekeliling ruangan. Ada anak yang lagi makan dan banyak yang sedang tidur. Namun akhirnya devi bertemu dengan Siti Chaya Rani (nama belakangnya devi agak-agak lupa) yang tempat tidurnya berada dekat pintu masuk. Usianya 10 tahun tapi devi ga tahu dia sakit apa. Karena dia sudah lebih besar devi pikir dia pasti udah bisa baca, makanya devi tanya dulu apa dia mau baca buku sendiri atau mau mendengarkan devi dongeng. Ternyata dia milih dibacain aja karna mulutnya lagi sakit katanya. Waktu itu buku yang devi bawakan adalah Conejito, buku karya Margaret Read MacDonald (my fave storyteller!) yang dibeberapa bagiannya berbahasa Spanyol meskipun buku itu dalam bahasa Inggris. Ya sudah sekalian saja ngajarin bahasa asing ke Cahya, pikir devi, berhubung dia sudah besar. Karena dia sudah bisa baca devi biarkan dia membaca teksnya yang memang sengaja devi tunjuk-tunjuk. Kadang devi juga menggunakan bahasa Inggris di beberapa bagian dan bukan bahasa Indonesia. Hasilnya Cahya cukup tertarik dan mau mengikuti jika devi minta mengulang satu dua kata yang berbahasa Spanyol. Di akhir cerita devi tutup dengan mengulang beberapa kata Spanyol dan artinya. Cahya pun berhasil menghapal kata-kata : Gordito untuk gemuk, Falquito untuk kurus, bahkan 3 bianatang dalam cerita itu dengan bahasa Inggris dan Spanyol meskipun harus melirik ke gambarnya dulu. Tentu saja tak lupa devi kasih puji-pijian jika dia berhasil mengingat satu kata. Duh senangnya hati ini melihat Cahya tersenyum. Ayah cahya yang sedang menunggui cahya di samping tempat tidur pun ikut tersenyum melihat anaknya tersenyum.

Sebagai tambahan cerita devi bawakan cerita Tiga Permintaan yang memang merupakan cerita yang sudah dijadwalkan untuk hari itu. Cerita ini menggunakan kertas lipat (kertas origami) sebagai media cerita, maka pada akhir cerita devi ajarkan juga Cahya membuat angsa dari cerita tersebut. Tangannya yang tertancap infus dengan perlahan mengikuti devi melipat-lipat kertas. Kaku memang, tapi Cahya cukup telaten sampai akhirnya ia berhasil membuat origami angsa berwarna coklat. Harapan devi angsa tersebut bisa sedikit menghiburnya, well at least for that day.

Jujur devi lebih senang mendongeng per bed klo dapet tugas mendongeng di RSCM dari pada dikumpulkan di tengah ruangan. Karna devi bisa mengenal secara pribadi dari yang devi dongengi. Rasanya dongeng sebagai salah satu bentuk bibliotherapy lebih mengena ketika kita bisa memberi sedikit personal touch.

Hmmm…. tapi dari kesemuanya devi jadi bercermin pada diri sendiri. Bahwa ternyata devi punya banyak sekali yang harus devi syukuri. Kesehatan memang nikmat yang luar biasa. Qaisha yang bisa tumbuh sehat dan lincah serta memiliki senyum yang indah itu merupakan harta yang tak ternilai harganya.

Neng Qaisha, tetep tumbuh jadi anak yang sehat ya, neng….